PANDEMI, RATUSAN PASUTRI DI KARANGASEM BERCERAI

PANDEMI, RATUSAN PASUTRI DI KARANGASEM BERCERAI
Ni Nyoman Suparni

Amlapura, DENPOST.id

Pandemi Covid-19  nampaknya tak hanya berimbas pada sektor kesehatan dan ekonomi. Di Karangasem keutuhan rumah tangga juga ikut terdampak Covid-19. Kelompok Peduli Perempuan dan Anak (KPPA) di Karangasem mencatat, sejak awal tahun 2021 ada 100 pasangan suami istri (pasutri) yang bercerai. Angka tersebut belum termasuk perceraian yang tak ditangani KPPA. Jumlah tersebut meningkat 40 persen dari sebelum pandemi.

Hal tersebut di ungkapkan pengurus Organisasi Bantuan Hukum KPPA Bali di Karangasem, Ni Nyoman Suparni. Diwawancarai pada Rabu (28/7/2021), Suparni mengungkapkan, alasan pasangan berpisah hampir seluruhnya karena ekonomi. “Berbeda dengan alasan perceraian sebelum pandemi. Biasanya karena tidak ada kecocokan atau suatu hal. Namun pandemi ini hampir seluruhnya karena  ekonomi. Sang suami tidak memiliki pekerjaan atau sulit mendapat uang, sehingga istri menggugat cerai dengan alasan tidak mendapat nafkah maksimal,” jelasnya.

Baca juga :  Masuk Pantai Bias Tugel Lewat Jalan Pintas, Sejoli terperosok ke Tebing

Dari kasus yang ia tangani, yang mengajukan gugatan dominan istri. “Bahkan ada pernikahannya baru berusia 6 bulan sudah cerai. Biasanya jika sebelum pandemi saya penanganan kasus perceraian rata-rata di usia pernikahan 5 tahun ke atas. Namun di situasi pandemi ini berbeda,” ujarnya.

Selain ekonomi, faktor penggunaan media sosial juga menjadi salah satu dampak perceraian. Banyak orang ketiga muncul dari interaksi di media sosial. “Ada yang sedang bermasalah dengan suaminya. Bertemu seseorang yang menjanjikan lebih lewat medsos, lalu akhirnya bercerai. Jadi penggunaan medsos ini juga berdampak,” ucap perempuan yang berprofesi sebagai pengacaran ini.

Baca juga :  Bupati Karangasem akan Longgarkan Jam Operasional Pasar

Namanya perceraian, lanjut Suparni, pasti akan membawa dampak pada pihak-pihak lain seperti anak. Bahkan, pihaknya kini tengah merawat  8 anak korban perceraian yang orangtuanya belum bisa memberi nafkah. “Suami kesulitan mencari pekerjaan karena situasi pandemi. Sedangkan ibunya sebelumnya tidak memiliki pekerjaan. Karenanya kami rawat sementara sampai ibunya mendapat pekerjaan dan kembali diterima di keluarga asal,” papar wanita asal Singaraja ini. Dia berharap pandemi segera berlalu, sehingga tak ada lagi pasutri yang bercerai karena desakan ekonomi. (yun)

Baca juga :  Omzet Turun, Ribuan UMKM di Klungkung Terancam Gulung Tikar  

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini