Setelah Jembatan Tukad Sabuh, Warga Harapkan Perbaikan Jalan Penghubung

Setelah Jembatan Tukad Sabuh, Warga Harapkan Perbaikan Jalan Penghubung
JEMBATAN - Jembatan Tukad Sabuh yang telah terbangun dan dilalui sejak 27 Juli lalu.

Amlapura, DENPOST.id

Putus diterjang lahar dingin Gunung Agung sejak 2017 lalu, jembatan Tukad Sabuh di Desa Adat Bukit Galah, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem akhirnya kembali terbangun. Lewat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), jembatan dengan panjang 15 meter dan lebar 5 meter rampung dan dapat dioperasikan sejak 27 Juli lalu.

Akses masyarakat Bukit Galah menuju Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem ini amat berarti karena mayoritas masyarakat bersekolah, menjual hasil pertanian dan evakuasi saat bencana Gunung Agung ke Kecamatan Bebandem. Bendesa Adat Bukit Galah, Putu Suyasa mengucapkan terima kasih kepada TNI dan segenap instansi yang mendukung.  Namun di tengah kegembiraannya, masih ada harapan jalan penghubung jembatan di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem yang masih kondisi tanah, dapat diperbaiki.

Baca juga :  Pengelola Tirta Gangga Minta QR Code Cepat Diselesaikan

“Itu yang menjadi masalah, akses dari Desa Jungutan masih jalan tanah dengan kerikil lepas. Kalau akses dari Sebudi sudah kita rambat beton, ” ungkap Suyasa, saat diwawancarai beberapa waktu lalu. Terkait hal tersebut ia tak dapat berbuat banyak, sebab perbedaan wilayah membuat ia kesulitan bila mengusulkan. Padahal jalan tersebut salah satu jalan yang pasti dilalui  ribuan kepala keluarga di Desa Adat Bukit Galah. Saat kondisi hujan, seringkali warga waswas melintas. Pihaknya berharap, pemerintah daerah dapat menindaklanjuti, sebab ribuan warga sangat bergantung pada jalan tersebut.

Tak hanya perihal jalan penghubung, penerangan di kawasan jalan menuju jembatan juga sangat terbatas. Kondisi ini menyebabkan rentan terjadi kecelakaan khususnya pada malam hari. “Penerangan jalan memang sama sekali belum ada, ” imbuh Suyasa.

Baca juga :  Pidato Pertama Dana-Dipa, Utarakan Program PAUD Berbahasa Bali

Kendati demikian pihaknya tetap bersyukur. Sebab, selepas rusak pada tahuan 2017 silam, warga hanya mengandalkan jembatan darurat yang pasti akan rusak saat di terjang banjar lahar dingin Gunung Agung. Apalagi hingga kini status Gunung Agung masih waspada level II, sementara Bukit Galah ada di KRB 3 dengan jarak 4 kilometer dari puncak Gunung Agung, sehingga membuat warga masih waswas. “Kini sudah terbangun jembatan. Kami merasa lebih aman. Tidak perlu memutar jauh untuk mengungsi seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. (yun)

Baca juga :  Pemkab Karangasem Awasi PTM Tiap Hari

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini