Mahasiswa Protes PPKM di Depan Kantor Gubernur

Mahasiswa Protes PPKM di Depan Kantor Gubernur
UNJUK RASA - Sejumlah mahasiswa unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Bali di Denpasar, Senin (23/8/2021). (DenPost.id/ist)

Renon, DenPost.id

Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Bali memprotes PPKM dengan menggelar unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Bali di Jl. Basuki Rahmat No.1, Sumerta Kelod, Denpasar Timur, Senin (23/8/2021). Demo ini dikawal ketat  polisi.

Sejumlah mahasiswa membentangkan spanduk dan papan tripleks yang bertuliskan “Gedung Ini Dijual untuk Modal Bantu Rakyat”. Secara simbolik, mereka menganggap Kantor Gubernur Bali adalah rumah rakyat Bali. Selain itu, para mahasiswa memasang bendera putih di gerbang depan Kantor Gubernur.

Orator dalam aksi ini, Kiki Syah, mengatakan bahwa kebijakan PPKM yang diterapkan pemerintah selama ini sangat menyulitkan masyarakat. Apalagi negara dan pemerintah tidak pernah menjamin kebutuhan pokok masyarakat selama PPKM yang berjilid-jilid tersebut. “Saat ini rakyat lelah dan harus bergerak di tengah keterbatasan. Konsistensi atas ketidakjelasan kebijakan pemerintah membuat pedagang serta sektor rentan lainnya kehilangan penghasilan,” tegasnya.

Menurut Kiki Syah, dalam membuat kebijakan, pemerintah melupakan amanat Undang-undang Kekarantinaan Kesehatan berkaitan dengan kewajiban negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat bila dalam keadaan darurat kesehatan. Dapur umum, bantuan antarwarga dan segala bentuk solidaritas, merupakan kritik terhadap pemerintah yang abai mengenai regulasi.

Baca juga :  Pasien Sembuh Covid-19 di Denpasar Merangkak Naik

Bali, menurut Kiki Syah, menjadi provinsi yang paling terdampak akibat pandemi ini. Bila dihitung, hampir 80% masyarakat Bali menggantungkan hidup melalui sektor pariwisata. Hasil penelitian lainnya yang dikeluarkan Management Project and Comprehensive Tourism Development Plan for Bali menyatakan bahwa pariwisata menjadi generator penggerak pembangunan Pulau Dewata.

Namun,sejak tahun 2020 lalu pariwisata Bali mengalami kelumpuhan yang berakibat pada sektor-sektor lain. Salah satu yang paling terkontraksi cukup parah yakni sektor perekonomian. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, mulai dari mewacanakan kebijakan zona hijau hingga work from Bali (WFB) dengan harapan memulihkan sektor pariwisata secara perlahan. Tapi berbagai wacana tersebut berakhir sebatas janji manis untuk memenangkan hati masyarakat. “Semakin meluasnya covid-19 di Bali disebabkan  tenaga tracing dan mekanismenya yang kurang maksimal, baik di desa maupun puskesmas. Padahal tracing kontak menjadi penting guna mendeteksi covid-19 agar tidak semakin menyebar dan meluas. Tenaga tracing perlu diperbanyak agar data kasus covid-19 akurat sehingga mendapat tindak lanjut yang tepat. Selain itu, mayoritas tracing hanya berpusat pada kontak domestik (keluarga pasien positif covid-19 yang tinggal serumah),” tandas Kiki Syah. (yan)

Baca juga :  Tiga Anak-anak di Denpasar Terpapar Covid-19 dari Ibunya

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini