Kerobokan Bangun Krematorium Berbasis Desa Adat

picsart 08 26 06.44.03
KREMATORIUM - Desa Adat Kerobokan, membanguan fasilitas krematorium berbasis desa adat di Setra Tamiu, desa adat setempat.

Mangupura, DENPOST.id

Wacana Desa Adat Kerobokan untuk membangun tempat kremasi bagi umat Hindu yang membutuhkan, benar-benar dilaksankan pihak desa adat setempat. Kremasi yang berbasis desa adat ini sudah dalam tahap pembangunan dan nantinya langsung dikelola pihak Desa Adat Kerobokan.

Pembangunan kremasi yang sumber dana swadaya pihak Desa Adat Kerobokan, rencananya ditarget selesai tahun 2022. Anggaran pembanguan tersebut, diprediksi mencapai Rp3 miliar lebih .

Bendesa Adat Kerobokan, AA Putu Sutarja, mengatakan untuk kremasi Desa Adat Kerobokan saat ini sudah mulai berproses untuk pengerjaan bangunan. “Ya, sekarang baru proses pengerjaan bangunan dan untuk alatnya masih dipesan dulu. Targetnya nanti tahun 2022 sudah selesai,” ujar Sutarja, Kamis (26/8/2021).

Lebih lanjut Sutarja yang juga Ketua Majelis Desa Adat Kabupaten Badung ini juga mengatakan tempat kremasi berlokasi di Setra Tamiu (kuburan untuk krama pendatang ) Desa Adat Kerobokan dengan luas sekitar 10 are. Selain itu juga ada lahan pendukung untuk ritual ngaben di sebelah timur untuk melangsungkan ritual mamukur.

Baca juga :  Akhirnya, Badung Pun "Rumahkan" Siswa

“Kremasi nanti dikelola oleh Prajuru Pura Dalem di bawah naungan Desa Adat Kerobokan,” terangnya.

Lebih lanjut, kremasi ini diperuntukkan kepada warga setempat. Kalau misalnya ada orang luar Desa Adat Kerobokan dan beragama Hindu ingin mengikuti kremasi tentu mereka harus menyesuaikan dengan Awig-awig (aturan) desa adat setempat. Kalau misalnya mereka tidak mau menyesuaikan, tentu tidak bisa mengikuti kremasi tersebut. “Nanti bagi yang ingin mengikuti kremasi mereka bisa tinggal dipilih upacara yang utama, madya atau alit. Intinya dresta tidak hilang, tujuan pertama untuk mempercepat proses pengembalian panca maha butha, ada dresta yang harus diikuti seperti hari-hari di desa adat tersebut yang tidak boleh melakukan kremasi itu mesti diikuti oleh krama yang ingin menggunakan fasilitas kremasi Desa Adat Kerobokan ini, ” ungkapnya.

Baca juga :  Giriasa Menang 98 Persen di Kandang Golkar

Selain itu, keberadaan kremasi ini juga untuk meringankan beban masyarakat dalam melangsungkan ritual ngaben. Sebab, belakangan ini ritual ngaben masih terkesan berat di masyarakat. “Kita berharap keberadaan kremasi ini juga untuk meringankan beban umat kita,” tutur bendesa yang sudah dua kali menjabat tersebut. (115)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini