Teliti Novel Indonesia, Mantan Wartawan Denpost Raih Gelar Doktor

picsart 08 26 10.52.05
PROMOSI DOKTOR - I Made Sujaya, saat sidang promosi doktor di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, yang digelar secara luring dan daring, Kamis (26/8/2021).

Denpasar, DENPOST.id

Mantan wartawan dan redaktur budaya Harian Umum Denpost, yang kini menjadi Dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI), I Made Sujaya, Kamis (26/8/2021) resmi menyandang gelar doktor dalam bidang ilmu linguistik konsentrasi wacana sastra. Sujaya berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Harmoni dan Disharmoni: Representasi Hubungan Antaretnis dan Antaragama di Bali dalam Novel Indonesia”, dalam sidang promosi doktor di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, yang digelar secara luring dan daring.

Sujaya meneliti representasi hubungan antaretnis dan antaragama di Bali dalam novel-novel Indonesia dalam rentang waktu 1930-an hingga 2010-an. Ada 26 novel yang ditemukan, tetapi hanya dianalisis 14 novel. Empat novel terbit pada periode kolonial, lima novel terbit pada periode pascakemerdekaan, dan lima novel terbit pada periode pascareformasi. Novel-novel itu, ditulis pengarang berlatar belakang etnis Bali maupun bukan etnis Bali.

Hasil penelitian Sujaya, menunjukkan adanya pergeseran dalam hal genre, tema, penokohan dan struktur naratif. Pada periode kolonial, genre novel percintaan atau perkawinan begitu mendominasi dengan akhir cerita yang bahagia (happy ending), serta hubungan antaretnis dan antaragama cenderung digambarkan berlangsung harmonis. Penokohan juga menunjukkan kecenderungan tokoh-tokoh etnis Bali digambarkan sebagai perempuan dengan citra eksotis, sedangkan tokoh-tokoh nonetnis Bali umumnya laki-laki dan pendatang.

Pada periode pascakemerdekaan, genre novel percintaan masih mendominasi. Penokohan tokoh orang Bali dan nonetnis Bali lebih bervariasi, serta akhir cerita tidak lagi semata-mata happy ending. Hubungan antaretnis dan antaragama di Bali digambarkan lebih dinamis. Pada periode pascareformasi, muncul genre novel persahabatan atau perkawanan selain novel percintaan atau perkawinan. Penokohan orang Bali dan nonetnis Bali lebih dinamis, realis, bahkan problematis.

Baca juga :  Operasi Penyekatan di Gianyar Dilakukan Hingga Larut Malam

Hubungan antaretnis dan antaragama juga digambarkan secara dinamis antara harmonis dan disharmonis. Pergeseran representasi itu, erat kaitannya dengan konteks sosial historis, terutama wacana dominan yang melingkupinya.

Menurut Sujaya, novel-novel Indonesia yang merepresentasikan hubungan antaretnis dan antaragama di Bali, menunjukkan kecenderungan berciri novel etnografis, khususnya dari sisi pengarangnya yang 85% berlatar belakang etnis Bali. “Ini menunjukkan bahwa Bali selalu memikat sebagai sumber inspirasi bagi sastrawan Indonesia, termasuk dalam wacana hubungan antaretnis dan antaragama atau multikulturalisme,” terang putra pasangan I Nyoman Polih dan Ni Nyoman Tirta ini.

Baca juga :  Satu Perawat RS Swasta di Denpasar Positif Covid-19

Novel-novel Indonesia yang merepresentasikan hubungan antaretnis dan antaragama di Bali, imbuh Sujaya, juga mengkonstruksi identitas budaya Bali yang dinamis dan kompleks. Kompleksitas identitas budaya Bali yang kompleks itu, ditandai oleh penggambaran genealogi orang Bali yang campuran, sehingga sulit mencari otentitas, identitas keagamaan yang jamak, serta dialektika antara identitas menjadi Bali, menjadi Indonesia, dan menjadi warga dunia.

“Fakta literer itu, menunjukkan bahwa dalam novel-novel Indonesia, identitas budaya Bali dikonstruksi sebagai identitas budaya yang polifonik. Ada banyak suara dan perspektif, terkadang bersilangan, tetapi padu sebagai suatu harmoni. Serupa dengan pancasuara atau lima suara dalam upacara besar di Bali atau ciri khas lukisan tradisional Bali yang kanvasnya padat dengan perspektif yang tidak tunggal,” paparnya, dalam sidang ujian promosi doktor yang dipimpin Dekan FIB Unud, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum.

Baca juga :  Lomba Layang-layang Berlangsung di Dunia Maya, Wagub Sarankan Ini

Promotor, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., menjelaskan disertasi Sujaya bermakna penting dari sisi studi kritik sastra maupun baliologi. Dikatakannya, disertasi Sujaya memperkaya kajian terhadap sastra Indonesia berlatar Bali, atau mengangkat dinamika kebudayaan Bali. “Bali adalah sebuah pulau kecil tetapi banyak ditulis atau dikaji oleh para penulis dari berbagai belahan dunia,” kata guru besar bidang sastra di FIB Unud ini.

Selain dibimbing promotor Prof. Darma Putra, dalam penyusunan disertasi Sujaya juga dibimbing Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., sebagai kopromotor I, Dr. I Ketut Sudewa, M.Hum selaku kopromotor II, serta para penguji yang terdiri dari Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S.; Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A.; Prof. Dr. IB Putera Manuaba, M.Hum.; Dr. IGAA Mas Triadnyani, S.S., M.Hum., dan Dr. Maria Matildis Banda, M.S.

Sidang promosi doktor menyatakan menerima disertasi Sujaya, serta dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Sujaya sendiri menjadi doktor ke-196 di Prodi Linguistik Program Doktor, serta doktor ke-147 di FIB Unud. (tim dp)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini