Terancam 6 Tahun Penjara, 22 Warga NTB Jadi Tersangka Pemalsu Sertifikat Vaksinasi

picsart 08 30 06.55.49
PEMALSU SERTIFIKAT - Lima dari 22 tersangka pemalsu sertifikat vaksinasi Covid-19, asal Lombok.

Amlapura, DENPOST.id

Kasus pemalsuan dokumen sertifikat vaksin yang melibatkan Anak Buah Kapal (ABK) ikan asal Lombok Timur, NTB terus bergulir. Pada, Senin (30/8/2021), jajaran Polres Karangasem resmi merilis 22 tersangka dalam kasus ini.

Seluruhnya berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Perannya, di antaranya 18 pengguna jasa yang merupakan ABK, serta empat pembuatan dan pencetus pemalsuan surat. Dilakukan interogasi, satu buah sertifikat vaksinasi dihargai Rp200 ribu. Berniat dapat pulang lebih cepat tanpa harus melakukan vaksinasi, para tersangka ABK pengguna surat palsu harus menahan rindu, sebab atas perbuatannya terancam hukuman 6 tahun penjara.

Baca juga :  Mulai 27 Maret, Pasar Badung Terapkan Sistem Belanja Online

Kapolres Karangasem, AKBP Ricko Taruna menuturkan dari 22 tersangka, lima di antaranya yang memiliki peran dalam pembuatan dokumen palsu dihadirkan dalam rilis. Mereka, yakni Iyan (45) sebagai inisiator pembuat surat vaksinasi palsu, Syarif Hidayat (29) sebagai perantara pertama yang juga beperan membagikan surat palsu kepada ABK, Yus Rusmana (45) tersangka yang datang ke percetakan dan memberikan surat asli untuk disalin atas nama para ABK, Abdul Hafif (29) pencetak dan pengedit, serta Jumadil salah satu ABK pengguna suket palsu yang juga pengumpul data KTP rekannya.

“Mereka merencanakan membuat pada, 23 Agustus 2021, membawa ke Bali pada 26 Agustus, dan membagikan kepada para ABK di dalam bus, ” ujarnya.

Baca juga :  Bali Juara Umum Criket PON Papua

Dokumen palsu dibuat di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelumnya, saat ingin membuat dokumen palsu Iyan menghubungi Syarif Hidayat. Lalu Syarif menghubungi Yus Rusmana. Dengan membawa sebuah sertifikat asli, ia datang ke percetakan milik Abdul Hafif untuk mengedit dan menyerahkan fotocopy KTP seluruh ABK yang didapat dari Jumadil. “Menggunakan aplikasi photoshop, tersangka mengganti identitas di kartu asli satu persatu dengan nama para ABK,” imbuhnya.

Baca juga :  Siswa SPN Belajar Implementasi Nilai Kebangsaan ke PCNU Buleleng

Dari hasil perbuatannya, seluruh tersangka dijerat pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP Jo, pasal 55 KUHP tentang dugaan tindak pidana pemalsuan surat dengan ancaman 6 tahun penjara. “Saya sangat sayangkan. Padahal vaksinasi itu gratis dan juga sudah banyak tersedia di mana-mana. Semoga kejadian seperti ini tak terulang lagi, ” harap Ricko.

Sementara salah satu tersangka
merupakan tenaga kesehatan yang berperan mengedukasi, tak berlaku bagi tersangka Abdul Hafif (29). Berperan sebagai pengedit dan pencetak tak disangka ia merupakan salah satu tenaga kesehatan honorer di salah satu puskesmas di wilayah Labuah Lombok. (yun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini