Harga Telur Anjlok, Pakan Meroket, Peternak Merugi

Harga Telur Anjlok, Pakan Meroket, Peternak Merugi
PETERNAK - Salah satu peternakan ayam petelur di Karangasem.

Amlapura, DENPOST.id

Peternak ayam petelur di Kabupaten Karangasem kini kelimpungan. Pasalnya harga telur terus merosot anjlok. Kondisi ini tak sebanding dengan harga pakan jagung yang terus merangkak naik. Kondisi harga jual telur saat ini jadi yang teranjlok selama 10 tahun terakhir.

Hal tersebut diungkapkan salah satu peternak asal Desa Pesedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem, I Nyoman Semadi. “Bahkan dalam 10 tahun terakhir belum pernah telur dengan harga terendah sampai Rp 14.400 per kilogramnya,” ungkap Semadi yang juga sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)  Karangasem dari fraksi Golkar ini.

Anjloknya harga telur tak sebanding dengan meroketnya harga pakan khususnya jagung. Dari semula Rp 4 ribu per kilogramnya kini menjadi Rp 6.000 lebih. Keadaan ini disinyalir karena disetopnya impor jagung, sehingga hanya mengandalkan jagung lokal Indonesia.

Semadi mengatakan, jika harga sesuai dengan Break Event Point (BEP) atau hitungan balik modal, idealnya harga telur terendah Rp 19.500 per kilogramnya. Menurutnya, kini peternak sama sekali tak dapat untung, bahkan merugi biaya operasional. “Dalam sekilo saja sudah rugi Rp 5.000. Per hari saya bisa kirim 10 ton telur, bisa dihitung berapa harus saya menutup kerugian,” ujarnya.

Baca juga :  Warga Sakit Pulang Umroh Dinyatakan Flu Biasa

Selain karena penghentian impor jagung, merosotnya harga telur juga diduga akibat terdampak PPKM. Sebab, sebelumnya hampir 50 persen pasokan telur disuplai ke hotel dan rumah makan. “Khususnya para peternak yang selama ini mengandalkan pemasaran di dalam pulau.  Tak hanya merugi, menjual pun sulit,” keluhnya.

Terkait kapasitasnya sebagai anggota DPRD Karangasem, ia telah mencoba melakukan koordinasi kepada DPR RI untuk mendesak pemerintah mengevaluasi harga pakan jagung yang dinilai tak wajar. “Saya sudah sempat komunikasi dengan DPR RI lewat chat WhatsApp menyampaikan realita harga jagung yang sangat tinggi, kosentrat pabrikan juga naik,” katanya.

Baca juga :  Di Karangasem, Harga Cabai Tembus Rp 100 Ribu

Pihaknya amat menyayangkan sikap pemerintah yang tak segera mengambil tindakan. “Dulu saat harga telur beranjak naik, pemerintah cepat-cepat menstabilkan harga dengan operasi pasar. Tapi saat ini pemerintah diam dengan kondisi harga yang sangat anjlok,” sentilnya.  Jika kondisi ini terus dibiarkan, lanjutnya, tak lama lagi banyak peternak yang akan gulung tikar karena tak mampu menanggung biaya operasional. Apalagi banyak peternak yang masih bergantung modal dengan pinjaman bank.

Baca juga :  Tak Terpengaruh Isu ASF, Peternak Babi di Klungkung Justru Keluhkan Ini

Tak hanya berdampak pada peternak, banyak pihak yang akan berdampak saat peternak gulung tikar. Di antaranya tenaga dokter hewan, farm manager, toko unggas dan para pekerjaan di kandang peternakan. “Kalau ini dibiarkan menambah parah terpuruknya perekonomian rakyat.  Saya berharap pemerintah daerah juga sigap menyikapi situasi seperti ini, ikut menyampaikan ke Pemerintah Pusat,” pungkasnya. (yun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini