Pedagang di Pantai Kuta, Penghasilan Seret, Berharap Buka Pariwisata Internasional

TUNGGU WISATAWAN - Jro Dadi bersama barang dagangannya saat menunggu kedatangan wisatawan berkunjung ke Pantai Kuta. Namun sayang, pantai ini tetap sepi sebab belum ada turis yang datang. (DenPost.id/doflank)

Daya Tarik wisata (DWT) Pantai Kuta, selama ini tak hanya menghidupi warga setempat, namun juga para pendatang, khususnya rakyat jelata. Mereka mampu menghidupi keluarga dengan banyak cara, di antaranya jadi tukang pijat, tukang ikat rambut, pengecat kuku (kutek), jualan cenderamata maupun jualan makanan dan minuman. Sebelum pandemi covid-19 melanda dunia, Pantai Kuta bagaikan surga bagi mereka yang pandai memanfaat peluang.

SALAH seorang pedagang kecil yang selama pandemi covid-19 tidak bisa jualan adalah Jro Dadi. Wanita asal Kintamani, Bangli, ini sudah 35 tahun mengadu nasib di kampung turis. Sebelum pandemi, Jro Dadi menjual asesoris seperti gelang dan kalung. Tak hanya itu. Dia juga ahli mengepang atau menjalin rambut turis agar kelihatan nyentrik.

Saat ditemui di Pantai Kuta, Jumat (10/9/2021), Jro Dadi bercengkerama dengan rekannya sesama pedagang sambil melepas kangen karena nyaris 1,6 tahun mereka bisa tak jualan akibat penerapan PPKM. ‘’Beginilah Pantai Kuta setelah dilakukan uji coba pembukaan DTW. Masih sangat sepi,’’ ujar wanita berusia 55 tahun ini.

Baca juga :  Dinas Pertanian Badung Awasi Mapatung LPD Kedonganan

Jro Dadi mengaku selama pembukaan DTW, para pedagang kebanyakan bengong, karena belum ada kunjungan wisatawan ke Pantai Kuta. Jangankan, wisatawan mancanegara (wisman), wisatawan lokal maupun wisatawan domestik (wisdom) saja belum ada yang nongol. ‘’Kebanyakan pemain surving (papan selancar) lokal,’’ tegasnya.

Jro Dadi dan rekannya, Suwarti, dengan sabar menanti kunjungan wisatawan, walau penghasilan seret (sepi). Karena itu, dia berharap agar pemerintah segera membuka kunjungan wisdom dan wisman. Dengan demikian, para pekerja di Kuta memperoleh penghasilan, ketimbang diam di rumah atau menganggur. ‘’Kalau tidak bekerja, darimana kami mampu menghidupi anggota keluarga? Cucu saya saja ada tujuh. Mereka semua sekolah. Sebulan, kami bisa menghabiskan sekitar Rp 12 juta,’’ beber ibu dua putra ini.
Selama mengadu nasib di Pantai Kuta, Jro Dadi ditemani sang suami. Sedangkan tempat tinggal mereka ada di Monang-Maning, Denpasar Barat. ‘’Tapi suami saya bekerja di tempat lain,’’ tegas wanita yang mengaku mengidap batu ginjal ini sambil memperlihatkan surat pemeriksaan dokter.

Baca juga :  Curi HP Turis Brasil, Waria Ditangkap Saat Mangkal

Pedagang lain yang mengaku Nyoman berharap agar pemerintah mulai melonggarkan kunjungan wisatawan ke Bali. Dengan demikian DTW atau objek wisata bisa berdenyut. ‘’Toh sudah ada protokol kesehatan (prokes) dan pemeriksaan ketat dimana –mana,’’ tegasnya.
Nyoman mengaku bahwa selama DTW ditutup, dia dan keluarga nyaris tak ada penghasilan. Hal itu karena sebagian anggota keluarganya yang asal Karangasem ini bergelut di bidang pariwisata. Nah ketika pariwisata mati suri, praktis mereka tak ada penghasilan. Karenanya sebagian anggota keluarga Nyoman pulang kampung untuk menyambung hidup sebagai petani atau buruh galian C. ‘’Hasilnya juga tak seberapa, karena permintaan bahan bangunan sepi. Kami juga tidak punya tanah garapan di kampung,’’ tegas wanita berusia 52 tahun ini.
Sedangkan Made Ardana, yang juga pekerja di Kuta, mengaku sebenarnya banyak wisatawan yang sangat kangen dengan Pulau Dewata. Dia mendapat kabar baik itu dari rekan-rekannya sesama pekerja.’’Penerbangan mestinya internasional segera dibuka, tapi harus seleksi ketat. Jangan hanya di Jakarta. Katanya kalau melalui di sana untuk ke Bali, banyak keluar biaya,’’ tegasnya.

Baca juga :  Atlet Surfing Tewas Saat Latihan Pernafasan

Ardana yakin pemerintah di Bali telah punya standar prokes yang baik. Setiap DTW dan pasilitas pariwisata lain juga punya sarana dan sertifikat CHSE. Terlebih sebagian besar warga telah divaksin, sehingga punya daya tahan terhadap virus. ‘’Ketimbang turis semua lari ke Phuket (Thailand), Bali kan juga punya peluang,’’ bebernya.

Menurut Ardana, pariwisata Bali bisa bangkit kembali asalkan masyarakat dan pengusaha menerapkan prokes ketat. Walau telah divaksin lengkap, kewaspadaan terhadap pandemi in harus tetap ada, sebab virus terus bermutasi. ‘’Pada intinya, kita harus siap hidup berdampingan dengan virus corona (covid-19). Terpenting jaga imun tubuh dan tetap berpikiran positif,’’ tandas Ardana. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini