Dirut BRI Analogikan Sepak Bola Seperti Miniatur Organisasi

Dirut BRI Analogikan Sepak Bola Seperti Miniatur Organisasi
Direktur Utama BRI, Sunarso

Jakarta, DENPOST.id

Partisipasi langsung BRI dalam kompetisi BRI Liga 1 diharapkan dapat menggerakkan perekonomian nasional khususnya industri sepak bola nasional, termasuk UMKM dan industri turunannya. Direktur Utama BRI, Sunarso, mengungkapkan bahwa dengan peran yang sedemikian besar, BRI tergerak untuk menjadi title sponsor. “Sebagai perusahaan BUMN, BRI terus menciptakan value, baik economic value maupun social value kepada seluruh stakeholders, utamanya kepada masyarakat. Dengan menjadi sponsor utama Liga 1, BRI mewujudkan komitmen tersebut, bahwa keberadaan BRI memberikan makna bagi masyarakat Indonesia,” terangnya.

Menurutnya, sepak bola bukan sekadar olahraga dan hiburan masyarakat. Melampaui hal itu, sepak bola adalah seni manajerial untuk meraih tujuan bersama yaitu kemenangan dan menjadi juara. Dia menuturkan, sudah tertarik dengan sepak bola sejak sejak kecil. Hobinya bermain sepak bola ternyata berlanjut hingga saat ini.

Ketika sudah meraih kesuksesan sebagai orang nomor satu di bank terbesar di Tanah Air pun, Sunarso masih suka bermain sepak bola. Kini dia sering bermain dengan seragam kesebelasan dari BRI. Namun, sekarang sepak bola baginya bukan cuma hobi. Sunarso tak segan membawa filosofi sepak bola di manapun ia memimpin perusahaan. Di bawah kepemimpinannya, BRI bahkan mampu melalui tantangan yang sifatnya global atas krisis yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Baca juga :  Giri Prasta dan Suiasa Cuti Kampanye, Lihadnyana Jadi Pjs. Bupati Badung

Menurut Sunarso, sepak bola adalah miniatur dari sesuatu yang besar atau simplifikasi dari sesuatu yang kompleks. Yakni sebagai organisasi. Dalam bermain sepak bola, di dalam lapangan 11 orang yang menjadi satu tim harus terorganisir dengan baik yang tujuannya untuk menciptakan Gol (goal – tujuan). Pun demikian dengan organisasi yang juga memiliki goal (tujuan) yang ingin dicapai bersama. “Baik dalam sepak bola ataupun organisasi yang profit oriented seperti BRI, ada kerja sama, hingga mekanisme pengambilan keputusan agar bisa menciptakan goal. Itu (sepak bola) menurut saya baik untuk saya jadikan modelling untuk melakukan strategizing di organisasi,” tuturnya.

Baca juga :  Turunkan Angka Stunting, Pemkab Gianyar Gelar Rembuk

Sebagai CEO, dia pun menyinggung strategic management dalam dunia sepak bola maupun dalam korporasi besar seperti BRI. Dia mencontohkan ada satu negara di Asia yang menetapkan visinya ingin menjadi juara dunia sepak bola pada 2050. Jika pemain sepak bola berada pada masa produktifnya pada usia 25 tahun, artinya pemain-pemain yang dirancang untuk mejadi juara dunia tersebut saat ini belum dilahirkan. Dari contoh tersebut, menurut Sunarso menjadi juara dunia memerlukan visi yang harus dibangun dan dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.

Pembangunan dan persiapan dalam menggapai visi juara tersebut, lanjut dia, akan terkait dengan proses pembentukan fisik, karakter, keterampilan, hingga tingkat kecerdasaan pemain. Pun demikian dengan perusahaan besar seperti BRI, manajemen saat ini harus merancang visi atau road map sematang mungkin untuk menentukan keberlajutan dan meraih keberhasilan di masa depan.

Baca juga :  Bupati Tabanan Minta Kader PKK Tingkatkan Kemampuan

Sunarso mengambil contoh lain yang terjadi di dunia sepak bola dan bisa diaplikasikan dalam perseroan. Pada musim 2003, 2004 dan 2005, rival abadi FC Barcelona, Real Madrid, memiliki tiga gelandang hebat dunia saat itu yaitu David Beckham, Luis Figo dan Zinedine Zidane. Namun, hal itu tak menjamin Real Madrid menjadi jawara sepak bola Spanyol.

Real Madrid hanya menjuarai Piala Super Spanyol dalam rentang waktu tersebut. Sedangkan musuh abadinya, Barcelona, selama 2003-2005 mengoleksi satu gelar Liga Spanyol sebagai kompetisi kasta tertinggi, dan musim 2004-2005 menjuarai Piala Super Spanyol.

“Barcelona kenapa hebat pada saat itu? Dia konsisten untuk mendidik pemainnya, membangun timnya sejak dari masih muda. Saya bisa tarik kesimpulan, sebenarnya adalah tim yang hebat itu bukan dibeli meskipun kita mampu beli, tim yang hebat itu memang harus dibangun dan dipersiapkan. Dan Barcelona punya tradisi untuk membangun tim seperti itu,” pungkasnya. (*/111)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini