Gunung Agung Normal, Warga Tak Waswas Beternak dan Berkebun

Gunung Agung Normal, Warga Tak Waswas Beternak dan Berkebun
TURUN - Status Gunung Agung di Karangasem kini turun ke normal.

Amlapura, DENPOST.id

Hampir empat tahun bergejolak, status Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, akhirnya diturunkan. Pos Pengamatan Gunung Agung, Senin (13/9/2021) resmi merilis penurunan status Gunung Agung menjadi normal. Kabar ini disambut gembira masyarakat Karangasem, khususnya warga di kawasan rawan bencana (KRB).

Seperti warga di Banjar Adat Bukit Galah, Dusun Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem. Berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, yang  berjarak 3 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung, warga menyambut haru kabar ini. “Sebelumnya saat masih berstatus waspada kami waswas beternak dan bertani. Takut tiba-tiba status naik dan kami harus mengungsi dan merugi, ” ungkap salah satu warga Bukit Galah, Putu Suyasa.

Baca juga :  Gerakan Satu Juta Yowana, Ajak Bersahabat Dengan Sampah

Namun dengan kembali normalnya aktivitas Gunung Agung, warga mulai tenang melakukan aktivitas. Khususnya mengembangkan ternak dan kebun di kawasan lereng. “Kami tak lagi waswas mengembangkan potensi desa, ” ungkap Suyasa yang menjabat sebagai Bendesa Adat Bukit Galah ini.

Tak hanya warga, Bupati Karangasem, I Gede Dana pun menyambut gembira. Dengan kondisi ini pihaknya akan mulai memaksimalkan pengembangan potensi wisata yang ada di kawasan Gunung Agung. Salah satunya wisata pendakian. “Untuk wisata disilakan berwisata asal tetap menerapkan protokol kesehatan, ” imbaunya.

Baca juga :  Jelang Karya di Pura Besakih, Ratusan Pemangku Divaksin

 

Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Senin (13/9/2021) pukul 13.00 WIB lewat Pos Pengamatan Gunung Agung resmi merilis penurunan status. Dalam rilis resmi ada 2 data yang disampaikan terkait keputusan penurunan status.

Pertama terkait pengamatan visual yang dilakukan sejak 1 Januari hingga 13 September 2021 mengalami penurunan signifikan, khususnya aktivitas hembusan gas yang lemah. Kedua terkait pengamatan instrumental sejak 1 Januari hingga 13 September terjadi penurunan kegempaan vulkanik yang artinya aktivitas pergerakan magma menuju puncak terjadi penurunan. Selain itu data anomali panas tak lagi teramati serta data deformasi terbilang stabil dan tak mengindikasikan adanya akumulasi tekanan magma baru. (yun)

Baca juga :  Longsor dan Banjir Terjang Bangli

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini