Pandemi Covid-19, Perajin Patung di Sedang Alih Profesi

picsart 09 17 05.40.43
Perbekel Sedang, I Gede Budiyoga.

PANDEMI Covid-19 yang hampir dua tahun melanda Bali, sangat meluluhlantakan perekonomian masyarakat, khususnya di bidang pariwisata di Kabupaten Badung. Para pekerja seni dan perajin juga ikut terkena dampaknya. Hal ini dibuktikan dari sejumlah perajin seni ukir patung manusia dan sangkar ayam di Desa Sedang, Kecamatan Abiansemal semakin hari semakin sedikit yang menekuni profesi tersebut, karena permintaan pasar untuk patung terus menurun.

Berikut penuturan Perbekel Sedang, I Gede Budiyoga, saat diwawancarai DenPost mengenai kondisi Desa Sedang saat pandemi Covid-19, Jumat (17/9/2021).

Desa Jagapati, Desa Angantaka dan Desa Sedang atau yang sering dikenal dengan singkatan JAS menjadi sebuah sentra seni ukir kayu di Kabupaten Badung. Desa yang berbatasan dengan Kabupaten Gianyar itu, memiliki potensi besar dari segi sumber daya manusianya, yakni masyarakatnya memiliki keahlian seni ukir dan seni patung dari kayu. Namun dengan datangnya pandemi Covid-19 ini, ternyata juga memukul para perajin seni di desa tersebut.

Baca juga :  Bendesa Adat Bualu Berharap Seluruh Warganya Segera Divaksin

Bahkan Desa Sedang yang paling terdampak karena pernah memecah rekor dalam kasus terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di Kecamatan Abiansemal, beberapa bulan lalu.

Perbekel Sedang, I Gede Budiyoga menuturkan dampak pandemi Covid-19, benar-benar merubah mata pencaharian masyarakatnya. “Dulu masyarakat kami banyak yang menekuni kegiatan kerajinan mematung, tapi sekarang kembali ke pertanian. Bahkan ada yang kini menjadi buruh proyek untuk bisa tetap penyambung hidup keluarga mereka. Yang membuat kami sedih adalah produk UMKM kami tidak bisa kami pasarkan seperti dulu karena dampak dari pandemi ini. Jujur kami katakan saat ini hanya beberapa masyarakat saja yang masih menekuni kerajinan patung kayu ini. Saat ini masyarakat kami lebih memilih melakukan pengarapan sawah dengan sistem buruh tani, serta menanam bunga upacara agar bisa dijual ke pasar setiap harinya,” paparnya.

Baca juga :  Disdukcapil Badung Kembangkan Apikasi Gapura Desa

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Badung, Komang Budi Argawa mengapresiasi sejumlah langkah perbekel yang ada di Kabupaten Badung untuk menangani pandemi Covid-19 ini. “Kami apresiasi apa yang telah dilakukan para pimpinan desa, yaitu perbekel yang ada di Badung dalam upayanya menangani permasalahan pandemi. Bahkan ikut juga melakukan refocusing anggaran desa mereka dalam melakukan pencegahan dan memutus mata rantai Covid-19. Kami berharap para perbekel dan lurah tetap melaksanakan asas kepatutan dan tetap dalam jalur norma hukum yang ada dalam menggunakan anggaran, sehingga kedepannya tidak menjadi permasalahan dalam penggunaan anggaran desa ini,” ujar Argawa, yang juga mantan Kabag Hukum Setkab Badung. (dewa sanjaya)

Baca juga :  Polisi Belum Temukan Unsur Kelalaian Dalam Kasus Keracunan Napi Perempuan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini