Cegah Kehamilan Remaja, Rahim Selamat Sejak Dini, Generasi Berkualitas Menanti

Cegah Kehamilan Remaja, Rahim Selamat Sejak Dini, Generasi Berkualitas Menanti
dr. Made Suyasa Jaya, Sp.OG (K)

MASA hamil adalah salah satu pengalaman berharga bagi perjalanan hidup seorang perempuan. Sebagian besar perempuan tentunya mendamba untuk bisa hamil dan melahirkan anak. Apalagi jika sudah memiliki pasangan yang sah di mata hukum dan agama. Tapi, bagaimana jika kehamilan itu terjadi di luar pernikahan dengan usia ibu hamil yang masih tergolong di bawah umur atau masih remaja?

Dari sisi kesehatan, dampak kehamilan remaja tidak bisa diabaikan begitu saja. Sejumlah risiko bisa terjadi pada si ibu maupun janin selama kehamilan berlangsung. dr. Made Suyasa Jaya, Sp.OG (K), tegas menyebut kehamilan remaja adalah kehamilan berisiko tinggi.

Dikatakannya, reproduksi sehat seorang perempuan adalah di antara umur 20-35 tahun. “Jadi, hamil-lah di rentang usia 20-35 tahun di mana usia reproduksi sehat untuk menjaga kualitas bayi maupun ibu. Kalau sebelum usia 20 tahun sudah menikah, diusahakan untuk menunda kehamilan. Jangan hamil di bawah umur 20 tahun, jangan juga hamil di atas umur 35 tahun, itu saran dari para pakar reproduksi,” terang mantan Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Provinsi Bali itu, belum lama ini.

Lebih lanjut dikatakan, jika kehamilan terjadi di luar usia tersebut, maka kehamilan itu dikategorikan kehamilan berisiko tinggi karena bisa menimbulkan risiko medis. Dia menjelaskan, risiko kehamilan yang bisa terjadi mulai dari kemungkinan abortus, hambatan perkembangan bayi dalam rahim dan yang paling ditakutkan adalah cacat bayi.

“Nah, kenapa kehamilan remaja ditakutkan, karena organ reproduksinya belum cukup matang, sehingga bisa berdampak pada kualitas bayi. Belum lagi masalah psikososialnya di mana si  anak belum siap hamil. Dulu saya masuk ke sekolah-sekolah, saya kerahkan teman-teman Sp.OG untuk masuk ke seluruh SLTP dan SLTA se-Kodya Denpasar. Kalau tidak salah ada 112 sekolah kami masuki untuk memberikan ceramah tentang kesehatan reproduksi remaja,” terangnya.

Dokter yang kerap disapa Dokter Kadek ini mengungkapkan, beberapa kali dirinya mendapatkan pasien yang melakukan abortus tidak aman, karena dilakukan oleh tenaga tidak terlatih seperti balian (dukun). “Datang-datang pasien sudah mengalami infeksi. Abortus tidak aman ini kan berisiko merusak rahim. Padahal rahim itu harus dijaga karena menjadi rumah embrio, rumah bakal calon manusia. Semangat saya dari dulu, untuk menjamin ras manusia berikutnya lebih baik dari manusia sebelumnya caranya adalah menjaga kualitas bayi. Untuk menjaga kualitas bayi, tentu dari bibitnya juga dijaga yaitu kualitas ibu termasuk kualitas rahimnya dan juga kualitas sang ayah. Karena itu, mari kita menyelamatkan rahim ini sedini mungkin dari kemungkinan infeksi karena abortus maupun karena dikuret akibat dari kehamilan remaja atau kehamilan tak direncanakan. Jadi rahim ini yang harus dijaga,” tegas Dewan Pembina POGI Pusat ini.

Baca juga :  Wagub dan Bupati Jembrana Sidak Pelabuhan Gilimanuk

Untuk menyelamatkan rahim para remaja, Dokter Kadek mengatakan tidak bisa dilakukan sendiri atau oleh satu instansi. Harus dilakukan bersama para pemangku kepentingan dan dilihat menyeluruh mulai dari bagaimana pendidikan di rumah, di sekolah, lingkungan masyarakat dan bagaimana pendidikan agamanya. “Dulu, selain datang ke sekolah-sekolah, POGI Bali juga melakukan workshop mengundang seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, tokoh agama, para guru dan orangtua untuk duduk bersama membahas mengenai kesehatan reproduksi remaja, khususnya mencegah terjadinya kehamilan remaja,” katanya.

Agar maksimal, lanjut Dokter Kadek, upaya seluruh pemegang kepentingan ini harus konsisten. “Meski POGI punya dana, tapi POGI tidak punya kuasa. Yang punya kuasa kan pemerintah. Kita tidak bisa tutup mata. Semua harus bergerak. Miris saya, sekarang banyak anak-anak SMP dan SMA sudah melakukan seks bebas. Ini kalau tidak dicegah, akan memicu hamil di luar nikah dan meningkatkan angka abortus. Bagaimana mau mencetak generasi berkualitas kalau dari awal rumah dari embiro, calon manusia yaitu rahim sudah rusak,” ujarnya.

Di luar dari upaya-upaya pencegahan tersebut, Dokter Kadek menekankan, pendidikan moral pertama didapat dari yang mencetak manusia yakni ayah dan ibu. “Setiap saya ceramah, selalu saya sampaikan, saya sangat menghargai wanita-wanita karir, saya sangat bangga, tapi tetap para ibu jangan lupakan harta kita yang sangat berharga yaitu anak-anak di rumah. Seberapa pun sibuknya, ingatlah anak di rumah, pendidikan moralnya terutama. Menasihati lebih baik daripada diam melihat anak-anak kita tersesat,” sarannya.

Dokter Kadek kembali menekankan, agar kehamilan tidak berisiko tinggi, dia meminta patuhi umur reproduksi sehat dan rawat embrio. “Kualitas manusia difokuskan pada 1.000 hari pertama kehidupan. Artinya sejak 0 bulan, sejak dalam kandungan harus cukup gizi. Di sana titik awal kita mencetak manusia yang seperti apa, maka dari itu pemeriksaan kehamilan amat sangat penting.  Tidak perlu ke praktik dokter spesialis, di puskesmas-puskesmas pelayanan kesehatan ibu hamil sudah sangat bagus dan memadai. Vitamin dasar yang ada di puskesmas sudah cukup bagus dan lengkap.  Kalau 1.000 hari pertama dia kurang gizi, perkembangan janin akan terganggu. Ini bisa memicu permasalahan di kemudian hari, seperti stunting contohnya,” imbuhnya.

Baca juga :  Buntut Atlet Positif Covid-19, Menpora Panggil Panwasra dan PB PON

Salah seorang konselor PKBI Bali, Ni Luh Eka Purni Astiti, mengatakan, berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2017, 2 dari 3 perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun, hamil pertama kali juga di bawah usia 18 tahun. Hal ini menunjukkan, perkawinan remaja terjadi salah satunya karena kehamilan remaja.

Cegah Kehamilan Remaja, Rahim Selamat Sejak Dini, Generasi Berkualitas Menanti
WEBINAR – Webinar “Kehamilan Remaja” yang digelar Rutgers Indonesia beberapa waktu lalu.

Menurut Eka Purni, banyaknya kasus kehamilan remaja, salah satunya disebabkan oleh minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan seksual dan reproduksi. Meski berdasarkan hasil penelitian Kita Sayang Remaja (Kisara) di tiga kabupaten, Denpasar, Bangli dan Jembrana menunjukkan pengetahuan remaja terkait pubertas cukup baik, namun hanya sedikit remaja yang memahami terkait proses reproduksi seperti dorongan seksual maupun kehamilan. Begitu pula pemahaman terkait risiko perilaku seksual, menurut Eka Purni tak banyak remaja yang mengerti.

“Informasi-informasi terkait kesehatan seksual dan reproduksi (KSR) saat ini sangat banyak. Pemerintah juga sebenarnya memiliki banyak program terkait KSR. Namun informasi mengenai risiko reproduksi, dorongan seksual, pengenalan kontrasepsi dan konsep-konsep mengenai kekerasan seksual terhadap perempuan sangat jarang ada di level pendidikan formal,” bebernya dalam sesi webinar mengenai “Kehamilan Remaja” yang digelar Rutgers Indonesia, beberapa waktu lalu.

Eka Purni juga mengungkapkan, selama pandemi ini, cukup banyak remaja yang mengakses konseling kehamilan tidak direncanakan (KTD) di Klinik PKBI Bali. “Hal ini cukup membuat kami kaget. Ini artinya pembatasan  mobilitas selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tidak cukup berpengaruh pada perilaku seks berisiko,” ujarnya.

Dari konseling tersebut pula diketahui rata-rata para remaja tidak mengetahui kalau proses hubungan seksual bisa menyebabkan kehamilan.  Ada pula beberapa klien yang berpendapat, hubungan seksual sekali saja itu tidak mungkin menyebabkan kehamilan.

Untuk mengatasi masalah itu, kata Eka Purni, diperlukan pendidikan KSR yang komprehensif bagi remaja, khususnya kalangan siswa. Jika tidak ada informasi yang memadai mengenai pendidikan KSR ini, Eka Purni menyebut, sejumlah dampak buruk bisa terjadi. Mulai dari meningkatnya angka putus sekolah, stigma dan penolakan di lingkungan sosial, berisiko mengalami kekerasan dari pasangan, rendahnya kesempatan perempuan untuk berdaya secara ekonomi, sehingga berujung pada kemiskinan.

Baca juga :  Berawal dari Gerai Pulsa, Agen BRILink Ini Sekarang Sukses Punya Minimarket

Sementara dari perspektif kesehatan, kehamilan remaja dapat mengakibatkan kematian dan kesakitan ibu, bayi lahir dengan berat badan di bawah normal, penyakit menular seksual, risiko kekerasan seksual dan depresi pasca-melahirkan.

Pada akhirnya, apa yang dilakukan para konselor di Kisara? Terkait hal ini, Eka Purni mengatakan, Kisara lebih fokus pada edukasi bidang pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas. “Masalah kehamilan remaja ini sistemik, karena dipicu berbagai macam faktor. Jadi, permasalahan yang sistemik harus diatasi dengan solusi yang sistemik. Mulai dari pencegahan melalui edukasi seks dan reproduksi, sampai layanan kesehatan yang tidak stigmatif terhadap remaja, termasuk penyediaan layanan kesehatan yang mengakomodir kebutuhan-kebutuan remaja,” jelasnya.

Senada dengan Eka Purni, anggota KPAD Lombok,  Haekal Ardiansyah yang juga hadir sebagai narasumber dalam webinar “Kehamilan Remaja” itu memaparkan, kurangnya pengetahuan remaja terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) memang menjadi salah satu penyebab kehamilan remaja. Menurutnya, pendidikan HKSR harus diberikan sedini mungkin. Dia juga mengatakan, pendidikan HKSR tidak hanya untuk memberikan pengetahuan terkait organ-organ reproduksi tetapi juga bisa memberikan pengetahuan terkait bahaya penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak direncanakan pada usia remaja.

Mengingat ini menyangkut masalah remaja, Haekal mengatakan, penting ada konselor remaja seperti yang dilakoninya bersama sejumlah remaja lain. Menurutnya, remaja akan lebih leluasa dan terbuka apabila konsultasi maupun curhat ke rekan sebaya dibandingkan konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. “Dulu, biasanya kami buka waktu konseling itu setiap hari dan setiap waktu. Jadi anak-anak atau remaja yang mau konseling atau mau curhat bisa lewat chat, telepon, bahkan bisa datang ke rumah konselornya,” bebernya.

Mengingat peran dan fungsi konselor sebaya yang sangat penting, dia berharap ke depan bisa membuat hotline tempat pengaduan. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini anak-anak dan remaja sangat kesulitan dalam mengakses fasilitas kesehatan maupun layanan konsultasi. “Dengan adanya layanan hotline nantinya para remaja bisa berkonsultasi terkait kesehatan reproduksi maupun curhat terkait masalah yang sedang dihadapi. Keluhan atau curhat tersebut akan direspons kita-kita dari konselor sebaya. Namun dikarenakan kurangnya SDM konselor sebaya, kita harap pemerintah bisa membantu memberikan peningkatan kapasitas untuk konselor sebaya,” tandasnya. (suryaningsih)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini