Mutasi Guru Kisruh, BKPSDM Akui Ada “Human Eror”

Tanpa Alasan, Ratusan Peserta CPNS Tak Ikut SKD
Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) Kabupaten Karangasem, Gusti Gede Rinceg,

Amlapura, DENPOST.id

Mutasi 426 guru di Kabupaten Karangasem yang diumumkan Selasa (21/9/2021) berujung kisruh. Pasalnya, dalam mutasi itu ada sejumlah jabatan yang dijabat dua guru. Di Salah satu SD di Tianyar bahkan ada seorang guru yang dimutasi menjadi kepala sekolah, saat kepala sekolah lama masih aktif menjabat. Tak hanya itu, mutasi yang bertujuan pemerataan ini, justru dinilai tak merata. Sebab, banyak guru dengan mata pelajaran yang sama bertemu di satu sekolah, sedangkan sekolah asal sebelumnya tak ada guru mata pelajaran tersebut. Belum lagi, ada sejumlah kepala sekolah yang diturunkan menjadi guru biasa.

Baca juga :  Sempat Positif, Seorang Warga Bali Sembuh

Terkait kondisi ini, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) Kabupaten Karangasem, Gusti Gede Rinceg, mengakui ada human error. “Kami mengakui bahwa ada eror saat input karena keterbatasan tenaga kami,” ujarnya. Kesalahan yang dimaksud adalah perihal penamaan jabatan guru. “Salah satu kasus double kepala sekolah di Tianyar,  itu guru yang dipindah sebenarnya berstatus guru. Hanya kami salah input menjadi kepala sekolah,” sambung Rinceg.

Tak hanya perihal kepala sekolah ganda, Rinceg juga merespons terkait menumpuknya guru di sebuah sekolah. “Pembagian kami ini berdasarkan rombongan belajar. Jika sekolah tersebut gemuk, maka kami akan beri tambahan guru,” paparnya. Namun, mengamati kondisi di Karangasem di mana rata-rata sekolah khususnya SD masih berstatus B dengan jumlah 6 kelas, dikatakannya belum termasuk rombongan belajar besar. “Nanti kami akan berkoordinasi kembali dengan Disdikpora terkait kondisi ini,” ucap Rinceg.

Menepis kabar ada intervensi politik, Rinceg menyatakan mutasi guru murni pemerataan. Bahkan dalam rotasi tak ada guru yang dipindahkan sampai keluar kecamatan dari tempat tinggalnya. “Semua sudah diperhitungkan agar lebih dekat mengajar. Karena jika jauh dari tempat tinggal tenaga dan waktu guru akan habis di perjalanan menuju sekolah,” kilahnya.

Baca juga :  Klungkung Konfirmasi Kirim Satu Pasien Diduga Covid-19

Terkait adanya mutasi kepala sekolah menjadi guru biasa, pejabat asal Subagan ini mengatakan hal itu biasa. “Itu sah-sah saja, tidak berpengaruh. Lain halnya di kepegawaian seperti kedinasan, naik-turun jabatan di profesi guru adalah hal yang wajar. Saat kinerja sebagai kepala sekolah dinilai kurang bagus maka sah untuk mengganti, ” jelasnya.

Rinceg berharap, ke depannya akan ada satu sistem yang dapat mempermudah proses mutasi. “Selama ini kan masih manual, sehingga kesalahan rentan terjadi. Semoga ke depannya akan ada sistem yang membuatnya mudah dan terintegrasi untuk menghindari kesalahan seperti saat ini,” pungkasnya. (yun)

Baca juga :  Tangani Virus Corona, Gubernur Bali Terbitkan Lagi Keputusan Bersama

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini