DLH Karangasem Bingung Atasi Sampah di TPA Butus

picsart 10 03 02.24.16
SAMPAH MENINGKAT - Volume sampah terus meningkat membuat TPA Butus nyaris overload.

Amlapura, DENPOST.id

Rencana pembanguan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) mengunakan alat teknologi Jerman di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Butus, dan Linggasana, Desa Buana Giri, Karangasem belum terlaksana.

Rencana pengolahaan sampah menjadi bahan bakar refused derived fuel (RDF)/solid recovered fuel (SRF) yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTU tak kunjung menemukan persetujuan dari warga. Akibatnya hingga kini Dinas Lingkungan Hidup Karangasem kebingungan mengatasi sampah. Mengingat, di TPA Butus kapasitas sampah telah mencapai 90 persen.

Baca juga :  Komunitas Jeruji Besi Datangi Anak Yatim Piatu di Sidemen

Hal tersebut diungkapkan Kepala DLH Karangasem, I Wayan Tari. “Kita masih carikan jalan keluar untuk mengatasi masalah sampah,” ujarnya, diwawancarai, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut ia menuturkan kapasitas sampah di TPA Linggasana telah 100 persen terisi, sehingga tak dapat digunakan lagi. Sementara di TPA Butus telah terisi 90 persen. Kondisi ini dikarenakan volume sampah kiriman yang terus mengalami peningkatan.

Untuk suplai sampah dari Kecamatan Karangasem saja mencapai 40 sampai 50 ton per harinya atau sekitar 120 meterkubik.

Baca juga :  Begini Kondisi Tiga Ruang Belajar SDN 2 Pertima

“Kondisi ini membuat sampah menggunung. Sampah dedauan, plastik dan lain-lain menumpuk, ” ucapnya. Tak hanya nyaris tak memiliki TPA, bau tak sedap juga ditimbulkan dari tumpukan sampah. Bahkan bau menyengat hingga beberapa kilometer ke kawasan rumah penduduk disekitarnya.

Terkait ini, DLH mencoba upaya rutin menyemprotkan cairan eco enzym. “Rutin dilakukan tapi belum efektif dan maksimal, ” keluhnya. Kini, pihaknya terus berupaya mencari solusi. (yun)

Baca juga :  Bungaya akan “Lockdown” Sehari Setelah Haturkan Peneduh Gumi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini