Sampaikan Pesan Moral dan Kehidupan Lewat Mendongeng Via Daring

picsart 10 06 05.20.54
DONGENG - Luh Wanda, saat mendongeng via daring memperingati Bulan Bahasa.

Singaraja, DENPOST.id

Tuntutan untuk tetap berada di rumah, memunculkan ide kreatif para sastrawan untuk memanfaatkan akun media sosial miliknya. Salah satunya, yakni dengan mendongeng via daring.

Komunitas Mahima Singaraja pun menginisiasi program mendongeng dari rumah yang sempat dilakukan pada tahun 2020, dan tahun 2021 ini kembali dilakukan, dengan segmen cerita dibatasi untuk anak-anak.

Inisiator program mendongeng dari rumah, Kadek Sonia Piscayanti, Rabu (6/10/2021) menjelaskan mendongeng dari rumah ini berlangsung sepanjang Oktober dimulai pada, Selasa (5/10/2021). Kegiatan yang dilakukan secara live (langsung) ini dilakukan setiap pukul 16.00 Wita hingga pukul 18.00 Wita.

Sonia yang juga founder Komunitas Mahima ini melibatkan pendongeng dari seluruh penjuru nusantara. Tidak terbatas hanya di Bali. “Jadi kami tahun ini melibatkan siapa pun dari seluruh Indonesia. Meski kebanyakan di Bali,” ungkap Sonia.

Baca juga :  Lonjakan Kasus Masih Terjadi, Satgas Covid-19 Karangasem Keluarkan SE

Diakuinya pada era modern ini, cerita dongeng mulai terkikis di ingatan anak-anak. Padahal dalam dongeng terselip pesan-pesan moral maupun pesan kehidupan. Namun, gempuran teknologi jaman ini membuat cerita semacam ini kerap ditinggalkan. “Jadi, kami mencoba mengantarkan cerita-cerita ini lewat sosmed. Kami mencoba masuk ke dunia mereka yang notabene adalah dunia jaman sekarang. Tentunya dengan cerita yang mendidik, tidak mengandung unsur kekerasan, politik dan SARA,” kata Sonia.

Baca juga :  Brahmavihara Arama Bantu Percepatan Vaksinasi

Salah satu pendongeng asal Temukus, Luh Wanda dengan dongeng tradisi Megoak-goakan mengaku cara mendongeng virtual ini selain menghibur penonton juga sebagai media edukasi bagi orangtua dan anak-anak. “Karena aku memang punya perhatian lebih kepada mendongeng, terutama karena melihat secara langsung dampak mendongeng kepada anak-anak terutama usia PAUD. Saat didongengkan, mereka terlibat secara emosional dan imajinasi mereka menjadi sangat aktif. Bahkan setelah sesi dongeng pun mereka tetap mengembangkan imajinasi yang mereka dapat dari dongeng yang diceritakan kepada mereka,” papar gadis yang disapa Iluh ini.

Baca juga :  Lilin di Kamar Suci Ludeskan Rumah Warga Anturan

Melalui media sosial ini, selain menghibur yang menonton, juga sebagai bentuk pelestarian budaya. Terdapat kesan yang berbeda saat membacakan sebuah cerita dengan bahasa Bali maupun bahasa Indonesia, dihadapan sebuah smartphone.(118)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini