Petani Anyar Bermunculan, Harga Hasil Pertanian Turun

picsart 10 12 01.06.06
DAGANG BUMBU - Salah seorang pedagang bumbu dapur terlihat memangku dagu sembari menunggu pembeli. DENPOST.id/ist

Bangli, DENPOST.id

Dua tahun dilanda pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang beralih profesi menjadi petani. Namun, ini malah berdampak pada harga komoditas hasil pertanian di Kabupaten Bangli yang belakangan mengalami penurunan.

Sesuai pantauan di Pasar Kidul Bangli, Selasa (12/10/2021), harga berbagai hasil pertanian memang cenderung anjlok. Seperti halnya, harga kencur yang sempat tembus Rp 50 ribu/kg kini turun menjadi Rp 35 ribu/kg. Demikian halnya harga cabai kecil, harganya kini hanya berkisar Rp 15-18 ribu/kg, cabai besar harganya Rp 20 ribuan per kg, bawang merah berkisar Rp 16 sampai 18 ribu/kg, sedangkan bawang putih berkisar Rp 18-20 ribu/kg.

Baca juga :  Loka Sabha VII MGPSSR, Bupati Bangli Tekankan Ini

“Kemungkinan harga turun, karena banyak masyarakat sekarang beralih ke pertanian sebagai dampak tutupnya pariwisata Bali akibat Covid-19. Karena itu, saat ini kemungkinan terjadi over produksi,” kata Ni Ketut Remayani (50), salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Kidul.

Dia mengatakan, turunnya sejumlah hasil komoditas pertanian tersebut telah terjadi sejak sebulan terakhir. Di sisi lain, ibu dua anak ini juga menyebutkan, ada juga sejumlah hasil pertanian yang harganya tetap tinggi. “Untuk rempah-rempah seperti kapulaga dan merica mengalami kenaikan rata-rata mencapai Rp 10 ribu per kg. Sedangkan untuk jahe, pada awal Covid-19 harganya memang sangat tinggi mencapai 50 ribuan per kg. Tapi sekarang sudah turun menjadi Rp 18 ribu per kg,” jelasnya.

Baca juga :  Tiga Tahanan Narkoba di Bangli Positif Covid-19

Dikatakan pula, naik turunnya harga tersebut hal yang lumrah terjadi. “Saat kondisi turun sekarang, tentunya masyarakat secara umum akan senang karena bisa membeli kebutuhan dengan harga yang lebih terjangkau. Sebaliknya, bagi petani tentu akan merasa rugi. Itu hal yang lumrah terjadi,” ujarnya.

Penurunan harga juga diakui Komang Sukarsana, salah satu petani di Desa Songan, Kintamani. Kata dia, belakangan ini harga sejumlah hasil pertanian memang mengalami penurunan. “Hal ini kemungkinan disebabkan terjadinya over produksi,” jelasnya.

Baca juga :  Semarak Merah Putih, Polres Bangli Kibarkan 75 Bendera di Puncak Gunung Abang

Atas kondisi tersebut, pihaknya meminta peran pemerintah untuk bisa melakukan pemetaan pola tanam untuk mengantisipasi terjadinya over produksi. “Jika itu bisa dilakukan saya optimis persoalan fluktuasi harga yang kerap merugikan petani akan bisa diminimalis,” tandasnya. (128)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini