Selamatkan Keponakan, Lari ke Pinggir Danau, Wahyu Antari Tewas Bersama Dihantam Batu Besar

picsart 10 17 07.03.36
EVAKUASI KORBAN - Proses evakuasi korban yang tertimbun longsor, Sabtu (16/10/2021).

Bangli, DENPOST.id

Musibah maut akibat longsor di Wilayah Kintamani empat tahun silam kembali terulang. Seakan trauma warga belum terobati akibat 12 orang kehilangan nyawanya saat itu. Kini, Sabtu (16/10/2021) subuh, bencana tersebut kembali menghantam Kintamani meskipun dengan wilayah desa yang berbeda.

Kejadian tragis kali ini menimpa 5 KK dengan 19 jiwa di Banjar Cemara Landung, Desa Terunyan, Kintamani. Rumah warga yang tinggal di kaki perbukitan Kintamani kini dalam konfisi porak poranda pascadihantam tanah longsor akibat gempa bumi yang berkekuatan 4,8 SR.

Baca juga :  Dibuka, PTM di Jembrana

Musibah tersebut, merenggut dua korban jiwa yakni Ni Kadek Wahyu Antari (25) dan Lionel adi Putra (8). Sementara korban selamat Made Mudawati (42), Nopa Nopita Sari (18) dan I Gede Solikin (28). Dua korban selamat kini dirawat di RSUD Bangli, karena mengalami patah tulang, sementara yang menglami luka ringan dirawat di Puskesmas Kintamani IV.

I Made Diksa, salah seorang kerabat korban saat ditemui di lokasi menuturkan, saat kejadian para korban sedang tertidur lelap. Namun, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh guncangan gempa yang cukup keras. Tidak berselang, suara gemruh tebing pun terdengar dan material langsung menerjang rumah mereka. “Semuanya kalang kabut menyelamatkan diri, kejadiannya begitu cepat,” tutur Diksa, yang juga menjabat Perbekel Desa Abang Batu Dinding itu, Sabtu lalu.

Baca juga :  Mr. X Mengambang di Pantai Desa Les

Selanjutnya, korban Ni Kadek Wahyu Antari berupaya menyelamatkan keponakannya Lionel Adi Putra, sambil menggendong keponakannya itu. Karena saking paniknya, korban Kadek Wahyu Antari malah berlari ke arah Danau Batur. Naas, setibanya keduanya dihadang oleh jurang, sehingga mereka langsung dihantam oleh bebatuan dari runtuhan tebing di atas rumah mereka. “Korban sambil memeluk keponakan panik kemudian lari, namun sayang didepan mereka ada jurang. Tidak bisa kemana lagi. Tubuh mereka pun dihantam batu dan menimbunnya,” ujarnya dengan nada lirih dan berusaha mengikhlaskan meninggalnya kedua korban dengan cara tragis itu.

Baca juga :  PHDI Bangli Keluarkan SE Terkait ‘’Pelinggih’’ Berkloset 

Pascakejadian, semua warga dari korban gempa masih mengalami trauma. Mereka khawatir akan adanya gempa atau longsor susulan. Karenanya, warga memilih bermalam di luar rumah dengan tujuan cepat bisa menyelamatkan diri jika musibah susulan tersebut kembali terjadi.
(way)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini