Tantang Bahaya, Anak Koin Berburu Receh Tuk Keperluan Sekolah

koin 1
ANAK KOIN - Anak-anak koin/logam yang beraksi di perairan Selat Bali.

Negara, DENPOST.id

Angin bertiup sangat kencang di Pelabuhan Gilimanuk atau di Selat Bali, Rabu (20/10/2021) sore. Arus dan gelombang cukup kuat apalagi hari itu sedang bulan purnama. Namun anak-anak koin (pemburu uang logam) yang berjumlah belasan orang menantang bahaya dengan terjun dari atas kapal ke laut demi mengambil uang koin.

Jika sebelumnya kebanyakan yang dilempar penumpang adalah uang koin/logam, namun kini juga banyak  uang kertas yang digulung dan dilempar ke laut. Mengambil uang kertas yang dilempar ke laut risikonya lebih besar. Pasalnya uang lebih ringan dan terbang, sehingga anak-anak akan berebut mengambilnya sampai dapat. Saat berebut uang, anak-anak ini tidak memperhatikan situasi di sekitarnya. Beberapa anak yang berada di bawah atau laut, sementara ada yang melompat dari atas tanpa melihat temannya di bawah. Aksi berbahaya ini pernah merenggut korban jiwa karena ada yang tenggelam dan hanyut terseret arus.

Baca juga :  Arus Mudik Idul Adha Mulai Meningkat

Hal ini diakui Kadek Suarjaya (21), seorang anak koin yang melakoni pekerjaan itu sejak SD. Pemuda asal Gilimanuk ini mengaku sudah mengakrabi Selat Bali sejak kecil. Dari aktivitasnya di sorehari itu, dia bisa mendapatkan uang Rp 30 sampai Rp 50 ribu selama dua atau tiga jam. “Kalau sepi penumpang hanya dapat Rp 30 ribu minimal. Kalau ramai bisa dapat Rp 100 ribu lebih. Ya memang bekerja seperti ini ada risikonya. Kendalanya ketika arus kuat. Saya pernah terseret arus. Syukur selamat. Sebelumnya memang pernah ada korban,” katanya.

Meski berbahaya, Kadek mengaku tidak pernah kapok bekerja seperti ini. Seiring usianya semakin dewasa, Kadek mengaku ingin mencari pekerjaan lain. “Saya lagi melamar di hotel semoga nanti dapat. Malu juga bekerja begini terus. Risiko juga makin besar karena tubuh makin berat,” jelasnya.

Baca juga :  Puluhan Warga "Duduki" Balai Banjar Petapan Kaja

Sementara Ketut Dania Usta Angela Yuda (13) yang akrab dipanggil Angel mengaku sudah menjadi anak koin sejak kelas 4 SD. Dia yang saat ini duduk di bangku kelas II SMP menyukai pekerjaan berisiko ini karena dinilai cukup mudah mendapatkan uang. Beberapa jam saja dia bisa mendapatkan uang Rp 20 sampai Rp 30 ribu jika penumpang tidak terlalu ramai. Jika ramai bisa mendapatkan sampai Rp 100 ribu lebih. “Uangnya saya kumpulin pakai keperluan sekolah. Pakai beli seragam, beli buku dan keperluan lain,” kata Angel yang mengaku ayahnya bekerja sebagai peracik bumbu betutu ini.

Sementara sejumlah penumpang kapal berharap anak-anak koin tersebut berhati-hati karena risikonya terlalu besar. Apalagi cuaca tidak bagus. “Ya kasihan juga mereka sampai merayu-rayu agar dilempari koin atau dikasi uang kertas maka mereka mau nyebur. Ya anggap saja berbagi,” kata Mardiah salah seorang penumpang asal Negara.

Baca juga :  Pariwisata Dibuka, Polisi Tingkatkan Pengawasan di Gilimanuk

Mardiah menilai aksi ini perlu ditertibkan karena sangat berisiko terhadap keselamatan anak-anak tersebut. Namun di sisi lain, aksi  berani anak-anak  tersebut menjadi tontonan menarik bagi penumpang. Mereka melompat jika ada penumpang yang mau melemparkan koinnya dari atas kapal yang masih bersandar di dermaga.

Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Wirahadikusuma, saat dimintai konfirmasi Kamis (21/10/2021) mengatakan, di Gilimanuk tidak ada perkumpulan anak-anak logam/koin. “Mereka hanya beberapa orang  saja yang menyebut dirinya anak koin.  Ini juga  musiman. Di saat penyeberangan/penumpang kapal ramai, baru mereka beraksi,” katanya.

Menurutnya, sebenarnya pihak ASDP sudah melarang aktivitas tersebut termasuk  para pemancing di area dermaga. “Kemungkinan saat itu pengawasan kepada  mereka longgar,” tandasnya. (120)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini