Prof. Ramantha: Kesuksesan Ekonomi Kerthi Bali Perlukan KOSTER

ramdof
I Wayan Ramantha (DenPost.id/dok)

Sumerta, DenPost.id

Gubernur Bali Wayan Koster resmi merilis buku ‘’Ekonomi Kerthi Bali’’ pada Rabu (20/10/2021) di Denpasar. Kehadiran buku ini disambut baik oleh akademisi, Prof. Dr. I Wayan Ramantha, S.E., M.M., Ak.

Dia memberi pandangan agar ekonomi kerthi Bali terlaksana dengan baik. Menurutnya, diperlukan enam atau sad strategi untuk itu yakni knowledge, organizing, strong, trust, equilibrium, responsibility (KOSTER.

“Knowladge adalah peningkatan kualitas pengetahuan (baik yang berasal dari ilmu maupun wahyu) dari SDM Bali (Jana Kerthi) yang kreatif, inovatif dan berteknologi, di segala sektor ekonomi 1) Pertanian dalam arti luas, 2) Perdagangan, 3) Industri (termasuk IKM dan UMKM), 4) Ekonomi Kreatif dan Digital, 5) Pariwisata, dan 6) Jasa Keuangan,” ujar Ramantha, Kamis (20/10) kemarin.

Organizing (organizer/leadership): peningkatan kualitas kepemimpinan unit-unit ekonomi dan kelembagaannya untuk siap mandiri dan menjadikan Bali berdikari secara ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Tri Sakti Bung Karno. Peningkatan kemandirian ini penting untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Bali pada komoditas yang berasal dari luar Bali ( yang tidak memiliki multiplier effect) bagi ekonomi kerthi Bali.

Baca juga :  Total Kasus Positif Capai 79, Gugus Tugas Fokus Tekan Sumber Risiko Baru

Strong: penguatan jati diri yang kokoh berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal krama Bali (misi membangun Bali), penguatan moralitas dan integritas manusia Bali yang tekun, ulet, disiplin, produktif dan memiliki daya saing dengan semangat pantang menyerah (puputan). Melalui prinsip ini diharapkan dapat meningkatkan kewirausahaan/entrepreneurship orang Bali yang masih menjadi tantangan dalam melaksanakan ekonomi kerthi Bali.

Trust: pengutan kepercayaan diri manusia Bali yang memiliki spirit jengah, jujur, beretika dan bangga sebagai krama Bali. Etika dan kejujuran merupakan modal dasar bagi pelaku ekonomi untuk sukses di kancah lokal, nasional, maupun global. ‘’Manusia Bali seharusnya bangga sebagai krama karena brand Bali telah terkenal di seluruh dunia,’’ beber Ramantha.

Baca juga :  Lagi, Empat Pasien Covid-19 di Bali Meninggal Dunia

Equilibrium: keseimbangan pilar ekonomi kerthi Bali harus dijaga dari segala dimensi, apakah itu antar-sektor maupun antar-wilayah. Bila dilihat dari antar sektor; enam pilar (simbol kalpataru dalam logo), sektor pertanian dalam arti luas bisa dijadikan satu (nomor) dengan perikanan/kelautan, lalu ditambah sektor jasa (agar termasuk LPD) yang merupakan lembaga keuangan khas krama Bali.

“Bila dilihat dari antar-wilayah, keseimbangan ekonomi antara selatan dan utara, barat dan timur, masih memerlukan perjuangan panjang yang harus diawali dengan pembangunan infrastruktur sebagaimana yang dirintis saat ini,” terang Ramantha.

Baca juga :  Bubarkan Balap Liar, Polisi Amankan Puluhan Motor dan Anak di Bawah Umur

Responsibility; ekonomi kerthi Bali harus dibangun secara inklusif dan bertanggungjawab dengan tetap menjaga ekosistem alam serta budaya secara berkelanjutan. Mindset/pola pikir pelaku ekonomi kerthi harus diarahkan agar berlandaskan Tri Hita Karana (THK). Dalam mencari profit harus memperhatikan pray, people, dan planet, yang kini prinsip 4 P tersebut mendunia. Mencari artha untuk dharma, artha, dan kama, sesuai Sarasamuscaya 262 dan implementasi Catur Purusartha. “Simpulannya, ekonomi kerthi Bali memerlukan KOSTER,” pungkas Ramantha. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini