Sadguna Harapkan Ekonomi Bali Lebih Kokoh

sadof
I Gde Made Sadguna

BUKU ‘’Ekonomi Kerthi Bali’’ menjadi semangat baru penguatan ekonomi Bali berbasiskan kearifan lokal  yang adiluhung. Buku garapan Gubernur Bali Wayan Koster ini juga dikomentari pengamat, I Gde Made Sadguna, S.E., MBA,DBA, pada Jumat (22/10/2021).

Pengamat ekonomi, bisnis dan perbankan, ini menyebut buku ‘’Ekonomi Kerthi Bali’’ mengisyaratkan diakhirinya pembangunan ekonomi Bali yang bertumpu hanya pada satu sektor unggulan yaitu pariwisata. Kondisi itu terbukti sangat jelas akibat dampak dari berbagai peristiwa alam maupun non-alam yang menimpa Bali dalam dua dekade belakangan ini. Musibah itu mengakibatkan perekonomian Bali jatuh-bangun secara signifikan.

“Peristiwa seperti virus SARS, flu burung, rabies, bom Bali 1 dan 2, letusan Gunung Agung dan terkhir pandemi covid-19, mengakibatkan anjloknya pertumbuhan ekonomi Bali. Hal ini diikuti peningkatan pengangguran dan kemiskinan secara signifikan,” tegas Sadguna.

Dia juga menilai dalam buku ‘’Ekonomi Kerhi Bali’’,  Gubernur Koster sangat memahami permasalahan dengan sangat baik dan merumuskan solusi yang tepat untuk memperkuat struktur serta fundamental ekonomi. Tujuannya  masyarakat bali Bapat ke depan tetap survive (bertahan) dengan atau tanpa pariwisata. Pada saat yang sama mampu tetap melakukan kegiatan ekonomi yang produktif, baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan krisis.

Pembangunan ekonomi kerthi Bali (istilah yang diciptakan Gubernur Koster sendiri) berbasis pada potensi dan kekuatan alam, manusia dan budaya Bali, yang diprioritaskan pada enam bidang yaitu pertanian dalam arti luas, kelautan/perikanan, industri, IKM-UMKM-koperasi, ekonomi kreatif dan digital, serta pariwisata.

Baca juga :  Residivis Asal Jember Dibekuk di Bus

Sadguna berharap penguatan yang dilakukan terhadap keenam bidang prioritas ini dapat mengubah struktur dan fundamental ekonomi Bali. Dengan begitu, ekonomi Bali ke depan lebih terdiversifikasi secara berimbang dan lebih kokoh serta lebih stabil dalam menghadapi berbagai perubahan serta guncangan eksternal.

Pemikiran seperti ini, menurut Sadguna, sejalan dengan pemikiran Simon Kuznets (1966) yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi berkelanjutan (sustainable economic growth) tak akan terjadi tanpa perubahan struktural (structural changes). Pemikiran tentang strategi pembagunan ekonomi yang berbasis pada potensi lokal juga sejalan dengan pemikiran ahli-ahli ekonomi pembangunan generasi ketiga seperti pemenang Nobel, Joseph Stiglitz, Dani Rodrik, Ace Moglu, dan Justin Yifu Lin, yang kini menjadi mainstream ilmu pembangunan ekonomi.

Baca juga :  Terkait Stimulus, Diskop Denpasar Hanya Ajukan 147 Koperasi ke Pemprov

Bahkan pemikiran Justin Yifu Lin, mantan Chief Economist World Bank yang merupakan salah satu arsitek pembanguan ekonomi Tiongkok, terbukti menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang fenomenal sehingga membawa Tiongkok jadi negara maju dan superpower yang dalam beberapa hal bahkan telah melampaui Amerika dan Jepang.  “Kalau dicermati dengan baik, strategi pembangunan ekonomi kerthi Bali yang berbasis pada konsep alam, manusia dan budaya Bali,  bila dilengkapi dengan penerapan teknologi, inovasi dan tatakelola kelembagaan yang baik, sebenarnya jauh lebih luas daripada konsep kelompok ahli pembangunan ekonomi generasi ketiga yang hanya berfokus pada economic endowment dan efektifitas kelembagaan,” tutur Sadguna.

Menurut hematnya, dalam mengimplementasikan strategi pembangunan ekonomi kerthi Bali, perlu diadopsi metodologi yang digunakan oleh Justin Jifu Lin dalam mentransformasi struktur ekonomi  dan mengoptimalkan daya saing dengan cara merancang struktur ekonomi yang konsisten dengan struktur kandungan potensi ekonomi. “Hanya dalam konteks Bali, maka cakupan endowment tersebut harus diperluas sehingga menjadi alam, manusia dan budaya Bali,” sambungnya.

Bila faktor perekonomian desa adat dijadikan bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi kerthi Bali, maka pemikiran Raghuram Rajan yang dituangkan dalam bukunya “The Third Pillar” (2019) akan menemukan lahan subur di Bali, karena desa adat identik, bahkan lebih luas maknanya dengan nomenklatur community yang digunakan Raghuram Rajan.

Baca juga :  30 KG GANJA NYARIS DIEDARKAN DI BALI

Bila konsep-konsep ini dilaksanakan melalui pendekatan Penta Helix (kolaborasi sinergis antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi, media dan masyarakat) secara konsisten, maka dampaknya terhadap kinerja pembangunan ekonomi Bali sangat signifikan. Sebagai kesimpulan, kata Sadguna, konsep strategi pembangunan ekonomi kerthi Bali sebagaimana dituangkan dalam buku yang baru diluncurkan itu mempunyai landasan teoritis maupun praktis yang kuat bila dilaksanakan melaui program-program yang tepat dalam masing-masing dari keenam bidang prioritas itu. Juga perlu dilaksanakan dengan leadership yang kuat dan birokrasi kompeten serta dilaksanakan dalam kerangka partisipasi dan kolaborasi Penta Helix yang efektif, maka dapat terjadi perubahan besar dalam profil serta  kinerja perekonomian Bali ke depan.  “Visi untuk mewujudkan masyarakat Bali yang sejahtera dan bahagia dapat tercapai secara bertahap,” tutupnya. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini