Kegiatan Keagamaan Mulai Padat, Desa Adat di Badung Tetap Jaga Prokes Ketat

suardana baru 1
Bendesa Adat Jagapati, I Wayan Suardana

KEGIATAN adat di sejumlah wilayah di Badung mulai terasa cukup padat. Apalagi Kabupaten Badung sudah mulai turun level dalam Pemberlakuan Pembatasan  Kegiatan Masyarakat  (PPKM) yakni menjadi level II. Untuk menjaga agar masyarakat terhindar dari Covid-19 saat pelaksanaan kegiatan adat seperti karya manusa maupun pitra yadnya,  para bendesa adat di Badung tetap melakukan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat.

Seperti halnya kegiatan adat di Desa Adat Mengwitani  yakni karya pitra yadnya dan manusa yadnya. Krama Desa Adat Mengwitani yang mengikuti kegiatan diwajibkan mengikuti prokes ketat seperti menggunakan masker dengan benar dan sebelum masuk ke areal kegiatan diwajibkan mencuci tangan. “Untuk menghindari kerumunan yang padat, kita minta krama yang mengikuti karya ini dibatasi. Bahkan kita berikan tanda name tag agar tidak berkerumun,” ungkap Bendesa Adat Mengwitani, I Putu Wendra, Senin (25/10/2021).

Baca juga :  SEBELUM LOMPAT KE JEMBATAN, PELAJAR SMK KIRIM PESAN KE IBUNYA

Lebih lanjut Wendra mengatakan, pelaksanaan karya ini sudah lama dipersiapkan, sehingga prokes juga menjadi perhatian utama. ”Kami tidak ingin terjadi klaster kegiatan adat di Desa Adat kami. Pihak pecalang pun sudah kami kerahkan ikut menyosialisasikan  agar krama kami taat prokes selama kegiatan karya yang kita lakukan ini,” terangnya.

Hal senada dikatakan Bendesa Adat Jagapati, I Wayan Suardana. Menurut Suardana, prokes dalam kegiatan yadnya yang dilaksanakan pihak desa adat harus sesuai dengan imbauan pemerintah. “Kita juga tidak mau ada klaster baru dalam kegiatan karya yang kita lakukan. Untuk pencegahan kami sudah melakukan pengaturan, bahkan bergiliran untuk melakukan ayah-ayahan sehingga tidak berkerumun. Tidak hanya itu, kami juga memasang tempat cuci tangan portable di sejumlah titik sehingga krama yang datang tidak berkerumun saat melakukan cuci tangan ketika masuk ke areal upacara karya,” jelasnya.

Suwardana juga mengungkapkan, sosialisasi juga dilakukan di tengah tempat upacara, agar masyarakat yang memiliki sawa dalam upacara tersebut  tidak berkerumun. “Kita juga melarang masyarakat masuk jika tidak menggunakan masker. Jadi, langkah prokes kita lakukan dan kita jaga itu agar masyarakat tidak melanggar,” tandasnya. (dewa sanjaya)

Baca juga :  LPD Kerobokan Terbakar, Dua Mobil dan Gudang Arsip Dilalap Api

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini