Gubernur Koster: Sentra Garam Jangan Dibanguni Vila

kosterku
Gubernur Bali Wayan Koster

Amed, DenPost

Menjaga produktivitas dan keberlangsungan hidup para petani garam, Gubernur Bali Wayan Koster mengultimatum agar sentra-sentra garam jangan sampai dibanguni gedung misalnya vila. Hal itu dia sampaikan dalam acara penyerahan kredit Mesari pada klaster pangan BPD Bali di Amed, Purwakerthi, Karangasem, Rabu (27/10/2021).

Gubernur menegaskan pentingnya masyarakat mensyukuri semua yang ada di alam Bali yang dianugerahkanoleh Sang Pencipta. Ini adalah prinsip nomor satu dalam ‘’Ekonomi Kerthi Bali’’.  “Apa yang ada dan apa yang tumbuh, itu dipakai. Ini yang diajarkan oleh leluhur kita,” tegasnya.

Menurut Gubernur Koster, di Karangasem juga ada arak, karena ada pohon ental, pohon jaka, dan pohon kelapa. Semuanya bisa menghasilkan tuak, kemudian diolah menjadi arak yang bisa menjadi sumber penghidupan, begitu juga dengan garam.

Ada lagi salak bali dari Karangsem, dan ada kain tradisional bali berupa kain tenun pengringsingan, dan berbagai jenis produk yang dihasilkan alam Bali berupa hasil pertanian, hasil kelautan, dan hasil industri kerajinan rakyat.

Menurut Gubernur tamatan ITB ini, semuanya anugerah yang dititip oleh Sang Pencipta sesuai dengan kondisi alam dan iklim yang diberikan kepada masyarakat Bali, sehingga wajib dirawat, dan diberdayakan sebagai sumber penghidupan. “Jadi melakoni hidup kita itu harus membumi. Sekali lagi apa yang ada di daerah kita, itu dipakai,” tuturnya.

Baca juga :  Pepaya Calina di Waliang, Abang, Rambah Hotel dan Restoran

Seperti memanfaatkan garam Karangasem, salak, menggunakan endek, bahkan kalau ada arak, itulah yang diminum. “Jadi jangan memanfaatkan yang di luar. Apa yang dihasilkan di sini, inilah yang kita manfaatkan dan promosikan. Inilah namanya ekonomi rakyat, ekonomi yang membumi, ekonomi yang berpijak pada sumber daya lokal yang digerakkan pelaku seperti petani, nelayan, atau perajin,” tegas Gubernur Koster.

Agar pelaku atau para petani garam, pada khususnya terorganisir, Gubernur berharap bisa dibentuk lembaga seperti koperasi UMKM.

Termasuk ke depan, perlu difasilitasi pendampingan untuk produksi garam, dan harus mencari orang yang mengerti sebagai pendamping.

Menurut Gubernur, ada Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan di Dusun Gondol, Gerokgak, Buleleng. Balai itu bisa didatangkan untuk mengedukasi, atau menggunakan ahli dari Unud atau Undiksha yang punya program studi kelautan. Dengan demikian, ilmunya bisa diterapkan di masyarakat.

Baca juga :  Makanan di Senggol Amlapura Bebas Zat Berbahaya

Kemudian dalam produksi garam tradisional lokal Bali, Gubernur mengharapkan harus ada pasar. Untuk pasar ini, maka produknya harus di-branding dengan kemasan supaya lebih menarik. Hal yang paling utama, pasar itu adalah orang kita sendiri. Seperti di Karangasem, jumlah penduduknya 521.000 atau di Bali jumlahnya 4,3 juta. Inilah yang mesti memanfaatkan garam tradisional lokal Bali.

Gubernur Koster mengajak masyarakat Bali wajib menggunakan produk-produk dari hasil masyarakat Bali sesuai Pergub Nomor 99 Tahun 2018 tentang pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali.

“Apalagi kualitas garam kita sangat bagus. Di luar saja pakai, masak kita tidak memanfaatkannya, padahal produk kita bagus,” ajak Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Menurutnya, pasar produk garam harus digunakan oleh warga sendiri, karena yang membuat adalah krama Bali. Yang memakai juga krama Bali, yang menjadi pelaku usaha krama Bali, yang mensuport permodalan pun krama Bali, serta penggiatnya juga krama Bali.

Jika semua bisa dijalankan dengan pola seperti itu, Gubernur menilai ekonomi akan berkembang di wilayah Bali. Lalu dimana letak tanggung jawab pemerintah? Kata Gubernur, pemerintah harus hadir memfasilitasi dengan mengeluarkan Pergub Nomor 99 Tahun 2018. ‘’Untuk kelanjutan khusus garam, saya keluarkan Surat Edaran (SE) Gubernur No.17 Tahun 2021,’’ tegasnya.

Baca juga :  Ngurah Maharjana Jadi Plt. Ketua KPU Karangasem

Gubernur Koster dengan tegas menyatakan meningkatkan pasar produksi ketika permintaan sudah meningkat. “Makanya saya minta bupati harus menjaga, dan melindungi sentra-sentra garam di pesisir pantai. Jangan didesak oleh bangunan-bangunan di sekelilingnya. Di wilayah-wilayah sentra garam, batasi perizinan untuk pembangunan di luar itu, supaya produksi garam berkembang. Jangan juga dibangun vila di sentra garam. Lama-kelamaan matilah sentra garam kita,” tegas Gubernur.

Ketua Kelompok Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Amed Bali, Nengah Suanda, menyampaikan penyerahan kredit Mesari pada klaster pangan BPD Bali ini mampu membangun masyarakat Bali sesuai dengan namanya Mesari. “Penamaan Mesari ini diyakini mampu memberikan keuntungan yang luar biasa untuk Bali. Jadi ini (acara penyerahan kredit Mesari pada klaster pangan BPD Bali) tidak lepas dari permohonan saya ke Bapak Gubernur Bali. Beliau sangat merespons luar biasa setelah mendengar aspirasi kelompok-kelompok petani garam di Bali terkait permohonan permodalan dengan bunga rendah,” bebernya. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini