Polisi Tetapkan Dua Tersangka Penganiaya Windu, Seorang Buron

winduku
ANIAYA WINDU - Tiga pria gempal menarik dan menganiaya Windu Merta di depan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Denpasar di Jalan Purnawarman, Lumintang, Denpasar Utara, pada Senin

Padangsambian, DenPost

Sempat dinyatakan damai oleh polisi, kasus penganiayaan dan pemerasan yang dialami I Made Pande Windu Merta (28) akhirnya ditindaklanjuti polisi. Mereka menangkap dua dari tiga tersangka yakni Andi Masait alias Asep (42) dan Oter Ali (55). Sedangkan Imam (32) berhasil melarikan diri, sehingga diburu polisi.

Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu Ketut Sukadi, Rabu (27/10/2021), mengatakan Windu Merta, yang asal Bongan Pala, Kediri, Tabanan, itu melapor ke Polsek Denpasar Utara pada Selasa (26/10) lalu dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor STPL/10/X/2021/SPKT Unit Reskrim/Polsek Denut/Polresta Denpasar/Polda Bali. “Korban melaporkan para pelaku dengan dugaan kasus pengeroyokan dan pemerasan,” tegasnya.

Baca juga :  Giriasa Berpeluang Lawan Kotak Kosong Jika Ini yang Terjadi

Usai dilaporkan, dua tersangka yakni Oter Ali, warga Banjar Bhuana Sari, Desa Tegal Kerta, Denbar, dan Andi Masait alias Asep, warga Lingkungan Kerta Sari, Panjer Densel, dibekuk. “Mereka telah ditetapkan menjadi tersangka dan kini diperiksa. Sedangkan satu pelaku lainnya (Imam) asal Karangasem masih diburu,” tambah Sukadi.

 

Sebelumnya dalam laporan korban, ada nama Samuel Erik Mrkolie alias Oscar. Apakah Oscar juga tidak terlibat? Ditanya demikian, Sukadi menjelaskan bahwa Oscar telah diperiksa untuk dimintai keterangan, namun dia tidak terlibat kasus penganiayaan. “Dia (Oscar) hanya saksi. Yang melakukan penganiayaan adalah ketiga tersangka,” tegas Sukadi.

Mengenai latar belakang penganiayaan dan pemerasan yang dilakukan ketiga tersangka, Sukadi menyebut aparat Polsek Denpasar Utara masih mendalami modus dan peranan ketiga tersangka. “Mereka masih diperiksa, termasuk korban. Nanti kalau sudah ada hasilnya, barulah akan sampaikan,” ucapnya kepada wartawan.

Baca juga :  Langgar Prokes, Pengunjung RM Hita Dibubarkan

Informasi yang dihimpun di lapangan, kasus penganiayaan dan pemerasan tersebut berawal saat Windu merta berniat membeli mobil. Dia ditawari mobil Toyota Innova oleh Asep dengan harga murah.

Windu dan Asep sepakat bertransaksi di depan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Denpasar di Jalan Purnawarman, Lumintang, Denpasar Utara, pada Senin (25/10). “Saat tiba di lokasi, korban diajak oleh Asep minum di minimarket di dekat TKP,” kata seorang polisi.

Baca juga :  Kinerja Tak Optimal, Kepala Pasar Amlapura Timur dan Barat Dicopot

 

Selanjutnya Windu menyerahkan uang muka sambil menagih mobil yang dibelinya. Ternyata Asep enggan menyerahkan mobil tersebut, sehingga membuat Windu ragu. Dia lalu minta balik uangnya. Ternyata Asep memanggil dua temannya yakni Oter Ali dan Imam. Mereka lantas menarik Windu untuk dimasukkan ke mobil Toyota Innova nopol DK 1667 CW warna hitam. “Hasil pemeriksaan polisi, mereka (tersangka) diduga anggota sindikat penipu dengan modus menjual mobil murah” tegas polisi.

Selain mengambil uang korban senilai Rp 50 juta, para tersangka juga merampas HP milik korban. “Masih didalami latar belakang para tersangka,” tandas polisi. (yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini