Gubernur Koster Minta Bupati Jembrana Berdayakan Garam Lokal

garam
TINJAU PETANI GARAM - Gubernur Bali Wayan Koster meninjau anggota Kelompok Petani Garam Kembang Sari di Desa Gumbrih, Pekutatan, Jembrana, Kamis (28/10/2021). (DenPost.id/ist)

Jembrana, DenPost.id

Gubernur Bali Wayan Koster melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Desa Gumbrih, Pekutatan, Jembrana, guna melihat produksi garam tradisional yang tergabung dalam Kelompok Petani Garam Kembang Sari, Gumbrih, pada Kamis (28/10/2021).

Dalam pidatonya, Gubenur Koster menyebut garam tradisional sangat penting untuk kehidupan krama (warga) Bali. Untuk itu dia mengeluarkan Surat Edaran (SE) Gubernur No.17 Tahun 2021 tentang pemanfaatan produk garam tradisional lokal Bali. Termasuk sentra garam yang ada di Desa Gumbrih ini.

“Saya mengarahkan Kadis Koperasi Provinsi Bali untuk memfasilitasi, membentuk kelompok dan koperasi. Tidak perlu bayar. Akan saya dorong untuk diberdayakan,” tegas Gubernur tamatan ITB ini.

Dari koperasi ini akan mendapat fasilitas bantuan untuk memproses garam tradisional. Koster berharap agar proses tradisionalnya dipertahankan seperti rasa, kualitas,  dan keunikan, yang terjaga sehingga menjadi sumber perekonomian masyarakat Desa Gumbrih.  “Aturan SNI tentang garam beryodium bahwa garam kita tidak bisa masuk supermarket (swalayan) dan pasar modern. Sekarang dengan adanya SE, maka bisa masuk (pasar modern),” terangnya.

Baca juga :  PTM di Luar Zona Merah Digelar Juli Mendatang

Gubernur juga menyebut kemasan garam tradisional Bali  diperbaiki agar nilainya makin naik. Juga dibungkus yang baik agar bisa masuk pasar modern. Nanti koperasi membina agar kemasannya bisa lebih baik. “Nanti saya kasi tahu Bupati agar masyarakat Jembrana menggunakan dan mekonsumsi garam Desa Gumbrih,” tegasnya.

Dia juga menyebut BPD Bali akan membantu dengan Program KUR Mesari dengan bunga rendah dan menurun.

Kepada bendesa, Gubernur Koster minta agar mengumpulkan masyarakat yang dulu petani agar bisa berproduksi garam lagi. “Semua sentra garam se-Bali akan saya kembangkan sebagai sumber perekonomian masyarakat sebagai implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali di bidang pengembangan sektor kelauatan dan perikanan, serta konsep ekonomi kerthi Bali,” tegas Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Baca juga :  Diduga Masalah Utang, Harimbawa Tewas  Gantung Diri

Gubernua juga berdialog dengan petani garam setempat, Ni Wayan Sukar, yang berprofesi sebagai petani garam secara turun-temurun. Sukar menjelaskan proses pembuatan garam laut dimulai dari tahap mengumpulkan bunga pasir berwujud kristal. Lalu mengumpulkan lapisan atas pasir dituangkan dalam wadah kayu.  Selanjutnya proses nyosor atau menuangkan air laut ke dalam kotak besar. Rembesan air pasir kemudian mengalir ke bawah menuju ember plastik. Jika air garam sudah cukup, lalu dialirkan kelempengan besi yang dipanaskan untuk proses penguapan.  Proses ini merupakan tahap akhir pada pembuatan garam laut dengan sumber pemanasan dari kayu bakar.

Baca juga :  Blusukan, Bupati Jembrana Temukan Sapi Bantuan Kurus

Ni Wayan Sukar beserta 16 KK anggota kelompok petani garam Desa Gumbrih mengaku mampu menghasilkan hingga 25 kilogram garam per hari. Garam-garam itu dijual curah seharga Rp 10 ribu per kilogram.

Selain memberikan pengarahan kepada petani garam setempat, Gubernur Koster menyerahkan secara simbolis bantuan sembako yakni beras kepada warga dengan masing-masing mendapat 5 kilogram.  (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini