Gubernur Koster Ajak Warga Gunakan Garam Lokal

kosterku
TINJAU SENTRA GARAM - Gubernur Bali Wayan Koster (tengah) saat meninjau sentra produksi garam tradisional lokal Bali di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, pada Minggu (7/11/2021). (DenPost.id/ist)

Gerokgak, DenPost

Gubernur Bali Wayan Koster minta Pemkab Buleleng agar mengajak seluruh pegawai setempat memanfaatkan produksi garam tradisional lokal Bali di Buleleng sebagai wujud nyata mengimplementasikan konsep Trisakti Bung Karno yakni: Berdaulat secara politik, Berdikari secara ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan.

Permintaan itu disampaikan Gubernur Koster saat meninjau sentra produksi garam tradisional lokal Bali di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, pada Minggu (7/11/2021). Saat itu hadir pula Wakil Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali I Wayan Mardiana, Direktur Utama BPD Bali I Nyoman Sudharma, dan Perbekel Pejarakan I Made Astawa.

Dalam peninjauan tersebut, Perbekel Pejarakan I Made Astawa menjelaskan di hadapan Gubernur Koster bahwa proses pembuatan garam di Desa Pejarakan dilakukan secara tradisional. Proses ini dikenal dengan nama tambak garam yang memiliki luas lahan 200 hektar. Lahan ini dikelola masyarakat yang punya sertifikat di lahan tambak setempat, kemudian ada yang dikelola swasta dan pemda.

Peredaran pasar produk garam tradisional lokal Bali di Pejarakan ini hanya dilakukan di Buleleng, Karangasem, dan Kota Denpasar. Made Astawa menambahkan bahwa sebelum dipasarkan, para petani garam menjual hasil panen ke koperasi senilai Rp 700/kg. Setelah dihaluskan dengan sistem pencacahan, pihak koperasi kemudian menjual garam Pejarakan ini dengan harga Rp 1.400/kg ke pasar lokal Bali.

Baca juga :  Ngaku Kerja di Kapal Pesiar, Pemuda Menghilang

Ketua Koperasi Garam Bumi Putih Nusantara Ikhsan yang juga Ketua Kelompok Petani Garam di Desa Pejarakan mengatakan ada 170 orang yang dipekerjakan di tambak garam seluas 200 hektar ini. Sedangkan jumlah anggota Koperasi Garam Bumi Putih Nusantara ini hanya 40. Di sentra garam ini juga ada 17 kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri atas 10 orang. Petani garam setempat mampu memproduksi garam 15 ribu ton setiap tahun. Selain didukung faktor cuaca dan lahan yang sangat luas, produksi garam itu juga dibantu BPD Bali dengan memberikan bantuan permodalan usaha.

Sedangkan Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan bahwa sesuai Surat Edaran (SE) No.17 Tahun 2021 tentang pemanfaatan produk garam tradisional lokal Bali, pihaknya akan memberdayakan produk garam tradisional lokal Bali ini dari hulu sampai hilir. Hal ini sejalan dengan amanat Pergub Bali No.99 Tahun 2018 tentang pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali. ‘’Pemberdayaannya, kita lakukan mulai dari petani, kemudian yang mempunyai lahan, hingga koperasinya. Kita akan jadikan sebagai lembaga dengan nama Kelompok Bersama Satu Pintu untuk garam Pejarakan. Jadi nanti yang menjadi anggota adalah petani garam, bukan orang lain. Siapa yang bertani garam dari memproses air laut sampai menjadi garam, maka itu yang akan menjadi anggota koperasi dan dikelola secara profesional,’’ jelas Gubernur Bali tamatan ITB ini, yang disambut tepuk tangan para petani.

Baca juga :  Resmikan Gedung MDA Tabanan dan Buleleng, Gubernur Ingatkan Penanganan Sampah

Gubernur Koster berharap agar produksi garam di Pejarakan tetap dijaga secara tradisional dan jangan diberi yodium. Biarkan garam tanpa yodium, lebih sehat dan hasilnya berkualit serta terbukti sebagai produk garam tradisional lokal Bali yang diminati pasar ekspor. Untuk bisa masuk pasar ekspor, sesuai informasi dari Lembaga Pembiayaan  Ekspor Indonesia (LPEI), minta garam tradisional lokal Bali itu tidak usah menggunakan yodium. Hal itu karena kebutuhan ekspor dan cukup garam murni serta memiliki cita rasa Indonesia, sehingga terkenal di dunia. ‘’Jadi jangan lagi pakai yodium, karena Indikasi Geografis (IG) produk garam tradisional lokal Bali sedang kami proses, sebentar lagi selesai se-Bali,’’ ungkap mantan anggota DPR-RI yiga periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini.

Baca juga :  Antisipasi Banjir, Dinas PUTR Buleleng Siagakan 100 Petugas Drainase

 

Gubernur Koster juga minta para petani dan koperasi garam di Desa Pejarakan supaya berinovasi lebih jauh seperti membuat kemasan garam yang lebih bagus agar bisa terjual di pasar lokal Bali. ‘’Sebelum  garam ini kita ekspor, sebaiknya kita mengajak seluruh masyarakat dan pengusaha pasar modern atau swalayan di Buleleng memanfaatkan produk garam lokal di Buleleng ini agar mimpi kolektif untuk mewujudkan Bali berdikari secara ekonomi bisa kita capai. Setelah terjual di Buleleng, maka saya harap produk garam di Buleleng ini memperluas pasar di wilayah Bali yang daerahnya tidak menghasilkan garam. Kemudian yang terpenting, Pak Wakil Bupati tolong wajibkan pegawai Pemkab Buleleng membeli produk garam tradisional lokal Bali, sehingga petani dan masyarakat kita sejahtera,’’ ungkapnya, disambut tepuk tangan petani garam.

Gubernur mengulang kembali ajakannya agar orang Buleleng harus pakai garam dari Buleleng seperti Pejarakan, Pemuteran, Les dan Tejakula.

Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini kemudian memberikan bantuan beras lokal Bali kepada para petani garam Pejarakan, untuk meringankan beban ekonomi mereka, sekaligus memberikan semangat untuk terus menjaga proses pembuatan garam secara tradisional tanpa yodium. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini