Pandemi, Pemasaran Digital Mampu Serap 20 Persen Hasil Perajin

picsart 11 14 12.22.20
Ketua Asperinda Badung, Putu Andika

MASA pandemi Covid-19, sudah dua tahun melanda dan berbagai strategi upaya dalam pemulihan UMKM sudah dilakukan untuk bertransaksi aman terhindar dari penularan Covid-19. Seperti pemasaran digital hingga transaksi pengiriman barang dengan kurir online.

Namun, seberapa besar pengaruh pemasaran digital ini bagi para perajin UMKM di Kabupaten Badung. Bisakah mereka meningkatkan penjualan hasil kerajinannya?, berikut wawancara DenPost, dengan Ketua Asperinda Badung, Putu Andika.

Menurut Andika yang juga perajin uang kepeng di Kabupaten Badung ini, selama masa pandemi para perajin yang tergabung dalam asosiasi perajin industri perdagangan (Asperinda) UMKM Kabupaten Badung melakukan pemasaran secara online. Tapi dalam pemasaran digital tersebut, pastinya juga mengalami kesulitan maupun kendala dan hal ini perlu disikapi secara bersama-sama. “Masalah yang terkadang dihadapi perajin kita adalah pemutakhiran desain hasil kerajinan. Perajin masih melakukan desain yang konvensional dan itu-itu saja. Selain itu, kami juga tetap butuh peran dari pemerintah saat ini, kenapa?, saat ini sudah akan dimulai dibukanya even-even pariwisata yang akan berlangsung di Bali. Jadi, ada akses buat perajin lokal dalam ikut melakukan promosi di sana,” ujar Andika, Minggu (14/11/2021).

Baca juga :  Terlilit Utang, Pemborong Proyek Curi 10 Batang Besi Gelondongan

Lebih lanjut Andika mengatakan dilihat dari segi persentase penghasilan dari pemasaran digitalisasi, pihaknya mengaku masih kurang karena kemampuan perajin tidak semaksimal mungkin dapat melakukan sistem baru tersebut . “Jadi, kemarin ada pendamping atau konsultan e-commerce untuk perajin menengah ke bawah karena banyaknya permintaan-permintaan desain baru sebuah produk. Tapi perajin tidak bisa memenuhi, mengingat para perajin hanya bisa melakukan desain produk itu-itu saja. Selain itu, saat membuatkan sampel para perajin ini juga keterbatasan modal juga sehingga prosentase penjualan digital tidak sampai 20 persen perajin menikmatinya,” paparnya.

Andika juga mengatakan gambaran ini dilihat di kawasan JAS (Jagapati, Angantaka dan Sedang) itu, dijadikan pilot project (proyek percontohan). “Dari survei yang kita lakukan kemampuan para perajin menggunakan sistem online ini sangat terbatas, sehingga perlu pengembangan lagi bagi para perajin di sana,’’ungkapnya.

Baca juga :  Kesulitan Disinfektan, Desa Adat Bualu Lakukan Penyemprotan Swadaya

Sebelumnya, Perbekel Sedang, I Gede Budityoga menuturkan dampak pandemi Covid-19 benar-benar merubah mata pencaharian masyarakatnya. “Dulu masyarakat kami banyak yang menekuni kegiatan kerajinan mematung, tapi sekarang kembali ke pertanian. Bahkan ada yang kini menjadi buruh proyek untuk bisa tetap penyambung hidup keluarga mereka. Yang membuat kami sedih adalah produk UMKM kami tidak bisa kami pasarkan seperti dulu dampak dari pandemi ini. Jujur kami katakan saat ini hanya beberapa masyarakat saja yang masih menekuni kerajinan patung kayu ini. Saat ini masyarakat kami lebih memilih melakukan penggarapan sawah dengan sistem buruh tani, serta menanam bunga upacara agar bisa dijual ke pasar setiap harinya,” terangnya. (dewa sanjaya)

Baca juga :  Buka Lewat Waktu, Salah Satu Cafe di Benoa Ditegur

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini