Gubernur Koster Konsisten Tolak Impor Garam ke Bali

kosternya
KEMASAN GARAM - Gubernur Bali Wayan Koster memperlihatkan kemasan garam tradisional Bali yang bagus, sehingga siap memasuki pasar modern di Pulau Dewata. (DenPost/ist)

Sumerta, DenPost.id

Gubernur Bali Wayan Koster konsisten memperjuangkan pemasaran garam tradisional Bali, bahkan hingga tingkat nasional. Dalam memberdayakan produksi lokal, dia juga bersikap menolak impor garam ke Bali.

Gubernur Koster pun konsisten meninjau sentra-sentra garam tradisional di seluruh Bali seperti Amed (Karangasem), Gumbrih (Jembrana), Kusamba (Klungkung),  Pejarakan (Buleleng), dan Desa Pemuteran (Buleleng).

“Kita sudah 300 tahunan dijajah, masak ekonomi kita dijajah lagi? Sebagai negara maritim, malu kita impor garam. Sebagai negara agraris, malu kita impor beras. Ingat jangan buat petani kita susah,” ujar Gubernur Koster dalam siaran pers Minggu (14/11/2021).

Garam tradisional Bali disebutnya cukup diminati di luar negeri, namun belum maksimal di Bali. Maka Koster berupaya agar garam lokal Bali masuk pasar modern dan dimanfaatkan oleh masyarakat Bali. Dengan demikian, secara ekonomi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani garam yang tersebar di pesisir Pulau Dewata. Guna mewujudkan hal tersebut Gubernur Koster menerbitkan Surat Edaran (SE) No.17 Tahun 2021 tentang pemanfaatan produk garam tradisional lokal Bali yang sejalan dengan Pergub Bali No.99 Tahun 2018 tentang pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian, perikanan dan industri lokal Bali.

Baca juga :  Adaptasi Kebiasaan Baru di Pasar, Sesetan Sidak Ini

Soal impor garam, Gubernur Koster pun sangat tegas memperjuangkan produk garam tradisional lokal Bali agar tidak dijajah oleh impor di dalam berbagai acara nasional yang dilehat di Pulau Bali. Hal itu juga dia sampaikan dalam Rakernas I Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) tahun 2021. Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng, ini di hadapan GPEI menyatakan saat ini masih ada kebijakan yang berpihak dengan impor. Hal ini kemudian, menurutnya, membuat produk-produk lokal Bali tertekan. “Karena kita sebagai negara agraris, sepatutnya kita tidak impor beras. Tetapi impor berasnya terus. Impor bawang putih juga terus,” bebernya.

Baca juga :  Jumlah Pasien Covid-19 Dalam Perawatan Terus Menurun

‘’Kita sebagai negara kelautan, negara maritim, sepatutnya tidak impor garam. Namun garamnya juga impor. Bagaimana ini? Kebalik-balik kita? Udah nggak benar caranya begini!’’ tegas Koster.

Melihat kondisi itu, dia mengingatkan seluruh anggota GPEI di Bali, bahwa Pulau Dewata punya garam terkenal di Kusamba, Amed, Tejakula hingga di Jembrana. “Jadi sangat luar biasa. Garam di Bali yang begitu bagus kualitasnya, dan garam kita sebenarnya disenangi di luar negeri. Namun gara-gara garam beryodium menjadikan garam Bali nggak bisa dijual di pasar tradisional, karena ada aturannya,” jelas Koster.

Baca juga :  Satpol PP Usir Warga Main Golf di Lapangan Lumintang

Hal itu juga dia sampaikan dalam peresmian Desa Devisa Garam Kusamba, Klungkung, tempo hari. Di hadapan Direktur Eksekutif Lembaga Pembiayaan  Ekspor Indonesia, James Rompas, dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Kantor Wilayah DJKN Bali dan Nusra Tenggara, Anugrah Komara, Gubernur Koster menyatakan Bali punya garam dan dimanfaatkan oleh hotel berbintang lima sampai ke beberapa negara, namum masyarakat Indonesia tidak memanfaatkannya. “Saya tekankan sekali lagi, garam kita di Bali sangat punya cita rasa yang bagus. Pasar modern di Bali tidak mau memasarkannya, sehingga ini tidak benar kebijakannya. Maka hal ini akan saya perangi,” tandas Koster. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini