Kasus Gigitan Anjing di Jembrana Bertambah

picsart 11 17 01.10.38
RABIES - Petugas Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana melakukan tindak lanjut kasus gigitan anjing rabies di Candikusuma, Kecamatan Melaya.

Negara, DENPOST.id

Di tengah pandemi Covid-19, kasus gigitan anjing rabies di Kabupaten Jembrana kembali terjadi. Gigitan terjadi di Kecamatan Jembrana dan Melaya. Kasus ini menambah deretan kasus gigitan HPR (Hewan Penular Rabies) di Bumi Makepung.
Tiga warga digigit anjing rabies belum lama ini.

Kabid Keswan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, drh. Wayan Widarsa, Selasa (16/11/2021) mengatakan, tiga kasus gigitan terjadi di tiga desa masing-masing di Kecamatan Melaya, Negara dan Jembrana.

Baca juga :  Pecah Rekor Sehari, 26 Warga Jembrana Terkonfirmasi Positif Covid-19

Dua kasus gigitan terjadi di dua desa yang sebelumnya pernah terjadi kasus gigitan anjing rabies yakni di Desa Batuagung di Kecamatan Jembrana dan Desa Kaliakah, Kecamatan Negara.
Sedangkan kasus baru, sambungnya, terjadi di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya.
“Anjing mix berusia 5 tahun mendadak ngamuk dan menggigit mata kaki kanan pemiliknya. Anjing ini sudah pernah mendapatkan vaksin rabies pada tahun 2019 lalu. Setelah menggigit, anjingnya mati” terangnya.

Menurut Widarsa, dari keterangan pemilik, anjing peliharaannya itu sempat lepas keluar rumah dan berkelahi dengan anjing liar. Tidak berselang lama anjing ini menunjukan perilaku aneh dan kemudian diikat. Sebelumnya anjing ini sempat menggigit anak anjing lainnya. Dan anak anjing ini sudah lebih dulu mati.

Baca juga :  Pemuda Dauhwaru Peringati HUT RI di Rumah Pahlawan Dwinda

Pihaknya mengimbau untuk tidak mengganggap enteng gigitan anjing. Langkah pertama jika digigit anjing, lanjutnya, mencuci luka akibat gigitan anjing dengan deterjen selama 15 menit pada air mengalir. Selanjutnya segera pergi ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dikatakan pula, pengontrolan populasi anjing jantan dilaksanakan dengan kastrasi/neres dan yang betina disterilkan.
Widarsa berharap masyarakat bisa bersinergi mencegah penularan rabies.
Pemilik HPR diharapkan jangan melepasliarkan piaraannya, harus dirawat dan divaksin. “Vaksinasi tinggal menghubungi dokter hewan di setiap kecamatan dan akan didatangi. Selain respons kasus dengan vaksin emergensi dan penyisiran dari kasus, kami juga layani permintaan masyarakat, ” jelasnya. (120)

Baca juga :  Prokes Ketat, Cok Ace Lantik Pengurus BPC PHRI Jembrana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini