Jaga Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi, Polres Badung Lakukan Ini

picsart 11 17 01.26.37 (1)
TANAM BIBIT - Kapolres Badung, AKBP Leo Dedy Defretes, saat menanam bibit tomat dan mentimun di Ladang Subak Abian Buana Sari, Banjar Belok, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang.

Petang, DENPOST.id

Merebaknya pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap pariwisata di Bali. Sebagian masyarakat yang bekerja di pariwisata kehilangan pekerjaan lantaran kunjungan wisatawan menurun. Menekan tingkat pengangguran akibat pandemi, Polres Badung mengajak warga untuk berkebun atau bertani.

Kapolres Badung, AKBP Leo Dedy Defretes, mengaku terus mengembangkan program Polisi Berkebun di masing-masing kecamatan di wilayah hukum Polres Badung. Setelah sebelumnya di Kecamatan Mengwi dan Abiansemal, kali ini dilakukan di Kecamatan Petang. “Kami menanam bibit tomat dan mentimun di areal Ladang Subak Abian Buana Sari, Banjar Belok, Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, Badung, Selasa 16 November 2021,” ucapnya, Rabu (17/11/2021).

Baca juga :  Potongan Kaki Manusia Masih jadi Misteri

Menurut Dedy, kegiatan berkebun itu bertujuan untuk ketahanan pangan nasional di masa pandemi Covid-19 di wilayah hukum Polsek Petang. “Kami memang mencari lahan tidur tidak produktif untuk dijadikan lahan produktif serta bermanfaat untuk masyarakat. Tujuannya berkebun agar dapat menjaga ketahan pangan saat pandemi Covid-19,” katanya .

Kapolsek Petang, AKP Ketut Gita, menambahkan, dipilihnya lahan ini di Banjar Belok karena lahan ini lama tidak dimanfaatkan oleh warga untuk berkebun, sehingga menjadi lahan tidur. “Karena di sini ada lahan tidur untuk dijadikan lahan produktif, akhirnya kami membantu memberikan tenaga untuk pengolahan lahan tersebut menjadi lahan produktif dan juga membantu pembibitan, perawatan dan hasilnya nanti dikembalikan ke warga,” imbuhnya.

Baca juga :  Beraksi di Belasan TKP, Pencuri Motor Diciduk

Menurut Gita, di wilayah Petang banyak terdapat lahan kosong. Hal itu dikarenakan di tengah pandemi Covid-19 para petani mengalami kendala modal dalam menggarap lahan miliknya. “Para petani memerlukan banyak biaya untuk membeli pupuk, bibit, dan penggempuran tanah,” tegasnya. (wiadnyana)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini