Kemendikbudristek Makin Fokus Cegah Korupsi

ngobrasku
NGOBRASS - ‘’Ngobrol Bareng Asik Saat Senja (Ngobrass)’’ di Hotel Holiday Inn Baruna, Kuta, Selasa (16/11/2021), yang menghadirkan pembicara kunci, Inspektur Jenderal Kemendikbudristek Dr.Chatarina Muliana Girsang.

Kuta, DenPost.id

Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) belakangan ini makin fokus mencegah korupsi yang terjadi di lingkup pendidikan, menyusul diluncurkannya program Rumah Cegah. Ini merupakan aplikasi terapan berbasis teknologi informasi dengan sasaran awal sosialisasi kepada 67 juta individu di kalangan siswa, mahasiswa, guru, dosen, tenaga kependidikan,  keluarga serta pemangku kepentingan dunia pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sejak diluncurkannya program Rumah Cegah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhir bulan lalu, sambutan publik yang terpantau melalui media analitik ternyata cukup menggembirakan. Ini terlihat melalui antusiasme para siswa, mahasiswa, guru, dosen dan tenaga kependidikan yang secara masif saling berbagi upaya pencegahan korupsi sesuai porsi dan kapasitas masing-masing. Dengan demikian tercapai target awal bahwa opini korupsi adalah musuh dunia pendidikan dan menjadi tanggung jawab bersama ke semua lapisan.

Program Rumah Cegah sebenarnya tidak hanya satu dimensi persoalan pencegahan korupsi, tetapi akan bergerak bersamaan dengan persoalan krusial dunia pendidikan lain seperti pencegahan intoleransi, radikalisme, perundungan, kekerangan seksual, penyuapan, gratifikasi, dan fraud, serta dimensi lain yang dinilai sebagai pengganggu utama jalannya dunia pendidikan berkualitas.

“Tidak mungkin Indonesia sukses memperbaiki kualitas pendidikan sepanjang parasit-parasit tersebut kita hapuskan bersama,” ujar Inspektur Jenderal  Kemendikbudristek, Dr.Chatarina Muliana Girsang, dalam acara ‘’Ngobrol Bareng Asik Saat Senja (Ngobrass)’’ di Hotel Holiday Inn Baruna, Kuta, Selasa (16/11/2021). Dia menanggapi  apresiasi positif dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kementerian PAN-RB tentang Rumah Cegah yang nanti secara sistemik berdampak positif dalam hal pemberantasan korupsi di Indonesia. Melalui pantauan tim Rumah Cegah yang selalu dievaluasi setiap hari, terlihat ada keberanian kalangan siswa untuk bersuara menegakkan kebenaran dalam hal kegiatan belajar-mengajar yang dinilai menyimpang dari nilai-nilai kejujuran hakiki. Mahasiswa, guru dan dosen juga tidak kalah kritisnya memberikan pandangan tentang perilaku korup yang sama-sama dipandang sebagai tindakan tercela dan jauh dari nilai kejujuran.

Baca juga :  Ketut Pringgantara : Edukasi Masyarakat Banjar Donor Darah

Menurut Chatarina Muliana Girsang, tidak dapat dimungkiri bahwa pandangan negatif masyarakat tentang perilaku korupsi tersebut masih mengancam dunia pendidikan, karena konstribusi dana untuk pembiayaan fungsi pendidikan dari APBN begitu besar. Hal ini perlu pengawasan bersama antara pemerintah dengan masyarakat. Alokasi dana dimaksud untuk tahun 2021 sebesar Rp 541 triliun lebih. Dimana Rp 299,1 triliuan di antaranya ditransfer ke daerah-daerah, Rp 55,9 triliuan diberikan kepada Kementerian Agama, sedangkan dana yang diberikan untuk Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sebesar Rp 73 triliun, serta diberikan kepada kementerian dan lembaga lain sebesar Rp 23,9 triliun.

Baca juga :  "Spearfishing" di Pantai Kuta Seorang Warga Hilang Terseret Arus

Inspektorat Jenderal Kemendikbudristek tetap membuka ruang pengawasan kepada seluruh pemangku kepentingan, khususnya bagi aparatur pengawasan di provinsi, kabupaten dan kota, untuk bersama-sama mengawal peruntukan alokasi dana pendidikan sampai ke alamat dalam upaya mendukung terciptanya pendidikan berkualitas bebas dari aroma korupsi.

Konsep pencegahan korupsi melalui Rumah Cegah mengesampingkan anggapan bahwa seolah-olah korupsi suatu kebutuhan karena siapa pun pelakunya, karakter rakus terus saja melekat. Begitu pula anggapa bahwa tindak kejahatan korupsi seolah merupakan sistem dalam dunia birokrasi. Yang jelas Rumah Cegah berupaya membangun kejujuran dengan pendekatan melentur dari akar, sehingga suatu saat para siswa atau mahasiswa, kemudian suatu

Baca juga :  Rawan Picu Kemacetan, Wakapolda Bali Evaluasi Lokasi Penyekatan

saat menjadi publik figur, maka urut melakukan upaya pencegahan sekaligus memberikan konstribusi menurunkan indeks persepsi korupsi yang belakangan ini begitu buruk dilabelkan kepada Indonesia.

Untuk mendukung proses sosialisasi Rumah Cegah sekaligus mengasah kreativitas anak bangsa melalui berbagai kegiatan positif yang bertujuan memperkuat nilai integritas di dunia pendidikan, maka diselenggarakanlah Festival Cegah Korupsi 2021. Festival yang mengusung tema “Berani Jujur Itu Keren” mempunyai beberapa kegiatan yang dilaksanakan secara daring yaitu: Webtalks (diskusi aaring), Kompetisi Kampanye Sosial,  Kompetisi Video Opini, Kompetisi Video Animasi, dan Kompetisi Desain Poster.

Festival Cegah Korupsi 2021 dilaksanakan selama dua bulan yang dimulai dengan tahapan pendaftaran peserta pada 5 Oktober 2021 dan berakhir pada 5 Desember 2021 berupa kegiatan penganugerahan pemenang.

Kegiatan Rumah Cegah nanti berlangsung terus-menerus dalam bentuk road show dari satu kota ke kota lain dengan cara hibrid melalui aksi luring dan daring hingga diharapkan akhir Desember menyentuh setidaknya 10 persen dari kelompok sasar siswa, mahasiswa, guru, dosen, tenaga kependikan, keluarga dan pemangku kepentingan pendidikan lain di lingkup Kemendikbudristek. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini