Gubernur Koster Perangi Joged Porno, Ajak Aparat Tak Ragu Menindak

koster23
Gubernur Bali, Wayan Koster

Sumerta, DenPost

Pentas dan tayangan joged bumbung yang tidak sesuai pakem terutama yang mengandung unsur pornog masih saja marak di Bali. Hal tersebut disayangkan Gubernur Bali Wayan Koster di tengah upayanya melestarikan kesenian Bali. Dia mengaku geram dan mengecam pelecehan terhadap kesenian tradisional Bali, joged bumbung.

Pelecehan ini, menurutnya, terjadi sejak beberapa tahun, namun hingga kini belum dapat dihentikan. Pada 1 Oktober 2021 lalu Gubernur Koster menerbitkan Surat Edaran (SE) No.6669 Tahun 2021 sebagai upaya melindungi dan melestarikan kesenian joged bumbung sesuai pakem tari Bali, nilai-nilai adat, tradisi, seni-budaya, dan kearifan lokal Bali.

Gubernur Koster minta aparat agar tidak ragu-ragu mengambil tindakan tegas terhadap joged bumbung porno. “Kami mengecam dan sangat menyayangkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab menampilkan kesenian joged bumbung dengan sengaja mempertontonkan adegan yang tidak terpuji, melanggar etika dan kesantunan tari Bali. Untuk itu aparat yang berwenang, bupati/walikota, lurah, perbekel dan bandesa adat, agar mengambil tindakan tegas dan langkah penertiban”  kata Gubernur Koster  didampingi Kadisbud Provinsi Bali I Gede Arya Sugiartha, Selasa (30/11) lalu.

Gubernur menegaskan dan mengimbau seluruh masyarakat agar tidak lagi melecehkan kesenian joged bumbung sebagai seni tradisi Bali warisan budaya leluhur. “Kami tegaskan melalui SE Gubernur No.6669 2021, Pemprov Bali secara  resmi melindungi kesenian joged bumbung dari upaya pelecehan dan penyalahgunaan. Seluruh pihak yang memiliki kewenangan agar mengambil langkah tegas bila menemukan pementasan joged bumbung di luar pakem,” tegas Gubernur tamatan ITB ini.

Baca juga :  Identitas Bule Menari Bugil di Gunung Batur Akhirnya Terungkap

Lanjut Gubernur Koster bahwa kesenian joged ini telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO tahun 2015. Untuk itu masyarakat Bali wajib melestarikan, melindungi, dan memuliakannya. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan Bali, ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’, yang menjadikan kebudayaan sebagai hulu pembangunan. Oleh sebab itu semua objek kebudayaan harus dilindungi. Masyarakat, seniman, dan budayawan, harus turut-serta mendukung dan berperan aktif menghormati, melindungi, dan melestarikan, kesenian joged bumbung yang memiliki nilai estetika tinggi.

Baca juga :  Pemilik Kios Bunga Hias Temukan Granat di Dalam Pot Bonsai

Kepada instansi pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga swasta, Gubernur Koster mengimbau agar turut-serta membina sanggar, sekaa, dan kelompok kesenian joged di Bali, agar melakukan pementasan yang baik dan benar. Begitu pula kepada pengelola hiburan, hotel, dan restoran, agar tidak lagi menampilkan joged bumbung yang tidak sesuai dengan pakem tari Bali. Kepada pengelola dan penggiat media sosial, Youtuber, Instragram, dan sebagainya, diminta jangan menyebarluaskan konten joged bumbung yang mengandung unsur pornografi atau pornoaksi di platform medsos.

Dengan semakin tidak terkendalinya pelecehan terhadap joged bumbung, Gubernur Koster minta instansi kepolisian, bupati/walkota, lurah/perbekel, dan bandesa adat, supaya  mengambil langkah-langkah preventif, mencegah, dan menindak tegas, pihak-pihak yang memfasilitasi atau menyelenggarakan atau pihak yang mengunggah ke medsos.

Baca juga :  Depresi Usai Bertengkar dengan Istri, Dokter Coba Bunuh Diri

Untuk diketahui, beberapa konten joged porno atau joged jaruh kembali beredar luas di medsos. Hal ini mengundang keprihatinan semua pihak seperti seniman, pencinta joged bumbung, budayawan, dan masyarakat, karena peredaran joged porno ini menimbulkan citra negatif terhadap kesenian Bali. Joged bumbung ternodai oleh oknum yang tidak menghargai nilai-nilai artistik dan filosofi budaya Bali. Bahkan julukan joged bumbung kian melenceng, dikenal sebagai joged ngebor, joged jaruh, dan sejenisnya. Lebih parah, joged mumbung, yang sebelumnya diakui sebagai seni pertunjukan Bali yang bernilai estetika dan popularitas tinggi, belakangan ini terkesan sebagai kesenian murahan dan remeh. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini