Catatan Akhir Tahun ISI Denpasar, Dari Bali Bhuwana Rupa, Wall of Fame, Hingga Kukuhkan Tiga Guru Besar

isiku
WORKSHOP TERAKOTA - Rektor ISI Denpasar Prof.Wayan ‘’Kun’’ Adnyana saat mengikuti workshop terakota di kampus setempat belum lama ini. (DenPost.id/ist)

INSTITUT Seni Indonesia (ISI) Denpasar memasuki akhir tahun 2021 dengan langkah baru yang semakin mantap dan terkonsolidasi. Even diseminasi Bali Padma Bhuwana melalui program Bali-Bhuwana Rupa diselenggarakan dalam format virtual 360 derajat, workshop terakota dan prada, pembangunan Wall of Fame, pengukuhan tiga guru besar (profesor) baru, hingga pengusulan delapan program studi baru. Sivitas akademika ISI Denpasar dalam sembilan bulan terakhir sangat padu dan solid dalam membangun kampus seni kebanggaan Indonesia ini untuk mewujudkan moto baru yakni: Pusat Hub Seni dan Kreativitas Kelas Dunia atau Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BAACH).

Program Bali-Bhuwana Rupa merupakan pameran internasional yang melibatkan 24 maestro dan perupa bereputasi dalam galeri virtual pada laman: https://pameran.virtual.isi-dps.ac.id. Pameran yang menghadirkan Nyoman Nuarta, Nyoman Erawan, Arahmaiani Feisal, Siti Adiyati, Tiarma Sirait, Teguh Ostentrik, Wayan Karja, Ketut Muka, Nyoman Suardina, Wayan Setem, Made Sumadiyasa, Putu Wirantawan, Wayan Sudarna Putra, Wayan Suja, Lekung Sugantika, hingga perupa internasional, Ashley Bickerton, dan fotografer Aimery Joessel, dibuka Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri, Dr. Teuku Faizasyah, pada Jumat (26/11/2021).

Selaku kurator pameran Bali-Bhuwana Rupa dipilih: Prof. Setiawan Sabana, Dr.Jean Couteau, Seno Joko Suyono, Warih Wisatsana, dan Prof.Wayan ‘’Kun’’ Adnyana.

Baca juga :  Desa Padangsambian Kaja Serahkan BST Kepada 76 Warga

Selain program diseminasi Bali Padma Bhuwana, ISI Denpasar, dalam upaya penguatan kualitas pembelajaran akademik, juga menyelenggarakan workshop skala besar, yaitu: seni terakota dan cetak prada. Workshop terakota dengan narasumber Made Suka Winaya, Putu Oka Mahendra, dan Komang Adi Putra ini mengangkat tema ‘’Wana-Segara-Ampo’’, dan menghasilkan ratusan modul terakota bersubjek kehidupan biota laut.  Sedangkan workshop prada bertema Wana-Prabha-Prada mengajarkan teknik cetak warna prada pada kain dengan koordinator Anak Agung Anom Mayun Tenaya dan instruktur Jero Mangku Alit Wisaka.

Koordinator workshop terakota Dr. I Ketut Muka mengatakan bahwa luaran dari workshop, sebagaimana ratusan modul elemen estetik patung terakota tersebut, akan dirangkai menjadi patung monumental outdoor. “Kedua jenis workshop ini,  selain pengayaan pengetahuan dan keterampilan teknis seni mahasiswa, luaran workshop dapat dimanfaatkan sebagai karya seni untuk memperanggun lingkungan Kampus ISI Denpasar,” urai perupa keramik itu.

Dalam upaya pengembangan akademik, ISI Denpasar pada penghujung ini mengajukan delapan usulan pendirian program studi baru, yaitu: Pendidikan Seni (S2) dengan Ketua Tim Dr. Luh Sustiawati; Desain Game (S1) oleh Putu Arya Janotama, M.Sn.; Pendidikan Seni Rupa dan Desain (S1) oleh Dr. Sri Supriyatini; Desain Produk (S1) oleh Dr. Nyoman Suardina; Tata Kelola Digital Seni (S1) oleh Dr. Wayan Setem;  Teater (S1) oleh Dr. Gusti Putu Sudarta; Animasi (sarjana terapan) oleh Dr.Larry Julianto; dan Penyaji Seni Pertunjukan (sarjana terapan) oleh Dr.Wayan Sudirana. Seluruh tim telah menyelesaikan proposal dan telah diasistensi penjaminan mutu dan tim review internal yang dikoordinir Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Dr.Anak Agung Bagus Udayana dan Korpus Penjaminan Mutu Dr.Larry Julianto.

Baca juga :  Vaksinasi Bali Capai 1,6 Juta Jiwa

Masyarakat penyangga, baik maestro, seniman, budayawan, profesional, pejabat pemerintahan, maupun pengusaha bereputasi banyak memberi kontribusi luar biasa terhadap pemajuan seni dan budaya bangsa Indonesia, namun belum ada dibangun monumen untuk mengabadikan nama baiknya pada perguruan tinggi seni di Indonesia. Monumen seperti ini di luar negeri menjadi landmark/ikon kota/perguruan tinggi, seperti Hollywood Walk of Fame, Alabama Jazz of Fame, dan Australian Stockman Hall of Fame. Sebagai upaya penghormatan terhadap dedikasi masyarakat penyangga tersebut, ISI Denpasar secara khusus membangun monumen diberi nama Wall of Fame. Pada monumen berupa tembok monumental berbahan granit hitam dan merah, berukuran 14 meter X 4,5 meter itu, akan ditatah tanda tangan dan nama bagi maestro, seniman, dan tokoh bereputasi seperti Nyoman Nuarta, Sardono W.Kusumo, Ni Luh Menek, I Wayan Wija, dan seniman berpengaruh lain.

Baca juga :  Pengakuan Pembunuh Pemilik Warung, Emosi Setelah Istrinya Ditampar

Rektor ISI Denpasar Prof. ‘’Kun’’ Adnyana menjelaskan, bahwa capaian kinerja melingkupi aspek peluasan pembelajaran; aktualisasi strategik internasional Bali-Bhuwana Rupa; pengembangan akademik melalui pengusulan pendirian prodi baru; dan penguatan SDM dosen melalui pengusulan dan pengukuhan guru besar, tercapai dalam sembilan bulan terakhir. Hal ini berkat kerja solid seluruh sivitas akademik ISI Denpasar. “Moto Global-Bali Arts and Creativity Centre Hub (G-BAACH), sebagai perajut semangat, orientasi, dan dedikasi dalam mencapai cita-cita bersama yakni profil lulusan unggul, sivitas berprestasi, dan ISI Denpasar terpercaya,” tandas Kun Adnyana.

ISI Denpasar juga menerima “kado” akhir tahun berupa lolosnya pengusulan dua guru besar baru Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) yaitu: Prof.Dr. I Komang Sudirga dan Prof. Dr.Ni Made Ruastiti. Selain itu, dosen FSRD, Prof. Dr. I Wayan Mudra, secara bersama-sama akan diinagurasi melalui acara pengukuhan dan kenal publik guru besar anyar ISI Denpasar. Acara dilaksanakan secara luring-daring pada Jumat (17/12) mendatang. (kmb)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini