Pelaku Utama Belum Tertangkap, Bali Masih Jadi Sasaran Aksi Kejahatan Skimming

picsart 12 10 03.41.44
DITANGKAP - Polisi menangkap tiga warga negara asing yang membobol data nasabah bank di Bali.

Kereneng, DENPOST.id

Tiga orang warga negara asing (WNA) ditangkap Tim Resmob Direktorat Reskrimum Polda Bali dalam kasus pencurian data nasabah bank atau skimming. Sayangnya, ketiganya, Baklanova Khrystyna alias Nova (33) asal Ukraina, serta A. Can Yigit (33) dan Musa Balca (34) asal Turki, hanya bertugas di lapangan. Sementara otak atau pengendali dari aksi kejahatan antarnegara itu masih berkeliaran. Dan, Bali masih menjadi target dari kasus skimming tersebut.

Komplotan pelaku skimming, A. Can Yigit dan Musa Balca yang ditangkap di Jalan Raya Lukluk, Sempidi, Mengwi, Badung, pada Senin 22 November 2021, dikendalikan oleh residivis berinisial MA asal Turki yang pernah ditangkap Polda Bali pada 2018 lalu dalam kasus yang sama. “MA ini perantara dari pengendali lainnya yang tinggal di Korea Selatan,” kata Direktur Reskrimum Polda Bali, Kombes Ary Satriyan, yang diwawancari saat konferensi pers, Kamis (9/12/2021).

Baca juga :  Cegah Warga Luar Masuk, Kelurahan Ubung Patroli Bersama

Ary mengaku masih memburu MA yang diduga masih berada di wilayah Indonesia. Selain A.Can Yigit dan Musa Balca, komplotan MA juga sebelumnya ditangkap di wilayah Yogyakarta, Surabaya dan Jawa Timur. “Alat-alat yang digunakan para tersangka membobol data nasabah bank dikirim oleh otak komplotannya dari Korea Selatan. Sedangkan MA mengendalikan dari jarak jauh,” ucapnya.

Modus kedua tersangka dalam melakukan aksinya, A.Can Yigit memasang router yang terhubung dengan modem di mesin ATM. Sedangkan Musa Balca, memasang hidden kamera yang ditempel di atas keypad pin mesin ATM. “Setiap beraksi, mereka mengganti pakaian untuk mengelabui polisi,” ucapnya.

Setelah mendapatkan data para nasabah. Kemudian data tersebut dipindahkan ke kartu elektrik atau kartu ATM palsu yang dilakukan tersangka MA. Dan, kartu ATM itu bisa dipakai di mana saja untuk melakukan transfer atau menarik uang secara tunai. Hingga nasabah yang tidak pernah melakukan transaksi namun saldo uangnya berkurang bahkan hingga kosong.

Baca juga :  Paket GP Mencuat di Internal PDI Perjuangan

Dilanjutkannya, kedua tersangka baru beberapa minggu tiba di Bali. Meski demikian, pihak kepolisian telah menerima enam laporan dari para nasabah dengan kerugian mulai dari Rp 31 juta hingga Rp 50 juta. “Kedua tersangka ini memiliki ratusan kartu ATM palsu yang sudah ada PIN. 201 kartu warna gol bertuliskan VIP dan 195 kartu putih tanpa PIN. Kami perkirakan sudah ada ratusan nasabah yang datanya telah berada di tangan komplotan ini,” kata Ary.

Salain memburu pengendali dua tersangka pembobol data nasabah bank asal Turki, polisi juga masih menyelidiki pelaku yang mengendalikan Baklanova Khrystyna alias Nova. Wanita asal Ukraina ini hanya berperan sebagai pengambil uang. “Masih ada pelaku lainnya yang bertugas memasang router dan memindahkan data nasabah bank ke kartu elektrik yang digunakan menarik uang para korbannya. Pelaku utamanya kami duga masih berada di Bali,” imbuh Ary.

Baca juga :  Dua Pemuda Nyuri Motor, Hasilnya Digunakan untuk Ini

Meski baru sebulan datang ke Bali, Nova telah menguras uang para nasabah bank sebesar Rp 7 miliar. Modus tersangka ini berbeda dengan pelaku lainnya. Dia mentransfer uang untuk dibelikan bitcoin atau sejenisnya. “Jadi dalam sehari tersangka bisa mentransfer hingga ratusan juta rupiah. Dan aksinya ini sempat mengecoh pihak bank. Tersangka diperintah oleh pelaku utamanya. Dia menggunakan kartu ATM elektrik yang telah dipersiapkan,” imbuhnya.

Tertangkapnya tersangka berdasarkan laporan dari salah seorang korban yang tinggal di Sulawesi Tenggara. Korban kehilangan saldo Rp 325 juta meski tidak pernah bertransaksi. “Korban juga merasa aneh, karena tinggal di Sulawesi Tenggara namun ada transaksi dari Bali. Kami masih mengejar komplotan para tersangka,” tandas Ary. (124)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini