Empat Tahun, 48 Pelaku ‘’Skimming’’ Dibekuk di Bali

skim
PELAKU SKIMMING - Tersangka pelaku kejahatan skimming, Baklanova Khrystyna alias Nova asal Ukraina; serta A.Can Yigit dan Musa Balca, asal Turki, saat diperlihatkan kepada wartawan di Polda Bali, belum lama ini. (DenPost.id/dok)

Kereneng, DenPost

Pada penghujung tahun 2021, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bali mengungkap dua kasus skimming (mencuri informasi dari kartu kredit milik nasabah, menggunakan alat khusus skimmer). Polisi menangkap tiga tersangka yang semuanya warga asing. Mereka adalah Baklanova Khrystyna alias Nova (33) asal Ukraina; serta A.Can Yigit (33) dan Musa Balca (34) asal Turki.

Data yang diperoleh DenPost, Rabu (15/12/2021), komplotan pencuri data nasabah bank ini sengaja menjadikan Bali sebagai target karena banyak dikunjungi turis mancanegara dan kemungkinan dirasakan aman. Hal itu terbukti bahwa sejak tahun 2018 hingga 2021 atau dalam kurun waktu empat tahun, sebanyak 48 pelaku skimming berhasil diringkus polisi.

Dari ke-48 orang itu, sebagian besar warga negara asing (WNA), sedangkan WNI hanya delapan. Jika diklasifikasi, para pelaku skimming ini masing-masing 19 orang dari Bulgaria, 12 dari Rumania, masing-masing dua dari Polandia, Filipina dan Ukraina, serta tiga orang dari Turki.

Secara umum, para penjahat lintas negara ini beraksi dengan modus mencuri informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi pada setrip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal.

Baca juga :  Mendagri Panggil Wayan Koster dengan "Bli Gub"

Mengenai cara pelaku ilegal akses ini mendapatkan data rahasia dari nasabah bank, Direktur Reskrimum Polda Bali Kombes Ary Satriyan belum lama ini mengatakan pengungkapan kasus skimming beberapa waktu lalu itu yakni pelaku memasang router (perangkat internet yang terhubung dengan perangkat di lokasi lain) serta alat khusus penyimpan data bernama skimmer. “Selain itu alat yang paling penting adalah hidden camera (kamera tersembunyi) yang dipasang di atas keypad ATM untuk merekam nomor PIN yang dipencet para nasabah saat transaksi,” bebernya.

Baca juga :  Lima Kurir Narkoba Dibekuk di Tabanan

Ary menambahkan komplotan penjahat ilegal akses ini biasanya dikendalikan pelaku utama yang tinggal di luar negeri. Setelah merekam data para nasabah bank di Indonesia, pelaku utama memindahkan atau mengirim data-data itu secara detail ke kartu ATM palsu yang mereka beli di pasar gelap. Dengan menggunakan kartu itu, mereka menarik uang tunai, transaksi trading atau bitcoin, termasuk penukaran valuta asing (valas).

Kenapa Bali sering dijadikan sasaran dari kejahatan skimming? Kombes Ary Satriyan menyebut karena Bali banyak dikunjungi wisman. ” Umumnya para pelaku mengincar nasabah bank warga negara asing,” tegasnya.

Baca juga :  Gara-gara Tak Mau Pindahkan Kandang Kucing, Anak Bunuh Ayah

Sebelumnya, polisi menangkap tiga tersangka kasus skimming yakni Baklanova Khrystyna alias Nova asal Ukraina; serta A.Can Yigit dan Musa Balca, asal Turki. Sedangkan otak atau pengendali dari aksi kejahatan antarnegara itu masih berkeliaran.

A.Can Yigit dan Musa Balca yang ditangkap di Jalan Raya Lukluk, Sempidi, Mengwi, Badung, pada 22 November 2021, dikendalikan residivis berinisial MA asal Turkir. Dia pernah ditangkap Polda Bali tahun 2018 dalam kasus yang sama. MA sebagai perantara dari pengendali lain yang tinggal di Korea Selatan. Akibat ulah komplotan ini, para nasabah mengalami kerugian mulai dari Rp 31 juta hingga Rp 50 juta. (yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini