Brigjen I Gede Sugianyar Dwiputra: Daripada Diringkus BNN Mendingan segera Melapor

sugi
Kepala BNN Provinsi (BNNP) Bali Brigjen I Gede Sugianyar Dwi Putra

BADAN Narkotika Nasional (BNN) kini menyasar anak-anak muda agar mereka tidak sampai terjerumus kasus narkotika. Caranya, memanfaatkan media sosial (medsos) karena media itu sangat tren dewasa ini. Khusus bagi mereka yang telanjur kena narkoba, maka diberikan jalan terbaik yakni rehabilitasi.

Menurut Kepala BNN Provinsi (BNNP) Bali Brigjen I Gede Sugianyar Dwi Putra, UU No.35 Tahun 2009 menyebutkan bahwa setiap warga negara Indonesia (WNI) yang merupakan pecandu atau penyalahguna, maka wajib direhabilitasi oleh negara. Dengan demikian, bagi mereka yang merasa kecanduan obat-obatan terlarang (narkotika), lebih baik segera melapor ke BNN. Saat melapor itu, mereka tak langsung diproses secara hukum. Begitu pula privasinya tetap dijaga (dirahasiakan) dan rehabilitasinya ditanggung oleh negara alias gratis. ‘’Jika ada pecandu narkoba yang mau melapor ke BNN, maka privasinya tetap dijaga. Kalau dia kuliah atau bekerja, maka tidak akan diberi tahu kepada siapa saja. Dengan demikian, hak dia bekerja atau kuliah tidak hilang. Karenanya, lebih baik segera melapor ke BNN ketimbang ditangkap,’’ tegasnya.

Baca juga :  Kesembuhan Pasien Covid-19 di Denpasar Capai 95,93 Persen

Hal ini sejalan dengan program yang dicanangkan Kepala BNN RI Komjen Petrus Reinhard Golose dengan tagline ‘’War on Drug’’. Maksudnya melawan narkoba dengan tiga pendekatan yakni hard power, soft power dan smart power. Yang dimaksud hard power yakni keras pada bandar. Selain dihukum mati, bandar kakap juga dimiskinkan dengan dijerat tindak pidana pencucian uang (TPPU). Soft power di antaranya mengajak masyarakat agar tangguh melawan narkotika. ‘’Mereka yang berada di daerah merah narkotika diberikan pelatihan-pelatihan supaya tak sampai tertular narkotika,’’ tegas Sugianyar.

Baca juga :  Dua Oknum Polisi yang Sebarkan Video Asusila Terancam UU ITE dan Pornografi

Sedangkan smart power yakni sesuatu yang harus dilakukan, karena pada umumnya para bandar atau gembong narkoba  telah menggunakan teknologi modern seperti medsos. Dia mencontohkan untuk menangkap bandar di bandara, tentu harus memanfaatkan intelijen dan jaringan. Pada intinya BNN bergerak di hulu hingga hilir. Hal ini termasuk kerjasama BNN di daerah dengan BNNP RI ketika menangani penyelundupan 80 % narkotika lewat laut di Selat Malaka. (dof)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini