Kasusnya di Kaltim: Demi Keamanan, Korban Terpaksa Diterbangkan ke Bali

ipung
Siti Sapura alias Ipung

Kasus dugaan pencabulan dan persetubuhan dengan korban  anak usia 9 tahun yang diduga dilakukan oleh kakek tirinya di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim), menarik disimak. Penanganan kasusnya bergulir hingga korban bersama ibu kandungnya terpaksa harus meninggalkan Balikpapan ke Bali untuk sementara waktu demi keamanan. Hal ini dibenarkan kuasa hukum korban, Siti Sapura, akrab disapa Ipung, pada Senin (27/12/2021).

MENURUT Ipung, korban dan orangtuanya minta perlindungan darinya sehingga terpaksa mereka terbang ke Pulau Dewata. Ibu korban merasa tidak nyaman lagi di Balikpapan karena banyak orang atau pihak yang mendadak ingin bertemu dengannya sejak penyidik menahan tersangka pada 29 November 2021.

Baca juga :  Larangan Mengonsumi Mikol Dinilai Tak Cocok di Bali

“Banyak telepon gelap yang masuk, mulai dari pemuka agama, orang yang mengaku dekat dengan petinggi kepolisian, ada juga dari organisasi, bahkan orang dari partai politik, lembaga-lembaga UPTD dan lainnya, ingin bertemu,” terang Ipung.

Dia menambahkan bahwa ada juga penelepon gelap yang mengajak ibu korban untuk menghadap Direskrimum Polda Kaltim dan Kapolda Kaltim. ‘’Atas hal itu, akhirnya saya sarankan ibu korban untuk ke Bali saja,” lanjut Ipung.

Mengingat korban di sini, maka penyidik Polda Kaltim akhirnya terpaksa terbang ke Bali guna memenuhi petunjuk jaksa yaitu memeriksa korban, termasuk  untuk menyitaan telepon genggam ibu korban yang pernah digunakan untuk merekam pengakuan korban. “Beberapa hari lalu penyidik Polda Kaltim datang ke Bali untuk memintai keterangan atau mengkonfirmasi tentang warna mobil pelaku. Mobil tersebut diduga sebagai tempat pelaku melakukan tindak pidana pencabulan. Sedangkan pemeriksaan terhadap korban untuk memenuhi petunjuk jaksa dalam berkas P19,” terang Ipung.

Baca juga :  Episentrum Baru di Badung dan Denpasar Bakal Dirapid Massal

Petunjuk yang kedua, tambahnya, jaksa peneliti minta agar penyidik memeriksa korban mengenai kapan saja peristiwa pencabulan terjadi dan kapan dimulainya tindak pidana itu.

Tapi mengenai penyitaan handphone (HP) milik ibu korban, Ipung dengan tegas menolaknya dan menganggap alasan penyitaan itu tidak pada tempatnya karena sudah ada salinan rekaman suara korban di flashdisk. “Karena alasan itu saya menolak. Saya malah bertanya, kenapa harus handphone ibu korban yang disita? Sedangkan ibu korban bukan pelaku atau tersangka,” jelas wanita yang juga aktivis anak dan perempuan ini. (yad)

Baca juga :  HUT Perdana, Pakis Pilih Gelar Donor Darah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini