Tak Dapat Pengganti Tanah LC, Warga Mengadu ke Perbekel Padangsambian Kelod

rabu mengadu
ADUKAN NASIB - I Wayan Matur, warga Padangsambian Kelod, Denpasar, I Wayan Matur, didampingi sang anak, Gede Sandiantara, saat mengadukan nasibnya ke Perbekel (Kepala Desa) Padangsambian Kelod, Senin (27/12/2021). (DenPost.id/ist)

Denpasar, Denpost.id

Kasus dugaan penipuan dengan objek tanah tak pernah sepi di Bali. Bahkan beberapa hari belakangan ini pemberitaan mengenai kasus dugaan adanya mafia tanah kian gencar saja. Salah satu yang menjadi korban adalah I Wayan Matur, warga Padangsambian Kelod, Denpasar.

Didampingi putranya (Gede Sandiantara), I Wayan Matur mengadukan nasibnya ke Perbekel (Kepala Desa) Padangsambian Kelod, Senin (27/12/2021).

Saat ditemui wartawan, Sandiantara mengatakan bahwa dia bersama ayahnya menemui Perbekel Padangsambian Kelod untuk mengadukan nasib tiga sertifikat hak milik (SHM) tanahnya saat ini diduga ada di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Badung.

Dia lantas menceritakan ikhwal ketiga sertifikat tanah milik orangtuanya itu bisa sampai ke BPN. Sandiantara mengungkapkan bahwa tahun 1998 ada pembukaan jalan Marlboro Barat ( kini Jalan Teuku Umar Barat), sehingga muncul program land cosulidation (LC) dari pemerintah.

Baca juga :  Jro Gede Batur Alitan: ‘’Ngrastiti Bhakti’’ Selamatkan ‘’Krama’’ dari Kematian Akibat Pandemi Covid-19

Terkait hal itu, orangtua Sandiantara lalu menyerahkan tiga SHM kepada orang yang mengaku dari BPN Badung  berinisial DK. Saat itu dia minta kepada DK agar mendapat tanah LC atau tanah pengganti di pinggir jalan sesuai yang disepakati.

“Ayah saya menyerahkan tiga sertifikat tanah yang berlokasi di Subak Kedampang, Kelurahan Kerobokan Kelod, Kabupaten Badung, di rumah seorang pengawai BPN di Jalan Gunung Rinjani,” jelas Sandiantara.

Tapi aneh hingga tahun 2002, dia atau orangtuanya sama sekali belum juga mendapat tanah pengganti yang dimaksud. “Kami sempat mendatangi BPN Badung, tapi kami tidak mendapat jawaban yang pasti. Di kantor BPN, kami menemukan dua SHM kami yang masing-masing seluas  41 are dan 37,5 are, sedangkan satu sertifikat lagi yang luasnya 62 are tak kami temukan,” ungkap Sandiantara.

Baca juga :  Selama Pandemi Covid-19, Ketahanan Pangan Bali Terjaga

Anehnya lagi, di dua sertifikat yang ditemukan itu dan masih atas mama Wayan Matur terdapat tulisan tangan berbunyi,’’Sertifikat ini sudah dimatikan karena LC.’’

“Tapi anehnya dari tahun 1998 sampai kini kami belum juga mendapat tanah LC yang dimaksud, padahal tetangga yang lain sudah dapat,” tegas Sandiantara.

Atas keanehan inilah, dia bersama sang ayah mengadukan nasibnya ke Perbekel Desa Padangsambian Kelod. Perbekel Desa Padangsambian Kelod I Gd. Wijaya Saputra, S.H., kepada wartawan mengatakan bahwa pihaknya memang benar menerima pengaduan dari warga setempat, Wayan Matur dan Gede Sandiantara. “Benar, kami menerima pengaduan dari warga kami soal tanah LC yang terjadi di tahun 1998. Dari program LC itu sampai saat ini, warga kami itu belum menerima tanah pengganti,” jelasnya.

Baca juga :  Bilik Khusus untuk Pemilih Bersuhu Tinggi Tak Terpakai

Atas persoalan ini, Wijaya Saputra minta kepada pihak terkait agar membantu persoalan yang dialami Wayan matur dan Gede Sandiantara. “Saya selaku Perbekel memohon dan minta kepada pihak yang berkepentingan agar membantu warga kami yang bermasalah ini,” bebernya.

Saputra juga mengakui bahwa masih banyak warga setempat yang awam dengan persoalan tanah atau persoalan hukum. Untuk itu, dia mengimbau warga, bila mengalami persoalan yang sama, agar sesegera mungkin melapor ke pihak berwajib. “Saya juga mengimbau kepada warga saya agar jangan begitu saja menyerahkan surat-surat, apalagi surat berharga sepeti sertifikat tanah. Jika memang hal semacam ini ada, maka kami siap membantu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (yad)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini