Turun, Kasus Tipikor yang Ditangani Polda Bali

waka
BERI KETERANGAN - Wakapolda Bali Brigjen I Ketut Suardana memberi keterangan kepada para wartawan seusai membeberkan hasil kinerja Polda Bali selama 2021 pada Rabu (29/12/2021). (DenPost.id/doflank)

Kereneng, DenPost

Pengungkapan kasus tindak pidana korupsi (tipikor) yang dilakukan Polda Bali dan jajaran tahun 2021 menurun daripada tahun sebelumnya. Bahkan tidak ada kasus tipikor menonjol yang diungkap polisi. Wakapolda Bali Brigjen I Ketut Suardana mengatakan saat itu saat membeberkan hasil kinerja Polda Bali selama 2021 pada Rabu (29/12/2021).

Diungkapkan bahwa kasus tipikor yang ditangani Polda Bali dan jajaran tahun ini turun sebesar 18,18 persen. Rinciannya: tahun 2020 lalu ditangani 11 kasus, sedangkan tahun 2021 menjadi Sembilan kasus. Kasus kriminal itu di antaranya ilegal akses ada 12 kasus dengan 12 pelaku, dan penipuan lewat online ada delapan kasus dengan delapan pelaku. Hal ini beda dengan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali yang berhasil memecahkan berbagai kasus korupsi yang menjadi perhatian masyarakat, salah satunya kasus mantan Sekda Buleleng Dewa Puspaka.

Baca juga :  Tim Yustisi Denpasar Getol Imbau Pedagang Disiplin Prokes

Wakapolda menambahkan, naiknya angka pengangguran imbas dari pandemi ini, ternyata tak memicu tindak pidana secara signifikan. Malah kasus kriminal tahun 2021 menurun dibanding tahun 2020. “Secara umum terjadi penurunan sebanyak 14,95 persen kasus kriminal. Rinciannya: pada 2020 ada 2.107 kasus, sedangkan tahun ini tercatat 1.792 kasus,” tegas Wakapolda, di hadapan wartawan di Gedung PRG Polda Bali.

Menurut Brigjen Suardana, tren penurunan kasus kriminal itu juga signifikan terjadi dalam sejumlah kasus menonjol yakni pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekekerasan (curas), pencurian sepeda motor (curanmor), penganiayaan berat (anirat) dan pembunuhan. Lima kasus menonjol itu menurun 27,8 persen, yakni dari 550 kasus tahun 2020, menjadi 397 kasus tahun 2021. Turunnya kasus ini juga disebabkan cara Polda Bali dalam penanganannya yakni dengan pendekatan restorative justice (JC) atau penyelesaian masalah hukum tidak berorientasi pada pemidanaan, melainkan penanganan tindak pidana berdasarkan keadilan restoratif.

Baca juga :  Soal Pengadaan APD di Pilkada, KPU Dorong Pengusaha Lokal Ambil Peluang

Kasus kejahatan yang juga menarik perhatian masyarakat adalah skimming. Selama setahun ini, sebanyak tujuh kasus skimming diungkap Polda Bali, dengan jumlah 12 tersangka, yang rata-rata warga negara asing (WNA).

Begitu juga kasus pornografi ada enam kasus dan 6 tersangka, pencemaran nama baik ada sembilan kasus dengan sembilan tersangka dan dua kasus penyebaran berita bohong (hoaks) dengan dua tersangka. “Termasuk beberapa kasus lain seperti tindak pidana pencucian uang (TPPU) satu kasus, kasus SARA dan pemerasan. Semua kasus ini ditangani Subdit Cyber Crime dengan total jumlah tersangka sebanyak lima puluh enam,” beber Suardana.

Baca juga :  Bali-Banyuwangi Sepakati Rapid Test Jadi Syarat Mutlak

Hal menarik yakni penanganan kasus narkoba yang tetap tinggi. Meski selama tahun 2021 ini terjadi penurunan kasus sekitar 7,48 persen, namun jumlah kasus yang ditangani cukup banyak yakni 717 dalam setahun. Sedangkan tahun sebelumnya sebanyak 775 kasus.

Suardana menambahkan tren kasus kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di seluruh Bali juga menurun, baik dari kasusnya hingga korban jiwa. “Tahun 2021 total 305 korban jiwa. Sedangkan tahun sebelumnya 397 jiwa. Jadi terjadi penurunan sebanyak 23,17 persen,” tandasnya. (yan)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini