DPRD Minta Kelian Banjar Adat Dapat Perhatian yang Sama

picsart 22 01 10 18 21 32 823
Anggota DPRD Bali, Ketut Juliarta

Semarapura, DENPOST.id

Pemberian bantuan insentif kepada perbekel dan bendesa dari Provinsi Bali, disambut positif sejumlah kalangan. Tak terkecuali Anggota DPRD Provinsi Bali dapil Klungkung, Ketut Juliarta.

Politisi asal Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan ini, mendukung program Gubernur Bali, I Wayan Koster tersebut. Namun, dia berharap bantuan insentif dari Provinsi Bali ini dapat diperluas hingga bisa dirasakan kelian banjar adat yang tugasnya bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Bantuan insentif ini sangat bermanfaat untuk para bendesa yang memiliki tugas penting di dalam pelaksanaan adat. Apalagi disituasi pandemi ini. Dengan adanya insentif ini, para bendesa bisa memenuhi kebutuhannya, sehingga bisa fokus bekerja sebagai bendesa adat demi bisa menjalankan tanggungjawabnya dengan baik,” ungkap Ketut Juliarta, Senin (10/1/2022).

Namun, Juliarta berharap kepada Gubernur Koster agar insentif tersebut juga bisa dirasakan oleh kelian banjar adat di seluruh Bali. Mengingat, keberadaan kelian banjar adat ini menjadi ujung tombak pelayanan yang langsung bersentuhan dengan krama banjar adat.

Baca juga :  Gubernur Serahkan 63 Sertifikat Merek Perorangan

“Setelah saya turun reses ke banjar-banjar yang ada di Klungkung, ada masukan dari krama banjar untuk membantu kelian banjar adat karena tugasnya sangat berat. Datang paling awal dan pulang paling akhir. Padahal menjadi ujung tombak pelayanan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” tuturnya.

Pihaknya pun berharap agar kelian banjar di seluruh Bali, bisa mendapatkan perhatian yang sama dengan bendesa dan perbekel. Apalagi sebagai kelian banjar tidak ada ikatan dinas, sehingga penghasilan untuk sehari-hari harus dicari dengan bekerja di luar profesi sebagai kelian banjar.

Baca juga :  Diterjang Hujan, Pohon Perindang Tumbang

Sementara salah seorang kelian banjar di Klungkung, Nengah Arianta mendukung kebijakan Gubernur Bali, Wayan Koster tersebut. Apalagi pada hakekatnya konsep kelian banjar adalah ngayah. Bahkan menjadi ujung tombak untuk melestarikan agama, adat dan budaya Bali. Belum lagi di tengah gempuran zaman moderenisasi, banyak tantangan yang harus dihadapi kelian banjar adat dalam upaya melestarikan agama, adat dan budaya, sehingga hal ini perlu disadari semua pihak. (119)

Baca juga :  Enam Nakes RSUD Klungkung Terpapar Covid-19

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini