Palebon Ida Cokorda Pemecutan XI, Warga Adat Hingga Kampung Islam Kepaon “Ketog Semprong”

palebon 1
PALEBON - Upacara palebon Ida Cokorda Pamecutan XI dilaksanakan, Jumat (21/1/2022).

Pemecutan, DENPOST.id

Keluarga besar Puri Pemecutan terlibat dalam palebon Ida Cokorda Pemecutan XI yang berlangsung pada Jumat (21/1/2022) siang di Puri Pemecutan, Jalan Thamrin, Denpasar. Acara ini bernama Pratiwa Nyawa Ngasti Wedana. Upacara ini menyedot perhatian ribuan masyarakat Denpasar. Tidak hanya warga adat, warga Kampung Islam ketog semprong berdesakan ikut menjadi bagian acara yang merupakan dresta di kalangan puri-puri di Bali ini.

Mereka mengikuti kegiatan sedari awal pemberangkatan bade hingga tiba di Setra Badung, serta mengabadikan setiap momen tersebut. Palebon merupakan prosesi puncak dari berpulangnya panglingsir Puri Pemecutan itu. Sebelumnya telah dilakukan tahapan-tahapan lain seperti memandikan jenazah pada 2 Januari 2022, hingga pengarakan ogoh-ogoh keliling Denpasar pada 18 Januari 2022 lalu.

Pemandu acara, Ida Bagus Gede Pidada, menerangkan, palebon diawali tahap mabumi sudha. “Beliau sudah menjalani dwijati patut dilakukan bumi sudha terhadap tunon (kuburan), maka tahapan layaknya wiku (pendeta),” teranngnya dalam bahasa Bali alus.

Dalam kegiatan ini, penerapan protokol kesehatan sulit diterapkan, utamanya mengenakan masker dan menjaga jarak. Namun panitia telah mewanti-wanti agar peserta yang terlibat kegiatan agar selalu menerapkan prokes. Panitia juga menyarankan warga untuk tidak menonton terlalu dekat, demi kelancaran kegiatan. Namun antusias masyarakat sulit dibendung.

Baca juga :  Togar Situmorang Harapkan Polda Tindak Lanjuti Laporan Berita Bohong

Bukan saja dari kalangan warga asli Bali, sejumlah warga dari Kampung Islam Kepaon juga turut hadir memberi dukungan. Sejumlah kelompok ingin terlibat dalam prosesi tersebut, namun dilihat secara jumlah, kekuatan warga adat Denpasar telah mencukupi. Keinginan berkontribusi kelompok masyarakat itu tidak lepas karena
almarhum dipandang sebagai sosok panutan karena mengayomi seluruh kalangan.

Salah satu warga Kampung Islam Kepaon, Amrilah, tak mampu menahan air matanya mengenang sosok almarhum. Menurut dia, komunikasi warga Kampung Islam Kepaon dengan Puri Pemecutan tak lagi terbatas.

“Kami hanya mengabdi di puri ini, tidak lebih daripada itu. Khusus pada kepada pemuda-pemuda, kami mempunyai puri, puri mempunyai kami. Mari bersama memikul beban yang sudah diwariskan oleh Puri Pemecutan maupun di Kampung Islam Kepaon,” ajaknya.

Sementara Ketua Panitia Pelebon, AA. Ngurah Rai Sudarma, pada sebuah wawancara belum lama ini mengatakan, upacara Pratiwa Nyawa Ngasti Wedana Ida Cokorda Pemecutan XI ini menggunakan bade tumpang solas atau sebelas, serta dikawal oleh arak-arakan ogoh-ogoh berbentuk raksasa. Ogoh-ogoh disimbolkan sebagai sang butha yang membuka akses jalan sang raja menuju alam sunia loka. “Semua ada filosofinya, seperti ogoh-ogoh itu merupakan membuka jalan agar tidak ada yang menghalangi perjalanan almarhum ke surga,” tuturnya.

Baca juga :  Cegah Kerumunan, Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Teller Bank Digelar di Polresta

Rai Sudarma menyebut, prosesi ini pernah digelar empat kali yakni pada 1962, 1986, 1993, 1998 dan saat ini 2021. Jika dihitung setelah wafatnya sang ayah atau Ida Cokorda Pemecutan X pada tahun 1986 berjarak 35 tahun. Upacara skala besar ini disebutnya merupakan tradisi yang dilakukan terhadap generasi Puri Agung Pemecutan yang telah menerima gelar sebagai raja.

“Jadi bukan gagah-gagahan, kami mengenal wasudewa kutumbakan, namun ini, kita bersaudara semua, tapi ada sesana,” tuturnya, didampingi anak bungsu almarhum yakni AAN Gede Kertagama dan menantu pertama almarhum, Ida Bagus Wesnawa.

Untuk menentukan jenis upacara tersebut, keluarga memohon petunjuk kepada 7 sulinggih atau pendeta Hindu.

Sekilas tentang upacara tersebut, bade yang digunakan sebagai tempat jenazah menuju setra atau kuburan adat yaitu tumpang atau beratap sebelas. Juga ada arak-arakan ogoh-ogoh. “Semua ada maknanya. Mungkin lalu lintas akan sedikit terhambat, mohon masyarakat memaklumi,” ujar Rai yang juga Bendesa Adat Denpasar itu.

Kendati akan berlangsung lama dan melibatkan ribuan krama, dia menyebut pihak keluarga tetap menghormati aturan pemerintah terkait penerapan protokol kesehatan. Pihak keluarga telah berkoordinasi dengan pihak terkait pengawasan prokes agar setiap tahapan berjalan lancar. Rai menyebut, sejumlah kelompok yang ingin terlibat dalam prosesi itu diimbau agar menahan diri.

Baca juga :  193 Lansia di Denpasar Ikuti Vaksinasi Covid-19

“Terutamanya warga Islam Kepaon kita minta janganlah lebih dari 25 orang, atau dengan bergiliran. Memang semangat warga Islam Kepaon luar biasa, setiap ada upacara besar di puri, selalu hadir,” tutur Rai.

Terkait mencegah kerumunan juga, pihak keluarga tidak melibatkan krama adat untuk ngiring, atau ikut ngaben. “Pada tahun 1962 itu melibatkan 2.500 sane nyarengin. Namun karena pandemi, bukan kami menolak, sampai saat ini prosesi masih ngeraga,” ungkapnya.

Sementara sang menantu, Ida Bagus Wesnawa menyebut upacara ini sekaligus menjadi momentum edukasi kepada generasi muda internal puri maupun masyarakat umum, bahwa ada adat istiadat yang patut kita jaga kelestariannya. Ia juga berharap ada sinergi antara pemerintah bersama krama adat untuk menjaga kearifan lokal di tengah aturan-aturan pembatasan kegiatan sosial akibat pandemi. Karenanya ada jalan tengah agar adat di Bali tetap berjalan, juga selaras dengan kebijakan pemerintah.

Puncak upacara dipuput 11 pendeta atau sulinggih. Hal ini dipandang spesial oleh keluarga, sebab saat almarhum dinobatkan sebagai Raja Badung ke XI juga dipuput 11 sulinggih. Rai sudarma mengatakan, acara ini termasuk telah mengalami penyederhanaan dibandingkan gelaran masa lampau, namun tidak menghilangkan pakem dari esensi upacara itu sendiri. (106)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini