Produksi Dodol Khas Desa Pengelatan Tetap Bertahan di Masa Pandemi

picsart 22 01 28 16 34 23 777
DODOL - Nyoman Yeti Supratmi (kiri) saat menunjukkan proses pembuatan dodol khas Pengelatan, Jumat (28/1/2022) di Desa Pengelatan, Buleleng.

Singaraja, DENPOST.id

Produksi dodol khas Desa Pengelatan di Kecamatan Buleleng tetap bertahan di masa pandemi. Walaupun tak selaris sebelum Covid-19 merebak, namun pelanggan yang sudah ketagihan dengan rasanya masih tetap membelinya. “Apalagi jelang hari raya, pesanan banyak hingga ke luar daerah,” ungkap Nyoman Yeti Supartmi (52), saat ditemui Jumat (28/1/2022) di Desa Penglatan, Kecamatan Buleleng.

Dia sendiri mulai terjun membuat dodol setelah pensiun bekerja sebagai karyawan hotel tahun 2015. Ketertarikannya membuat dodol setelah kondisi orangtua kandungnya Nengah Sumanti tidak maksimal membuat dodol karena telah usia lanjut. Tidak ingin usaha dodol yang dirintis orangtuanya itu terbengkalai, Yeti lantas mengambil alih usaha keluarganya itu sampai sekarang. Berkat ilmu dari orangtuanya sendiri dan ditambah dengan promosi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi seperti sekarang, dodolnya itu kini tetap dicintai oleh pelangganya.

“Waktu dulu saya kerja di hotel bersama suami, ibu yang membuat dan kalau libur ikut belajar membuat. Sekarang ibu sudah tua dan kebetulan saya sudah pensiun saya lanjutkan usaha ini dan sedikit saya kembangkan dengan model bisnis kekinian, astungkara dodol buatan dari ibu saya ini sekarang tetap dicintai oleh para pelanggan setia,” katanya.

Menurut Yeti, sejak berkembang, dodol yang dihasilkan ada empat ragam warna. Ada dodol hitam, merah, hijau, dan dodol kacang. Antusias konsumen yang terus meningkat, kemudian memaksa dirinya harus berkreasi dengan menciptakan ragam produk dalam bentuk lain, seperti kue iwel dan satuh dengan varian rasa beras ketan dan satuh kacang hijau. Bahkan, saat ini produknya ditambah dengan membuat kue pepelan dan rengginang.

Baca juga :  Satu UKM di Denpasar Produksi 150 Masker Per Hari

Tidak cukup itu saja, Yeti mengaku belakangan ini muncul permintaan dodol yang sengaja dipesan oleh Umat Tiong Hoa. Di mana saat penyambutan Hari Raya Imlek, dirinya menerima pesanan untuk membuat kue keranjang yang isinya diganti dengan dodol. “Kalau yang paling banyak dicari jelas dodol, apalagi ketika Galungan dan Kuningan itu permintaan antara 4 sampai 5 ton. Kemudian ada juga satuh kemudian kue iwel mulai banyak dipesan. Dan ini terbaru saya dapat pesanan dan mencoba membuat kue keranjang yang banyak disajikan saat Hari Imlek dengan isian dodol,” jelasnya.

Baca juga :  BRI Dinobatkan Menjadi Bank Terbaik 2022

Di tengah perkembangan bisnis akhir-akhir ini, Yeti terus berusaha menjaga keunggulan dodol yang diwariskan oleh orangtua kandungnya. Keunggulan itu terletak pada cita rasa yang bergizi hingga produk mampu bertahan 2 minggu hingga paling lama 1 bulan. Dengan catatan disimpan dalam suhu panas cukup, sehingga dodol tidak mudah berjamur. Yang paling penting lagi adalah pemilihan bahan baku dan tanpa memakai bahan pewarna kimia. Atas kondisi ini, sejak membuat dodol sampai sekarang, dodol buatannya menggunakan pewarna alami seperti kalau yang hitam memakai beras hitam (injin). Kemudian kalau hijau, dipakai campuran daun pandan dan daun suji. Sedangkan untuk pewarna coklat untuk dodol kacang, dirinya memakai tambahan perwarna dan rasa dari kacang tanah yang ditumbuk.

Baca juga :  Lindungi Produk Garam Tradisional, Gubernur Koster Berlakukan SE

“Dari dulu keungulan dari rasa enak, kenyal, dan tidak mudah berjamur. Kami jaga betul kualitas ini dengan tetap memakai pewarna alami dan tidak sedikitpun pakai bahan tambahan kimia, sehingga berkat dorongan pemerintah daerah juga dodol kami ini sudah bersertifikat halal,” katanya.

Yeti pun mengatakan akan fokus dalam pemasaran produk yang lebih luas. “Saat ini pemasaran selain di Buleleng, sudah merambah ke Gianyar, Denpasar, dan beberapa daerah lain di Bali,” imbuhnya.
Dia sangat berterima kasih dengan perhatian pemerintah, termasuk dukungan dari Kelompok Media Bali Post (KMB) yang telah memberi anugrah Bali Brand tahun 2021. Dengan bentuk pengakuan seperti ini, Yeti yakin produk lokal ini akan semakin eksis, dan tidak saja dijadikan bahan perlengkapan ketika upacara agama saja, namun dipilih sebagai produk buah tangan dari wisatawan yang berkunjung ke Buleleng. (118)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini