Covid-19 Kembali Merebak, PTM Diharapkan Jalan Terus

picsart 22 01 31 09 42 40 646
Gede Made Putra Wijaya

DUNIA pendidikan kembali dihadapkan dengan situasi yang dilematis pascaditemukannya penularan melalui transmisi lokal Covid-19 di sejumlah sekolah di Bali. Fenomena itu membuat banyak orangtua cemas jika anaknya menjalani pembelajaran tatap muka.

Sekolah-sekolah dengan temuan Covid-19 yang tinggi bahkan telah tutup atau lockdown. Kembali dilakukannya pembelajaran secara daring menimbulkan kegelisahan pengamat pendidikan, Gede Made Putra Wijaya.

Diwawancarai pada Minggu (30/1/2022), pria asal Desa Gerih, Badung ini mengaku tak sepakat pembelajaran tatap muka diberhentikan. Hal itu menurutnya bukan solusi dari degradasi kecerdasan anak setelah 2 tahun tak menjalani pembelajaran normal.

Baca juga :  Fasilitasi Warga di Masa Pandemi, Imigrasi Ngurah Rai Lakukan Ini

“Saya harap PTM jalan terus. Kita baru saja mulai per 3 Januari secara penuh dan efektif,” ungkap dia yang juga Ketua YPLP Kabupaten PGRI Badung itu. Kata dia, menjadi hal ironis jika siswa tidak boleh belajar tatap muka ke sekolah namun bisa jalan-jalan bersama teman-temannya secara bebas.

Peristiwa itu telah terbukti menimbulkan degradasi kecerdasan terhadap anak. Mulai dari kenakalan yang berlebih hingga ketergantungan terhadap gawai (gadge). Fenomena itu menurutnya berkorelasi terhadap munculnya beberapa kenakalan remaja yang di luar batas.

Di Kabupaten Buleleng sendiri belum lama ini ditemukan fenomena aksi asusila yang melibatkan pelajar. Dia memandang, pembelajaran secara jarak jauh dengan metode daring memang memudahkan anak untuk mengikuti pembelajaran.

Baca juga :  Gugah Gotong Royong Masyarakat, Suyasa Lakukan Ini

Secara kognitif, tentu metode ini bukanlah persoalan. Namun secara afektif dan psikomotor atau sikap dan keterampilan siswa, dia menilai metode ini kurang efektif. “Akhirnya banyak anak-anak kita yang tidak disiplin, daya serapnya menurun dan ketergantungan gadget,” katanya.

Maka dari itu, terkait kelanjutan pembelajaran tatap muka, dia menilai sekolah jangan dijadikan kambing hitam penularan Covid 19. Dia berharap pembelajaran tatap muka tetap dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga :  Terkait Pengelolaan Sampah, Bupati Beri Arahan Bendesa Adat Se-Badung

Menurutnya, potensi penularan bisa terjadi di mana saja. Maka dari itu dia memandang sinergi antara sekolah orangtua dan anak itu sendiri sangatlah penting, dalam menjaga kelancaran pembelajaran tatap muka.

Untuk di lingkungan sekolah, khususnya di SMK PGRI 1 Badung, Putra Wijaya mengatakan telah menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan ketentuan. Setiap siswa yang keluar masuk sekolah menjalani pemeriksaan.

Sebelum masuk mereka menjalani pemeriksaan suhu, kemudian diwajibkan mencuci tangan sebelum memasuki kelas. Dia berharap seluruh pihak berperan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak dan generasi muda Bali. (106)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini