Omicron Masuk Bali Sejak Januari 2022

omi
Ilustrasi perkembangan Omicron di Bali

Denpasar, DenPost.id

Misteri varian Omicron di Bali akhirnya terkuak. Gubernur Bali Wayan Koster mengakui bahwa Omicron telah menyebar di Pulau Dewata sejak Januari 2022. Hal tersebut diungkapkannya dalam jumpa pers pada Selasa (8/2/2022) di Rumah Jabatan Gubernur Bali di Denpasar.

“Munculnya juga sekitar tiga minggu sejak tahun baru berakhir di Provinsi Bali,” ujarnya, yang saat itu tampil seorang diri.

Masuknya Omicron, menurut Gubernur, tidak lepas dari aktivitas pariwisata akhir tahun 2021. Saat itu banya warga merayakan malam tahun baru. Aktivitas pariwisata ini berlangsung hingga 8 Januari 2022.

Atas kondisi tersebut, pada 15 Januari hingga sampai 25 Januari 2022 kasus covid-19 meningkat hingga menyentuh 2 digit. Berikutnya meningkat lagi hingga 4 digit. Sedangkan kasus aktif hingga kini mencapai 10.000 lebih. “Omicron itu. Saya kira itu sudah omicron. Perkembangannya sangat cepat. Percepatannya yang luar biasa dalam satu minggu belakangan ini,” ungkap Koster.

Baca juga :  Putus Mata Rantai Penyebaran Corona, Salat Idul Fitri Disepakati di Rumah

Hal itu juga menurut referensi pandemi yang terjadi di sejumlah negara dan di Jakarta. “Meskipun belum keluar semua hasil labnya, kira-kira itu menunjukkan gejala pola varian Omicron,” imbuh Gubernur Bali tamatan ITB, Bandung ini.

Namun dia tetap bersyukur karena tingkat kesakitan dari varian Omicron ini relatif rendah. Hampir 90% dari mereka hanya mengalami gejala ringan, hanya 10% bergejala sedang dan 10% di antaranya masuk rumah sakit (RS). “Ada orang yang hanya sedikit batuk dan sakit tenggorokan yang masuk rumah sakit.  Itu sebenarnya tidak perlu masuk rumah sakit. Kalau itu disaring lagi, saya kira yang masuk rumah sakit tidak mencapai 10%,” terang Gubernur.

Baca juga :  Dinkes Bali Edukasi Mantan Pasien Covid-19 untuk Donor Plasma

Untuk mengatasi situasi tersebut, dia berkoodinasi bersama Kapolda Bali dan Pangdam IX/Udayana untuk mengeluarkan instruksi terkait penanganan covid-19. “Walaupun gejala ringan, itu harus masuk isolasi terpusat, tidak boleh isolasi mandiri. Jadi harus isolasi terpusat. Sedangkan yang masuk rumah sakit hanya yang bergejala sedang dan gejala berat,” tegas Koster.

Dia menilai bahwa tingkat kesembuhan sekarang semakin meningkat. Hal ini sesuai dengan pola kenaikan kasusnya mulai dua hari belakangan ini. Dalam dua hingga tiga pekan, grafik tambahan kasus dapat terkendali.

Baca juga :  Dokter Spesialis Jantung di RSUD Klungkung Terpapar Covid-19

Sedangkan untuk tingkat kematian, Koster mengakui mengalami peningkatan. Dari yang sebelumnya rata-rata 0,3 persen, belakangan ini rata-rata 1 persen per hari. Mereka yang meninggal tersebut, sesuai investigasi, sebagian besar belum divaksin anticovid-19, memiliki komorbid atau penyakit bawaan, serta lanjut usia.

Untuk di Bali, vaksinasi reguler dosis pertama mencapai 104%, suntik kedua mencapai 94%, aksinasi untuk usia lanjut dosis pertama mencapai 84% dan kedua mencapai 74%. Sedangkan untuk vaksinasi anak usia 6 tahun sampai 11 tahun dosis pertama mencapai 105% dan dosis dua mencapai 93%. “Jadi ini angka tertinggi di Indonesia. Kita bersyukur karena pencapaiannya cukup tinggi,” tandas Koster. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini