Mafia Tanah Diduga Bermain di Kubutambahan

picsart 22 02 10 18 58 12 222
MAFIA TANAH - Tim Kejaksaan Agung RI, saat mendengar penjelasan warga soal lahan milik Desa Adat Kubutambahan, yang dimainkan mafia tanah, Kamis (10/2/2022).

Singaraja, DENPOST.id

Mafia tanah diduga bermain dalam pengelolaan tanah milik Desa Adat Kubutambahan seluas 327 hektar. Hal itu, diungkapkan koordinator krama, Gede Suardana, saat menyambut kedatangan tim Kejaksaan Agung di Bukit Teletubies, Kamis (10/2/2022) .

“Kami sudah melapor ke Polda, Polres dan terakhir kami bersurat ke Presiden dan hari ini kami apresiasi tim Kejaksaan Agung sudah turun ke wilayah kami,” ucapnya.

Baca juga :  Ganggu Ketertiban Umum, Pengamen dan Pengasong Ditertibkan

Dihadapan rim Kejaksaan Agung, Gede Suardana membeberkan permainan mafia tanah yang hanya memanfaatkan tanah milik Desa Adat Kubutambahan untuk mencarikan kredit hingga Rp1,2 triliun. “Termasuk ada satu persil terbit dua sertifikat dengan tahun berbeda. Itu yang ingin kita ungkap,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Kelian Desa Adat Air Sanih, Jro Made Sukresna yang tanah milik Desa Adat Air Sanih seluas 58 hektar juga ikut diagunkan. “Saya tidak tahu apakah tanah itu akan ikut jadi kawasan pembangunan bandara. Namun yang jelas, tanah milik krama kami diagunkan senilai Rp25 miliar,” ungkapnya.

Baca juga :  Dua Sejoli Terduga Pembuang Bayi Dalam Kardus Diamankan

Sementara tim Kejaksaan Agung yang disambut bentangan spanduk oleh warga masih belum mau berkomentar soal kedatangannya ke Kubutambahan. Namun dalam pembicaraan dengan warga, pihaknya ingin memastikan belum ada bangunan di lokasi sesuai laporan warga. Lahan ini rencananya dimanfaatkan untuk Bandara Bali Utara yang hingga kini belum jelas kepastiannya.(118)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini