Dilema Pengurus Panti di Klungkung, Gunakan HP Bekas Donatur untuk Anak Asuh Belajar Daring

picsart 22 03 04 18 36 54 815
BELAJAR - Anak-anak di Panti Asuhan Semara Putra, Klungkung, saat belajar secara mandiri.

Semarapura, DENPOST.id

Panti Asuhan Semara Putra di Jalan Dewi Sartika, pascabanyak donatur tetap yang mengundurkan diri, pengurus panti setempat tak hanya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anak asuhnya, tetapi juga harus bekerja keras untuk melanjutkan pendidikan mereka.

Dari 35 anak asuhnya, sebanyak 22 orang saat ini bersekolah di jenjang SMA, enam orang di SMP, empat orang di SD, serta tiga anak di TK. Semuanya membutuhkan biaya ekstra, lantaran selama pandemi Covid-19 pembelajaran lebih banyak dilakukan secara daring.

Salah seorang pengurus Panti Asuhan Semara Putra, Kadek Sukarya mengatakan selama pembelajaran daring, kebutuhan anak asuhnya otomatis bertambah. Utamanya ketersediaan handphone sebagai fasilitas penunjang untuk mengikuti kelas daring. Sementara, kondisi finansial panti kala itu, sangat-sangat terpuruk. Jangankan untuk memenuhi sarana penunjang pendidikan, untuk makan saja mereka harus irit.

Sedangkan, beberapa fasilitas komputer yang dimiliki panti selama ini, mayoritas sudah dalam kondisi rusak. “Pengeluaran anak juga ada biaya SPP-nya, apalagi sekarang anak-anak belajar daring. Anak-anak di awal pandemi tidak bisa mengikuti daring karena untuk makan saja kami susah apalagi daring,” imbuhnya, beberapa waktu lalu.

Baca juga :  Bongkar Kotak Sesari di Pura Ratu Pasek Pundukdawa, Mustika Diamuk Warga

Di tengah kesulitan yang dialami para pengurus panti, akhirnya salah seorang donatur yang masih aktif membuat kegiatan sosial, yakni dengan melakukan pengumpulkan handphone bekas milik teman-temannya yang masih layak digunakan. Berawal dari kegiatan tersebut, akhirnya berhasil terkumpul 22 handphone yang bisa dimanfaatkan oleh anak asuhnya untuk mengikuti daring.

“Karena hanya ada 22 HP, jadi anak-anak pakainya bergiliran,” ungkap Sukarya.

Walau keperluan HP sudah sedikit teratasi, rupanya masalah baru muncul kembali. Kini kendala dalam pemenuhan kuota internet untuk HP tersebut. Sedangkan, pengurus panti sudah pasti tidak sanggup memenuhinya. Demikian juga dengan pemasangan wifi, pengurus juga tidak memiliki kemampuan untuk membayar tagihannya.

Baca juga :  Oknum Anggota Polisi Diduga Bekingi Tajen, Ini Kata Kapolda Bali

“Belajar daring ini menimbulkan masalah yang banyak di panti asuhan. HP harus punya, koneksi internet harus ada. Sedangkan kalau beli paket kita tidak sanggup,” ujarnya dengan nada lirih.

Selain itu, selama daring anak-anak juga membutuhkan pembimbing untuk belajar, khususnya anak-anak yang masih bersekolah di jenjang TK-SMP. Apalagi di panti ada tiga orang anak yang berkebutuhan khusus, sehingga memerlukan bimbingan tersendiri. Sementara, para pengurus panti tidak ada yang memiliki keterampilan terkait persoalan tersebut. Oleh karena itu, selama pandemi ini anak-anak disabilitas di panti otomatis tidak dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.

Baca juga :  Gubernur Koster Tuntaskan Masalah Agraria Kali Unda

“Kami sempat senang saat pembelajaran tatap muka (PTM) dibuka, tapi ternyata tidak bertahan lama. Di sini kami ada tiga anak yang disabilitas. Kami kesulitan untuk membimbingnya, karena perlu keahlian khusus,” kata Sukarya, seraya berharap kondisi segera membaik dan anak-anak bisa melanjutkan pendidikannya tanpa terkendala persoalan apapun. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini