Dilarang Masuk Gedung DPRD, Demo Mahasiswa Nyaris Ricuh

dada
DEMO MAHASISWA - Demo mahasiswa di depan Gedung DPRD Provinsi Bali di Denpasar Selatan, Senin (11/4/2022), dengan menggelar orasi agar pemerintah menurunkan harga-harga. (DenPost.id/wiradana)

Sumerta, DenPost

Demo mahasiswa di depan Gedung DPRD Provinsi Bali di Jl. Dr. Kusuma Atmaja No.3, Niti Mandala, Denpasar Selatan, pada Senin (11/4/2022) nyaris ricuh. Pasalnya, sejumlah mahasiswa memaksa masuk gedung DPRD, namun dilarang oleh petugas keamanan dan pecalang.

Akibatnya mahasiswa yang berjumlah puluhan orang itu adu mulut dengan petugas keamanan, termasuk pecalang. Salah satu peserta demo bahkan nigtig tangkah atau menepuk dada karena emosi dilarang masuk. “Siapa yang milih DPR? Kami yang milih DPR!” seru salah satu peserta demo, sambal menepuk dada ke para pecalang.

Dalam aksi ini, massa menuntut agar pemerintah segera menurunkan harga pertamax yang baru saja naik harga menjadi Rp12.500. Kenaikan harga tersebut dipandang akan berdampak pada kenaikan harga barang-barang, terutama bahan kebutuhan pokok.

 

Baca juga :  Genjot Kuliah Daring, Unud Bagi Kuota Internet Gratis

Maka dari itu, massa menuntut agar Pemprov Bali bersurat ke pemerintah pusat yang menyatakan bahwa menolak kenaikan harga pertamax tersebut.

Tuntutan lainnya yakni menolak kenaikan tarif masuk tol dan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN). Humas aksi, Ari Laksmana menyebut demo Senin kemarin merupakan aksi awal.

Bila permintaan mereka tak digubris oleh pemerintah, maka pihaknya mengancam akan menggelar aksi serupa dengan jumlah peserta yang lebih banyak. Mahasiswa memandang aksi ini penting, karena kenaikan harga pertamax dan barang lainnya sangat membebani masyarakat miskin. Hal ini menjadi kegelisahan mereka sehingga tergerak melakukan demo.

Baca juga :  14 Kg SS dan Empat Truk Miras Dimusnahkan 

Sebagai wujud protes, massa menutup gerbang DPRD Provinsi Bali dengan kain hitam bertuliskan berbagai kalimat proses. Mereka kemudian melakukan orasi mengungkapkan kekecewaan terhadap kinerja pemerintah.

Aksi ini dijaga unsur pecalang dalam rangka menjaga wilayahnya. Wakil Ketua Pecalang Kota Denpasar Wayan Godra menjelaskan pecalang di seluruh Denpasar berjaga di perbatasan wilayah masing-masing untuk mencegah aksi anarkis.

Dalam mencegah terjadinya ricuh, Godra mengatakan pecalang melakukan pendekatan secara humanis. Meski sempat diwarnai adu mulut, pecalang tetap mengimbau massa secara santun dan bijak.

Baca juga :  Lima Kurir Narkoba Dibekuk di Tabanan

Upaya antisipasi kisruh juga dilakukan Ketua Majelis Desa Adat Madya Kota Denpasar AA Sudiana. Dia mengimbau seluruh masyarakat Denpasar, terutama kalangan mahasiswa, agar tidak melakukan aksi secara besar-besaran.

Hal itu guna mencegah penularan covid-19 dan mendukung kelancaran KTT G20 di Bali nanti. Setelah melakukan orasi, peserta demo melanjutkan aksi ke depan Kantor Gubernur Bali, kemudian membubarkan diri dengan tertib. (wir)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini