Teliti Dampak Nyepi, Empat Peneliti BMKG Bali Raih Penghargaan Uni Eropa

picsart 22 04 20 13 13 35 060
PENGHARGAAN - Salah seorang peneliti saat memaparkan hasil penelitiannya di hadapan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket.

Kuta, DENPOST.id

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, menyerahkan penghargaan European Union (EU) Star Award kepada empat peneliti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Denpasar, Bali. Penghargaan ini diberikan atas penelitiannya yang berkontribusi terhadap pemantauan iklim dan studi kualitas udara.

Penghargaan EU Star Award diprakasai Delegasi Uni Eropa untuk Organisasiorganisasi Internasional di Wina, Austria. Hal ini sebagai bentuk apresiasi terhadap
kontribusi ilmiah dan teknologi paling signifikan, yang relevan dengan Traktat Pelarangan Menyeluruh Uji Coba Senjata Nuklir (Comprehensive Nuclear Test-Ban Treaty/ CTBT).

Keputusan penghargaan ini telah diumumkan pada ‘CTBT Science and Technology Conference’ 2021, sebuah acara global dua tahunan yang diselenggarakan oleh Komite Persiapan Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organisation (CTBTO), di Wina.
Tim panelis ilmiah dan voting dari peserta telah memilih riset bertajuk ‘Dampak Hari Raya Nyepi dalam Pengukuran Parameter Cuaca di Stasiun Pengamatan Sinoptik di
Bali’ dari 700 riset yang berasal dari seluruh dunia.

Tim peneliti BMKG terdiri dari I Putu Dedy Pratma, Pande Komang Gede Negara, Putu Eka Tulistiawan dan I Ketut
Sudiarta. Hasil penelitian mereka dapat diakses melalui tautan https://conferences.ctbto.org/event/7/contributions/803.

Baca juga :  Serapan Elpiji 3 Kg Stabil, Non-subsidi Malah Anjlok

“Sebuah kehormatan bagi saya menyerahkan EU Star Award kepada tim peneliti BMKG Bali yang luar biasa. Penelitian mereka berkontribusi bagi pemantauan iklim
serta memberikan kita gambaran mengenai kualitas udara perkotaan dan bagaimana kita dapat meningkatkannya melalui langkah-langkah efektif. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya sains dan penelitian dalam menentukan langkah untuk menjawab tantangan terkait isu kesehatan masyarakat, lingkungan hidup dan pertumbuhan yang berkelanjutan,“ ujar Duta Besar Vincent Piket saat penyerahan penghargaan, Selasa (19/4/2022).

Dia berharap agar riset yang telah dilakukan dapat memberikan kontribusi dalam menyusun langkah-langkah peningkatan kualitas udara di kawasan perkotaan demi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Deputi Bidang Geofisika, Suko Prayitno Adi, memaparkan, Nyepi merupakan tradisi umat Hindu yang dikenal dunia dan kemudian menjadi perintis kampanye earth hour untuk meningkatkan kesadaran terhadap masalah perubahan iklim. Nyepi sebenarnya merupakan bentuk perayaan tahun baru yang dilaksanakan dengan cara yang unik. Satu pulau menghentikan aktivitas selama 24 jam dengan aturan Catur Brata Penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menyalakan
api dan lampu), amati karya (tidak bekerja), amati lelungaan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Namun, ada pengecualian untuk sektor-sektor tertentu yang diperbolehkan beraktivitas tanpa keluar ruangan.

Baca juga :  Lewat Diamond Familiarization Bentuk SDM Hotelier yang Unggul dan Kompeten

BMKG yang bekerja 24 jam dan 7 hari dalam seminggu dalam pemantauan cuaca, iklim, dan gempabumi memiliki Unit Pelaksana Teknis yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keberadaan 4 stasiun pengamatan sinoptik di Bali yang tetap bekerja saat Nyepi memantau variabilitas Nyepi dari tahun ke tahun. Tema inilah yang diangkat menjadi sebuah penelitian sederhana dari empat peneliti BMKG di Bali pada acara ‘CTBT Science and Technology Conference’ 2021.

Baca juga :  Demo di DPD Ricuh, PHDI Imbau Warga Tak Terprovokasi

Sebenarnya terdapat satu tulisan lagi yang membahas tentang Nyepi dari sudut pandang seismologi yang diajukan dalam kegiatan tersebut. Namun hanya satu yang berhasil lolos untuk dipresentasikan. “Dari 700 riset yang mengikuti konferensi, terdapat 17 penelitian dari Indonesia dan 13 di antaranya merupakan riset dari BMKG, dan salah satunya berhasil
meraih EU Star Award. Penghargaan ini merupakan penghargaan EU Star Award yang pertama bagi Indonesia,” ujar Suko.

Dipaparkannya, Indonesia telah bekerja sama dengan CTBTO. Salah satu bentuk implementasi dari kerja sama itu adalah pemasangan 6 stasiun seismik Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty Organization (CTBTO) untuk dioperasikan oleh BMKG sejak tahun 2002
silam. “Indonesia merupakan anggota negara perjanjian non-proliferasi nuklir
dan telah menandatangani ratifikasi pelarangan uji coba nuklir bawah tanah. Oleh karena itu, Indonesia berkomitmen untuk ikut melakukan pemantauan uji coba nuklir
melalui sistem monitor seismik yang dioperasikan BMKG,” tandas Suko. (113)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini