Ciri Khas Budaya Loloan Harus Dilestarikan

picsart 22 04 26 11 40 49 504
NGOTEK - Ngotek atau irama musik sahur merupakan salah satu budaya masyarakat Loloan, Jembrana.

Negara, DENPOST.id

Kampung Loloan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Loloan merupakan salah satu wilayah dengan masyarakat muslim terbesar di Bali.
Loloan yang terdiri dari Kelurahan Loloan Timur dan Loloan Barat terletak di Kabupaten Jembrana, berjarak sekitar 90 km dari kota Denpasar dan berjarak 25 km dari Pelabuhan Gilimanuk.

Sungai yang bernama Sungai Ijogading menjadi pemisah kedua wilayah Loloan ini. Masyarakat yang mendiami Desa Loloan didominasi oleh etnis Melayu (Johor, Pahang, Trengganu, Kedah), Bugis (Sulawesi Selatan), Cina, Arab, dan Jawa, selain etnis lokal Bali. Masuknya Islam di Kerajaan Jembrana pada abad ke-17 dan ke-18 menjadi salah satu penyebab adanya keberadaan etnis pendatang di Loloan di mana mewarnai sejarah Kerajaan Jembrana dalam mempertahankan wilayah Jembrana dari penjajahan pada masa itu.

Baca juga :  TMMD ke -110 di Jembrana, dari Bangun Jalan hingga Sumbang Kambing

Banyak kebudayaan dan tradisi terdapat di kampung ini. Selain rumah panggung dan musik hadrah serta kesenian lainnya yang layak dipertahankan, budaya “ngotek” atau irama musik sahur juga menjadi salah satu yang sangat akrab di kampung ini.

Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, usai membuka Festival Irama Musik Sahur, Sabtu (23/4/2022) malam di Perempatan Setra Lelateng Jalan Durian No.8 Lingkungan Pertukangan, Kelurahan Loloan Barat, Kecamatan Negara mengatakan, budaya Loloan yang sangat kental dengan nilai-nilai Islami yang memiliki ciri tersendiri di era keterbukaan seperti sekarang. “Ini adalah ciri khasnya kebudayaan Loloan. Festival Musik Sahur yang diselenggarakan ini tentu memiliki makna yang sangat penting dari tradisi dan budaya yang kita miliki dan kegiatan ini hasilnya sangat positif bisa menumbuhkan kembangkan kreativitas anak – anak muda,” ucapnya.

Baca juga :  TNI Cegah Penyalahgunaan Narkoba Saat Pandemi

Sebagai Bupati, pihaknya akan selalu mendorong agar event seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. “Meski sempat tidak digelar selama dua tahun, akhirnya tahun ini bisa digelar kembali. Kami selaku pemerintah daerah tentu akan selalu mendukung festival ini kedepannya. Ini sebagai langkah kita untuk melestarikan budaya Loloan yang memiliki tradisi yang khas dan unik,” katanya.

Ketua Panitia acara, Aditya Khairul Imam, mengatakan, Festival Musik Sahur merupakan agenda rutin tahunan setiap bulan ramadhan. Sempat vakum 2 tahun belakangan dan tahun ini kembali bisa digelar. “Mengingat situasi pandemi, adapun tahun ini panitia menerapkan aturan pendaftaran sangat ketat terkait prokes, salah satunya seluruh anggota grup wajib melampirkan bukti vaksin tahap 2 untuk kategori anak-anak dan dewasa ini tentu didasari semangat mendukung program vaksinasi pemerintah  khususnya di kalangan kaum milenial. Semoga tahun depan kegiatan ini tetap bisa terlakasana,” harapnya.(120)

Baca juga :  Peringatan Hari Pahlawan di Jembrana Terapkan Prokes

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini