Dituding Gelapkan Aset Koperasi, Rizki Adam Nilai Para Pelapor Tak Paham Aset Digital

picsart 22 04 29 12 25 09 598
Owner PT GSI, Rizki Adam

Padangsambian, DENPOST.id

Laporan dugaan kasus investasi bodong berkedok koperasi yang dilakukan PT Goldcoin Sevelon Internasional (GSI) masih dalam penanganan aparat Polresta Denpasar. Sementara bos PT GSI, Rizki Adam, kembali angkat bicara menyikapi pernyataan puluhan member yang melayangkan laporan ke polisi.

Setelah sempat berjanji akan mengembalikan modal dan aset para member dengan tempo enam bulan, Rizki Adam juga menilai para pelapor dan kuasa hukumnya, I Wayan Mudita tidak paham dunia aset digital. Dia menyebutkan, aset digital Bali Token dan Goldcoin telah didistribusikan ke berbagai kantor wilayah dan kantor cabang di seluruh Indonesia sejak 17 Maret 2022. “Biar mereka paham. Semua aset digital para holder Bali Token telah didistribusikan kepada Kantor Wilayah dan Kantor Cabang di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Rizki Adam kepada wartawan, Jumat (29/4/2022).

Rizki Adam membeberkan, sebelum surat pencabutan izin usaha dari Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diterima pihak Manajemen Koperasi yang dibuktikan dengan surat edaran Koperasi Keluarga Goldcoin No : 0042/SE-KKKGI/III/2022 tanggal 17 Maret 2022, satu orang yang melakukan penyertaan modal sebesar Rp 1.000.000 mendapatkan pengembalian Rp 150.000.000 BLI atau aset digital Bali Token.

Dia pun sangat menyayangkan adanya oknum yang diduga kuat menjadi provokator atas pelaporan member ke polisi. Rizki kembali menegaskan, PT Goldcoin Savelon Internasional tidak pernah melakukan kegiatan investasi bodong sepeti yang dituduhkan.

Baca juga :  Keluarga Kapten I Gede Kartika akan Gelar Upacara Ngaben di Karangasem

Dikatakannya, PT GSI adalah perusahaan konsultasi bisnis dan manajemen dikarenakan industri aset digital di Indonesia masih baru sehingga PT GSI mengambil peluang tersebut untuk mengedukasi dan memberikan gambaran kepada masyarakat Indonesia seperti apa dunia aset digital.
Bahkan, Rizki Adam menyebut PT GSI telah mendapatkan sertifikasi ISO Manajemen 9001 : 2015 di bidang Penyediaan Layanan Keanggotaan.

Sejak permintaan penghentian aktivitas melalui meeting Zoom bersama SWI OJK pada 3 Februari 2022, manajemen koperasi langsung menghentikan kegiatan dan aktivitas pumping charity yang dimaksud.

Baca juga :  Apotek Kimia Farma Batuan Dirampok

“Namun, karena ketidakpahaman anggota koperasi serta banyaknya provokator dan agen-agen yang tidak mau bermasalah, maka semua menunjukkan kesalahan kepada manajemen Koperasi Keluarga Goldkoin,” ucapnya.

Saat ini Aset Digital Bali Token (BLI) dan Goldcoin (GLC) mengalami koreksi yang luar biasa akibat panic sell yang dilakukan oleh anggota koperasi.

“Para pelapor Goldcoin bodong di Bali adalah oknum-oknum yang mau cuci tangan atau leader-leader yang telah mencoreng nama perusahaan. Agen dan asesor termasuk pelapor kepada kepolisian itu telah mendapatkan fasilitas dan penghasilan yang lumayan selama menjadi tenaga pengajar dan agen,” cetus pria asal Padang yang beralamat di Jakarta ini.

Karena edukasi yang salah dan iming-iming dari para leader, para member akhirnya tergiur dan berani sampai menggadai harta benda mereka. Padahal, di koperasi sudah sangat jelas ada aturan tidak boleh menggunakan dana pinjaman, dana hasil gadai, maupun dana panas lainnya.

Selain itu juga, semua anggota diwajibkan untuk menandatangani pernyataan aktivitas berisiko tinggi agar di kemudian hari tidak menyalahkan manajemen koperasi akibat kerugian yang diderita. Setelah adanya penutupan usaha semua anggota diarahkan oleh para agen-agen, atau asesor (tenaga pengajar) yang ingin cuci tangan.

Baca juga :  Pesan Peringatan Tsunami Beredar, Ternyata Ini yang Terjadi

Padahal, lanjut Rizki Adam, agen dan asesor telah mendapatkan fasilitas dan penghasilan lumayan selama menjadi tenaga pengajar dan agen. Ia menyebut salah seorang asesor sekaligus Komisaris PT Bali Token menerima komisi sampai Rp 176 juta. Ada juga asesor PT GSI mendapat upah jasa agen dan pengajar Rp 140 juta.

“Saat ini yang terjadi jika Bali Token dan Goldcoin terus dijual maka harga akan terus merosot. Namanya floating loss kalau dijual baru cut loss atau benar-benar rugi,” jelasnya.

Sementara Kapolresta Denpasar,.AKBP Bambang Yugo Pamungkas, yang dimintai konfirmasi terkait hasil penyelidikan dugaan kasus investasi bodong itu enggan memberikan komentar. “Ya masih dalam penyelidikan. Saya belum bisa komentar, mohon maaf ya,” ujarnya singkat. (124)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini