Usaha Dodol Buah di Besan, Klungkung Bangkit Lagi

picsart 22 04 29 14 56 11 079
DODOL - Usaha dodol buah di Desa Besan, Dawan, Klungkung mulai berproduksi setelah vakum akibat pandemi Covid-19.

Semarapura, DENPOST.id

Usaha pembuatan dodol buah di Kabupaten Klungkung mulai bangkit setelah sempat vakum selama hampir 1,5 tahun akibat pandemi Covid-19. Seperti terlihat di
Banjar Kawan, Desa Besan, Kecamatan Dawan, industri rumahan tersebut mulai berproduksi sejalan dibukanya pintu pariwisata. Meski tak seramai dulu, namun pesanan mulai datang.

Ni Nengah Yuliati, salah seorang pembuat dodol di Desa Besan mengaku tak pernah menyangka usaha yang dirintisnya sejak belasan tahun tersebut nyaris gulung tikar karena Covid-19. Aneka dodol buatannya tak laku di pasaran. Hingga akhirnya ia memutuskan tutup produksi dan mencoba banting setir dengan berjualan tipat (sarana upacara).

“Hasil dari menjual tipat juga tidak seberapa, karena keuntungannya sangatlah kecil,” ungkap Yuliati, Jumat (29/4/2022).

Beruntung masa-masa sulit tersebut kini berangsur membaik. Semenjak vaksinasi Covid-19 terus digulirkan oleh pemerintah, kepercayaan pasar turut bangkit. Berlahan-lahan, tepatnya di awal tahun 2021 pesanan dari konsumen sudah mulai datang. Utamanya, dari toko oleh-oleh khas Bali yang berlokasi di Denpasar.

Baca juga :  Desa Adat Kusamba Gelar Ngaben Massal Agustus 2022

Saat ini saja Yuliati mengaku tengah sibuk menyiapkan pesanan 1.000 buah dodol pisang dan 900 dodol salak. Selain memenuhi pesanan toko oleh-oleh, dodol tersebut juga akan dipasarkan di pasar-pasar tradisional dan masyarakat sekitar.

“Kalau dulu sebelum Covid-19, saya tiap tiga hari sekali buat pesanan 3.000 biji dodol untuk toko oleh-oleh saja. Apalagi kalau jelang Idul Fitri seperti sekarang, biasanya saya pasti sudah kewalahan menyiapkan pesanan. Tapi sekarang, pesanan hanya sedikit-sedikit. Walaupun sedikit, kami sudah sangat bersyukur,” ujarnya.

Baca juga :  Gilir Anak di Bawah Umur, Empat Pemuda Ditangkap

Selain masih terimbas Covid-19, saat ini produksi dodol juga terkendala oleh bahan baku. Buah nangka belum memasuki musim panen, sehingga sangat sulit dicari. Sebagai alternatif, Yuliati berinovasi dengan membuat dodol pisang dan salak. Selain itu, harga bahan baku lainnya juga semakin tinggi.

Yuliati mencontohkan, harga gula sudah merangkak mencapai Rp 650 ribu persak (50 kilogram). Padahal sebelumnya harga gula berkisar Rp 550-620 ribu saja. Selain itu, kertas pembungkus yang sebelumnya harganya Rp 20 ribu pergulung, sekarang sudah Rp27 ribu per gulung.

“Kalau bahan baku salak dan pisang mungkin masih dapat saya beli murah, tapi untuk gula, sampai plastik sekarang semua naik harganya. Jadi proses pembuatan dodol ini makan biaya produksi yang tinggi sekali. Belum lagi biaya gas untuk memasaknya,” keluhnya.

Baca juga :  BTB Sebut Hotel Aktif Masih di Bawah 50 Persen

Melonjaknya berbagai bahan baku tersebut, sering membuat Yuliati dilema. Di satu sisi ingin menaikkan harga jual, namun di sisi lain ia takut ditinggalkan pelanggan. Sebagai solusi, Yuliati memilih untuk mengecilkan ukuran dodol buatannya. Dengan cara demikian, dirinya masih bisa menjual dodol dengan harga tetap yakni Rp75 ribu per 100 biji.

“Untuk menghemat biaya produksi, saya juga tak mempekerjakan karyawan. Mulai dari pengupasan pisang dan salak, perebusan, hingga pengemasan dilakukan bersama-sama oleh anggota keluarga saja,” katanya. Dia
berharap situasi perekonomian segera pulih. (119)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini